OKI Dorong Optimalisasi Sawah untuk Swasembada Beras

Selama ini Kabupaten OKI telah menjadi pemasok beras bersama kabupaten lain di Sumsel untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek).
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  12:08 WIB
OKI Dorong Optimalisasi Sawah untuk Swasembada Beras
Petani menanam bibit padi pada musim tanam di Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatra Selatan, Jumat (5/5). - Antara/Feny Selly

Bisnis.com, PALEMBANG – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, mendorong swasembada beras dengan optimalisasi budidaya pertanian di daerah itu.

Wakil Bupati OKI M. Djakfar Shodiq mengatakan sebelumnya petani di OKI hanya bisa satu kali tanam dalam setahun.

Oleh  karena itu pembangunan jaringan irigasi dan mekanisasi pertanian diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani.

“Kami berkomitmen untuk membangun ketahanan pangan melalui pemberdayaan kelompok tani agar produksi semakin meningkat,” katanya dalam keterangan pers, Kamis (1/8/2019).

Menurut Djakfar, selama ini Kabupaten OKI telah menjadi pemasok beras bersama kabupaten lain di Sumsel untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek).

“Kami mendorong produktivitas lahan di OKI semakin meningkat tahun 2018 dari luas tanam sebanyak 16.144 Ha mampu produksi sebanyak 834.833 ton GKG [gabah kering giling],” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan pihaknya ingin petani di OKI lebih serius menggarap lahannya. Gubernur juga ingin sektor pertanian mampu menurunkan angka kemiskinan.

“OKI jadi andalan kita dalam pertanian. Saya ingin petani di Sumsel harus serius dalam menggarap lahan, saya ingin serius untuk meningkatkan produktivitas pertanian agar angka kemiskinan mampu kita turunkan,” katanya.

Pemerintah menurut Deru akan terus mendukung optimalisasi pertanian. Dia berujar, Kementan dan pemerintah daerah telah menyediakan berbagai bantuan baik berupa fasilitas infrastruktur, sarana dan alat mesin pertanian.

“Program yang dikembangkan ini adalah wujud pertanian modern, berbeda dengan tradisional, jadi yang ini full mekanisasi. Ada pompanisasi serta tak kalah penting adalah manejemen usaha dari koperasi menjadi korporasi,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel, sawah

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top