Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rentan Gempa, Ternyata Banda Aceh Diapit Dua Segmen

Hasil penelitian para geologi menemukan Kota Banda Aceh berada diantara dua sesar Sumatra yang masih aktif, yaitu patahan Segmen Aceh dan Segmen Seulimum.
Abdul Hadi Firsawan
Abdul Hadi Firsawan - Bisnis.com 03 Januari 2019  |  22:00 WIB
Kota Banda Aceh - Istimewa
Kota Banda Aceh - Istimewa

Bisnis.com, BANDA ACEH - Hasil penelitian para geologi menemukan Kota Banda Aceh berada diantara dua sesar Sumatra yang masih aktif, yaitu patahan Segmen Aceh dan Segmen Seulimum.

Patahan Segmen Aceh dan Segmen Seulimeum merupakan bagian dari patahan Sumatera dari Teluk Semangko di Lampung yang menerus sampai ke Provinsi Aceh.

Peneliti dari Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala Ibnu Rusydy mengutip penelitian terdahulu menyebutkan,

Segmen Aceh sudah 170 tahun tidak menghasilkan gempa bumi dan berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan magnitudo 7.

Prediksi kekuatan gempa yang bisa dihasilkan Segmen Aceh tersebut juga dimuat dalam Buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017.

Melihat potensi gempa hingga 7 magnitudo di Kota Banda Aceh, Rusydy membuat model gempa bumi dari Segmen Aceh dan Segmen Seulimeum serta memprediksi kerusakan bangunan yang akan terjadi di Kota Banda Aceh.

Ia melakukan pendataan jenis bangunan, jumlah lantai, kondisi geologi tempat bangunan berdiri, dan pengaruh likuifaksi, untuk memprediksi tingkat kerusakan.

"Dari permodelan itu, kalau terjadi gempa dengan magtitudo 7 mw dari Segmen Aceh, diperkirakan bangunan di Banda Aceh akan rusak antara 40% hingga 80%," kata Rusydy dalam keterangan pers yang diterima Bisnis, Rabu (2/1/2019) di Banda Aceh.

Sementara jika terjadi gempa dengan kekuatan yang sama bersumber dari Segmen Seulimeum, diperkirakan bangunan akan mengalami kerusakan antara 20% hingga 60%.

Kemungkinan terburuk jika terjadi gempa pada malam hari, kawasan padat penduduk seperti Kecamatan Kuta Alam dan Syiah Kuala, dikhawatirkan memakan banyak korban. Karena masuk dalam daerah rawan, ia merekomendasikan setiap rumah yang dibangun di Banda Aceh mengikuti kaidah bangunan tahan gempa.

"Kemudian juga perlu dibuat studi bawah permukaan terkait kondisi tanah sebelum suatu kawasan dilakukan pembangunan. Survei Bathimetri laut di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar juga harus dilakukan untuk melihat ada tidaknya potensi longsor yang bisa memicu tsunami akibat longsor bawah laut," tutur peneliti yang juga pengajar di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala ini.

Dilihat dari kondisi geologi, Kota Banda Aceh berdiri di atas cekungan yang berumur holosen atau sekitar 10.000 tahun.

Cekungan yang diberi nama cekungan Krueng Aceh ini dinilai muda berdasarkan umur geologi.

Cekungan Krueng Aceh membentang dari Kawasan Aceh Besar sampai ke Kota Banda Aceh.

Cekungan Krueng Aceh terbentuk dari endapan alluvial yang terdiri dari kerikil, pasir, lanau, dan lempung.

Endapan alluvial yang berumur holosen tidaklah padat, melainkan lunak. Rusydy menjelaskan, kelunakan endapan alluvial muda akan menyebabkan terjadinya amplifikasi gelombang gempa bumi.

Karena rentan terhadap amplifikasi dan diapit oleh dua sesar aktif, Rusydy menyarakankan agar pemerintah serta lembaga pendidikan menggalakkan pendidikan kebencanaan pada pelajar untuk memberikan pengetahuan kebencanaan sejak dini.

Selain juga melakukan simulasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh mencatat, terjadi sembilan kali gempa di Aceh selama tahun 2018 dengan kerugian mencapai Rp3,2 miliar. Kendati begitu, gempa yang terjadi selama 2018 tidak mengakibatkan tsunami.

Kepala BPBD Aceh T. Ahmad Dadek mengatakan, Aceh sebagai daerah yang rawan gempa menuntut masyarakat agar selalu siaga sehingga dampak dari bencana gempa bumi bisa diminimalisir. Hasil penelitian juga menyebutkan Kota Banda Aceh berpotensi mengalami likuifaksi.

"Jika terjadi tsunami atau likuifaksi, penyelamatan diri bisa dilakukan dengan naik tempat yang lebih tinggi. Jangan lari dengan kendaraan," ujar kata T. Ahmad Dadek di Kantor BPBD Aceh, Rabu (2/1/2019).

Tahun ini, BPBD Aceh sudah mengeluarkan kalendar kebencanaan untuk setiap kabupaten/kota di Aceh. Diharapkan berbagai kegiatan mitigasi yang dilaksanakan nantinya dapat mengurangi dampak bencana di Aceh.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gempa banda aceh
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top