Ketika Petani OKI Tak Lagi Buka Sawah dengan Membakar

Sawah di sini hanya bisa satu kali tanam, jika lahan terus dibakar atau menggunakan kimia maka semakin tidak subur
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  14:20 WIB
Ketika Petani OKI Tak Lagi Buka Sawah dengan Membakar
Petani memanen padi - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, PALEMBANG--Bencana kabut asap parah yang terjadi 2015 lalu telah membuat Sugeng Rianto, petani di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, tak mau lagi menyulut api untuk membuka lahan sawahnya.

Pria yang menggarap sawah tadah hujan itu mengatakan sebelumnya dia dan petani lain yang ada di Desa Simpang Heran, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI selalu membakar rumput yang tumbuh di ladangnya sebagai persiapan bercocok tanam.

“Rumput di sini tumbuhnya tinggi bisa 1 meter hingga 3 meter makanya biasa dibakar petani lalu didiamkan saja sampai nanti lahan siap ditanami padi kembali,” katanya ketika media sharing terkait Desa Masyarakat Peduli Api (DMPA) yang dibentuk APP Sinar Mas, di Sungai Baung, Kabupaten OKI, Selasa (30/7).

Sugeng mengemukakan kesadaran untuk tak lagi membakar lahan muncul setelah ia menyaksikan bagaimana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah berdampak buruk dan merugikan masyarakat banyak. Apalagi, dia menyadari lambat laun teknik membuka lahan dengan cara dibakar juga merusak sawahnya.

Awalnya, Sugeng menghentikan teknik bakar lahan dengan menyemprot herbisida sehingga rumput yang tumbuh tinggi bisa mati. Namun dia mengaku tak lama menerapkan cara tersebut karena belakangan Sugeng mendapat ilmu baru yang memanfaatkan rumput dan sisa panen menjadi kompos alias pupuk organik.

Menurut dia, kualitas lahan sawah di desanya rentan menurun bahkan untuk melakukan tanaman selingan petani seringkali kesulitan.

“Sawah di sini hanya bisa satu kali tanam, jika lahan terus dibakar atau menggunakan kimia maka semakin tidak subur, makanya saya beralih ke pertanian organik,” katanya.

Kini, Sugeng mengaku telah menerapkan pertanian organik untuk sawah garapannya seluas 2 hektare tersebut. Pupuk kompos, pupuk organik cair (POC) dan pestisida nabati adalah senjata Sugeng untuk merawat padi yang ditanamnya.

Dia mengemukakan sejak menggunakan bahan-bahan alami terjadi peningkatan produktivitas sawahnya. Biasanya saat panen Sugeng mengantongi sekitar 37 karung gabah kering panen (GKP) atau setara 2,7 ton – 2,9 ton per hektare.

Sementara dengan pertanian organik, Sugeng bisa panen 43 karung GKP atau setara 3,2 ton sampai 3,4 ton per ha.

“Semua komponen itu saya buat sendiri, hitungannya lebih irit. Memang lebih repot, persiapannya lebih lama dibanding pake kimia cuma sawah bisa lebih subur,” katanya.

Serupa dengan Sugeng, Sukari petani di Desa Srijaya Baru, menerapkan pertanian organik dengan komposisasi. Bahkan, dirinya juga memelihara kambing yang air seninya dapat diolah kembali menjadi POC.

Sukari mengatakan kebiasaan membakar lahan di kampungnya mulai berkurang apalagi setelah PT Bumi Andalas Permai (BAP), pemasok bahan baku untuk APP Sinar Mas, membina petani lewat program DMPA.

Pembuatan pupuk kompos dari rumput, POC hingga fermentasi pakan ternak merupakan bagian dari pendampingan yang diberikan perusahaan kepada petani. Perusahaan meyakini jika adanya pemberdayaan kepada masyarakat sekitar yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka maka bisa mencegah karhutla.

Namun demikian, kata Sukari, tak semua petani mau beralih ke teknik bercocok tanam organik. Sebagian masih ada yang menggunakan bahan kimia dan segelintir menyambut masa tanam dengan membakar lahan.

