PLTBm Sekam Padi di Sumsel Beroperasi Kuartal III/2019

Pembangkit listrik tenaga biomassa atau PLTBm yang berasal dari sekam padi di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan, milik PT Buyung Poetra Sembada Tbk ditargetkan beroperasional pada Kuartal III/2019.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 24 April 2019  |  19:45 WIB
PLTBm Sekam Padi di Sumsel Beroperasi Kuartal III/2019
PLTBm Sekam Padi di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan, yang dibangun oleh PT Buyung Poetra Sembada Tbk - Bisnis/Dinda Wulandari

Bisnis.com, PALEMBANG ---Pembangkit listrik tenaga biomassa atau PLTBm yang berasal dari sekam padi di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan, milik PT Buyung Poetra Sembada Tbk ditargetkan beroperasional pada Kuartal III/2019.

PLTBm yang memanfaatkan limbah padi itu berkapasitas 3 megawatt (MW) yang bakal digunakan produsen beras tersebut untuk kebutuhan pabrik perseroan.

Project Manager Pembangunan PLTBm Sekam Padi PT BPS, Solihin, mengatakan pembangkit dengan energi baru terbarukan (EBT) itu bakal menjadi solusi utama dalam menangani limbah kulit padi dari pabrik penggilingan.

“Selama ini sekam padi itu ditumpuk saja tidak digunakan, mau dibakar juga tidak boleh. Limbah selalu jadi masalah buat pabrik. Dengan membuat pembangkit listrik tenaga sekam tersebut maka masalah utama kami teratasi dan kami juga bisa memproduksi listrik untuk kebutuhan sendiri,” katanya, Rabu (24/4/2019).

Solihin mengatakan secara fisik, pembangunan PLTBm yang letaknya terintegrasi dengan pabrik penggilingan beras itu sudah sesuai jadwal proyek.

“Setelah fisik selesai harus menunggu izin keluar dulu, seperti izin dari KLH dan izin operasional. Targetnya Kuartal III/2019 sudah resmi beroperasi,” katanya.

Dia menambahkan perseroan menggelontorkan investasi sekitar US$1,5 juta – US$17 juta atau setara Rp20 miliar per MW untuk pembangunan proyek energi itu.

Sementara itu, Manager Utility PT BPS Rudy Rinaldy mengatakan progress pembangunan PLTBm sudah mencapai 95% per April 2019.

“Kami mulai pembangunan pada awal 2018 lalu dan saat ini semua sudah terpasang, seperti equipment, electrical dan lainnya,” katanya.

Rudy menjelaskan sekam padi dari penggilingan beras bermerek Topi Koki itu cukup banyak di mana mencapai 120 ton per hari dari kapasitas pabrik 600 ton per hari.

Limbah tersebut dihitung dapat menggerakkan pembangkit berkapasitas 3 MW itu di mana untuk kebutuhan pabrik sebanyak 2,5 MW dan 0,5 MW akan dipakai untuk operasional power plant itu sendiri.

Menurut Rudy, biaya operasional PLTBm nantinya dapat efisien karena letak bahan bakar berada persis di sebelah pabrik, sehingga membuat BPS bisa menjadi perusahaan beras terintegrasi.

“Bahan bakar sekam padi yang kami kembangkan ini sangat tepat karena idak terpakai dan kemudian menumpuk di satu titik sehingga tidak ada biaya transportasi lagi,” katanya.

Rudy menambahkan jika nanti ada kelebihan energi, pihaknya tertarik untuk menjual ke PT PLN (Persero) dengan skema harga excess power untuk menghitung return on investment dari proyek tersebut.

Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mendukung pembangunan PLTBm yang dibangun emiten berkode HOKI itu.

Asisten Deputi Sumber Daya Mineral, Energi dan Nonkonvesional Amalyos mengatakan apabila terwujud maka Indonesia akan memiliki PLTBm sekam padi pertama yang dibangun oleh swasta.

Menurut dia, pembangunan PLTBm 3 MW itu juga mendorong pencapaian target pemenuhan pasokan listrik dari sumber bioenergi sebesar 5,5 GW pada tahun 2025.

"Kami berharap apa yang sudah diinisiasi oleh BPS ini nanti dapat dukungan penuh dari semua pihak," ucapnya.

Pembangunan PLTBm sekam padi yang sedang dibangun oleh PT. BPS itu juga diharapkan dilaksanakan dengan tetap memperhatikan pemenuhan terhadap seluruh ketentuan peraturan yang disyaratkan.

“Kami akan terus mengawal tahap pembangunan PLTBm Sekam Padi hingga ke tahap operasional,” katanya.

Kepala Bidang Sumber Daya Non Konvensional Kemenko Kemaritiman, Fatma Puspita Sari, mengatakan sekam padi yang selama ini menjadi limbah akan sangat bermanfaat bila bisa dijadikan sebagai pembangkit listrik.

"Selain untuk mencapai target bauran energi terbarukan 23%, dampak langsungnya adalah menghilangkan limbah sekam,” katanya.

Dia mengatakan selama ini  sekam dimusnahkan dengan cara dibakar. Jika ribuan ton sekam dibakar maka sangat berpotensi mencemari udara hingga menjadi kebakaran lahan.

Sekretaris Daerah Kabupaten OI Herman mengatakan  pengembangan PLTBm selain berdampak positif bagi lingkungan juga dapat berdampak baik bagi masyarakat sekitar, yaitu tingkat kesejahteraan masyarakat bertambah, mengurangi angka pengangguran dan angka kriminalitas menurun.

“Harapan saya, ini dapat menjadi contoh di tempat-tempat lain, khususnya di daerah-daerah yang menjadi lumbung padi dan punya masalah dalam membersihkan sekam padi,” katanya.

Herman mengatakan Ogan Ilir merupakan salah satu lumbung padi Sumsel. Diketahui Pemkab OI juga sudah bekerja sama dengan Kementerian Pertanian yaitu untuk mencetak sawah-sawah baru.

Tercatat sekitar 40.000 hektare luas lahan di Kabupaten Ogan Ilir, dan telah dicanangkan seluas 10.000 ha.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel, energi terbarukan, biomassa

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top