Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PTPN VII Pacu Pendapatan Melalui Maksimalisasi Aset

PTPN VII (Persero) menargetkan dapat kembali meraih untung dalam bisnis perkebunan pada 2021 setelah terus mengalami kerugian sejak 2014.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 30 Oktober 2019  |  14:20 WIB
Direktur Utama PTPN VII (Persero) Muhammad Hanugroho (kiri) memberikan pemaparan terkait kinerja perusahaan. - Bisnis/Dinda Wulandari
Direktur Utama PTPN VII (Persero) Muhammad Hanugroho (kiri) memberikan pemaparan terkait kinerja perusahaan. - Bisnis/Dinda Wulandari

Bisnis.com, PALEMBANG – PTPN VII (Persero) menargetkan dapat kembali meraih untung dalam bisnis perkebunan pada 2021 setelah terus mengalami kerugian sejak 2014.

Direktur Komersil PTPN VII (Persero), Achmad Sudarto, mengatakan sebetulnya potensi meraih cuan diproyeksi dapat tercapai pada tahun depan.

“Target kami 2020 harus bisa untung, tapi ternyata dengan kondisi penurunan harga CPO (crude palm oil) yang signifikan jadi mundur, sepertinya jadi 2021,” katanya kepada wartawan, Rabu (30/10/2019).

Sudarto mengatakan banyak upaya yang sedang dan akan dilakukan pihaknya untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

Salah satunya, kata dia, perusahaan melakukan revitalisasi aset dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk dikerjasamakan dengan pihak ketiga.

“Intinya kami ingin mengurangi defisit cashflow dulu, kami juga melakukan efisiensi tetapi tetap gaji karyawan kami bayar tepat waktu,” katanya.

Sementara itu Direktur Utama PTPN VII, Muhammad Hanugroho, mengatakan bahwa problem utama pihaknya saat ini adalah masalah keuangan di samping masalah operasional.

Pasalnya, kata dia, hutang perseroan saat ini sudah mencapai Rp12 triliun. Hutang masa lalu PTPN VII itu digunakan perusahaan untuk investasi yang cukup massif sepanjang kurun 2008—2014.

“Kami melakukan peremajaan sawit, karet, termasuk ada beberapa investasi di pabrik gula untuk revitialisasi. Memang tanaman yang direplanting banyak, tetapi saat itu tidak bisa menutupi jumlah investasi,” jelasnya.

Hanu menjelaskan hutang yang ditanggung perusahaan tidak hanya bersumber dari perbankan, melainkan juga hutang kepada supplier atau mitra kerja perusahaan yang beroperasi di Sumsel, Lampung dan Bengkulu itu.

Menurut dia, restrukturisasi hutang sudah dilakukan PTPN VII sebanyak tiga kali, terhitung dari 2016—2018. Kita punya hutang tidak hanya perbankan, tapi juga supplier, itu juga restrukturisasi.

Hanu mengatakan pihaknya menargetkan dapat berada di posisi recovery keuangan sekitar 2 tahun hingga 3 tahun ke depan.

“Dengan catatan sepanjang usulan yang kami ajukan ke pemegang saham disetujui. Ada beberapa program rescue yang telah kami susun tetapi saya belum bisa paparkan sekarang,” katanya.

Diketahui, perusahaan perkebunan pelat merah itu memiliki bisnis di empat komoditas, yakni kelapa sawit, karet, tebu dan teh. Adapun kelapa sawit menjadi backbone perusahaan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumsel ptpn vii
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top