Dia menjelaskan masih ada anggapan di kalangan petani bahwa pertanian organik itu merepotkan dan persiapannya memakan waktu lebih lama.

Dia mencontohkan untuk membuat pupuk kompos memerlukan waktu 21 hari, sementara untuk POC dan pestisida nabati sekitar 14 hari.

“Pertanian organik itu ribet, banyak makan tenaga dan waktu. Beda dengan pertanian kimia, sudah ditabur langsung kelihatan hasilnya. Tetapi, mereka tidak memikirkan jangka panjang. Daripada semprot-semprot dan dibakar, mending rumputnya kita olah, ” katanya.

Mengubah Paradigma Bakar Lahan

Head of Social & Security Sinar Mas Forestry Region Palembang, Zulhadi Aziz, mengatakan Desa Makmur Peduli Api (DMPA) dibentuk untuk mengubah paradigma masyarakat, terutama yang berada di wilayah rawan karhutla, terkait teknik pembukaan lahan dengan dibakar.

“Mengubah paradigma ini tidak mudah karena berkaitan dengan kultur masyarakat, tetapi pelan-pelan kami kembangkan program yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat dan dapat menurunkan karhutla,” katanya.

Dia mengatakan DMPA menyasar desa yang berada dalam radius 5 kilometer dari wilayah konsesi perusahaan, juga desa yang seringkali dilintasi perusahaan dalam aktivitas bisnisnya.

Menurut Aziz, pihaknya menyesuaikan setiap program dengan mata pencarian utama masyarakat setempat. Seperti di Desa Simpangheran, BAP menelurkan teknik komposisasi bagi petani padi.

“Permasalahan petani itu umumnya hasil produksi yang rendah dan rentan dengan hama. Kami membantu mereka lewat sosialisasi, pendampingan, dan pemberian bantuan alat-alat seperti saprodi sekaligus mengedukasi mereka agar meninggalkan teknik pembukaan lahan dengan dibakar,” katanya.

Program optimalisasi sawah merupakan kegiatan DMPA yang cukup luas, di mana telah menjangkau 102 hektare lahan petani yang tersebar di berbagai desa di Kabupaten OKI.

Sementara, untuk kegiatan industri rumahan, perusahaan umumnya membantu kegiatan produksi dan kegiatan pemasaran.

Di Desa Bukit Batu dan Simpangheran Kabupaten OKI, produk DMPA yang dihasilkan dari desa tersebut antara lain keripik singkong, keripik pisang, dan keripik tempe.

“Ada juga di Desa Pantai, kami membantu masyarakat untuk membuka peluang usaha baru tanpa perlu pergi ke hutan. Dengan begitu, potensi kebakaran hutan pun dapat ditekan,” katanya.

Hingga akhir 2018 lalu, program DMPA di Kabupaten OKI telah memberikan pendampingan terhadap 27 desa dengan target tambahan 14 desa hingga akhir tahun 2019.  

Fire Operation Management Head Sinar Mas Forestry Region Palembang, Mares Prabadi mengatakan, untuk menghadapi musim kemarau 2019  perusahaan mengintensifikasi kegiatan sosialisasi, menyiagakan lebih banyak SDM, dan menambah beberapa fasilitas di OKI.

Penambahan tersebut dilakukan untuk mendukung dua strategi utama yang diterapkan perusahaan dalam mengantisipasi karhutla, yakni pencegahan dan mitigasi. 

Strategi Pencegahan

Dia mengatakan strategi pencegahan di antaranya dilakukan dengan meningkatkan kerja sama dengan masyarakat. Melalui program Masyarakat Peduli Api (MPA), perusahaan bersama dengan kelompok masyarakat melakukan kegiatan sosialisasi pencegahan karhutla.

Sementara, melalui program DMPA perusahaan mengedukasi masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar.

“Hingga tahun 2019, perusahaan telah memiliki 448 anggota MPA di Kabupaten OKI. Prinsipnya dari masyarakat untuk masyarakat,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel, kebakaran lahan

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top