Sebagian Hasil Panen Cabai Nagan Raya Rusak

Hasil panen cabai merah petani di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh sebagian besar rusak dan membusuk di batang akibat musim kemarau yang melanda daerah setempat.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 28 Februari 2019  |  23:17 WIB
Sebagian Hasil Panen Cabai Nagan Raya Rusak
Ilustrasi tanaman cabai merah - Antara/Saiful Bahri

Bisnis.com, NAGAN RAYA – Hasil panen cabai merah petani di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh sebagian besar rusak dan membusuk di batang akibat musim kemarau yang melanda daerah setempat.

Petani cabai Desa Ujong Sikuneng, Kecamatan Kuala, Muhammad Zaman, di Nagan Raya, Kamis, mengatakan, hampir dua bulan terakhir suhu udara di daerah ini cenderung panas, kaena tidak ada hujan pada siang hari.

"Kondisi itu mengakibatkan pertumbuhan batang cabai tidak baik, kemudian bunga cabai luruh dari batang. Kalau pun ada yang melekat tetapi kondisinya keriting dan membusuk di batang dan tidak lagi dipanen," katanya pada Kamis (28/2/2019)..

Biasanya produksi cabai di lahannya bisa mencapai 1,5 kilogra per batang, namun selama musim kemarau sangat mempengaruhi pada produktivitas tanaman, selama panen dalam dua pekan terakhir, hanya menghasilkan 0,5 kilogram per batang.

Zaman, menjelaskan hal itu disebabkan oleh pertumbuhan batang tanaman yang tidak optimal karena kekurangan air, cabai yang keluar dari setiap cabang hanya sedikit bahkan cenderung keriting dan membusuk ditambah lagi serangan hama.

"Sudah hampir dua bulan ini jarang hujan, biasanya per batang ini ada sekitar 1 kilogram sampai dengan 1,5 kilogram cabai, selama kemarau paling cuma dapat 0,5 kilogram," ujarnnya sambil memperlihatkan bunga cabai yang banyak berguguran.

Selain kekeringan, serangan hama penyakit juga tidak bisa dimusnahkan, kondisi ini membuat pertumbuhan cabai di batang semakin buruk, demikian halnya beberapa batang cabai terlihat mengerut dan kecil.

"Biasanya dari bibit cabai yang kita tanam, ini tumbuh batangnya tinggi - tinggi, tapi ini sudah jadi rendah semua, karena sedang kering, tanahnya juga kering, biasanya kalau sering hujan tanahnya lembab," katanya lagi.

Sumber air yang jauh dari lokasi perkebunan pun juga menyulitkan petani cabai setempat ketika dilanda musim kemarau. Kebunnya tersebut juga jauh dari aliran sungai, kalaupun digunakan air sumur tetap saja tidak maksimal.

Ditemui di sela-sela kesibukannya menyortir cabai di batang cabai pada area lahan seluas setengah hektare itu, Zaman, mengeluh karena tidak dapat menikmati hasil panen yang maksimal, padahal sudah banyak modak dikeluarkan untuk usaha itu.

Terlebih lagi, saat ini harga tampung cabai petani ditingkat agen lokal sangat rendah, hanya berkisar Rp10.000/ kg, itu pun belum dipotong dengan harga susut sehingga petani sangat merasa rugi selama jatuhnya harga komoditas tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cabai

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top