TPID Sumsel Waspada Potensi Peningkatan Inflasi

Potensi kenaikan inflasi datang dari libur akhir tahun dan cuaca kering yang berkelanjutan.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 12 September 2019  |  04:15 WIB
TPID Sumsel Waspada Potensi Peningkatan Inflasi
Aktivitas pedagang dan konsumen di pasar tradisional, Peunayong, Banda Aceh, Aceh, Jumat (11/1/2019). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, PALEMBANG – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatra Selatan (Sumsel) waspada terhadap potensi peningkatan inflasi selama 3 bulan ke depan, meski saat ini masih terkendali.
 
Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumsel Yunita Resmi Sari mengatakan terdapat sejumlah momentum yang dapat memicu terjadinya inflasi pada kurun waktu tersebut.
 
“Menjelang akhir tahun, kita tahu ada momen Natal dan libur Tahun Baru. Berdasarkan data historis, inflasi kita biasanya meningkat saat hari libur,” tuturnya kepada Bisnis usai high level meeting TPID Sumsel 2019, Rabu (11/9/2019).
 
Sari memaparkan kecenderungan terjadinya inflasi pada bulan-bulan pengujung tahun karena adanya lonjakan permintaan, terutama di komoditas yang biasa menyumbang terjadinya inflasi di Sumsel. Komoditas tersebut berasal dari kelompok volatile foods seperti daging ayam ras dan telur ayam.
 
“Memang kalau saat ini, harga kedua komoditas itu cenderung stabil karena lagi oversupply. Tetapi, kita tetap harus waspada pada bulan selanjutnya saat konsumsi meningkat,” ucapnya.
 
TPID Sumsel juga mencermati musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan kebakaran dan kekeringan lahan karena berpotensi mengganggu jalur distribusi serta produksi hortikultura di Sumsel. Oleh karena itu, sambung Sari, perlu dilakukan antisipasi dan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumsel dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumsel.
 
Meski mendeteksi sejumlah pemicu inflasi, bank sentral optimistis laju inflasi Sumsel dapat terkendali dan bahkan masuk di batas bawah target inflasi yang telah ditetapkan, yakni sebesar 3,5 persen plus minus 1 persen.
 
“Apalagi, kalau kita lihat perkembangan inflasi hingga Agustus 2019 year-to-date (ytd) mencapai 1,6 persen,” sebutnya.
 
Pemerintah Provinsi Sumsel meminta TPID dapat melakukan langkah konkret dalam rangka stabilisasi harga komoditas di provinsi itu. Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya menambahkan TPID untuk memperhatikan komoditas-komoditas pemicu inflasi, seperti cabai dan beras.
 
“Kami melihat ke depan upaya pengendalian inflasi daerah perlu difokuskan ke komoditas seperti cabai, telur ayam, daging ayam ras, bawang merah, beras, serta angkutan udara,” terangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, sumsel

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top