Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

September 2018, Sumut Alami Inflasi 0,07%

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara mencatat perkembangan harga di Sumut mengalami inflasi sebesar 0,07% pada September 2018 dengan indeks harga konsumen (IHK) 137,07, kontradiktif dengan perkembangan nasional yang mengalami deflasi sebesar 0,18%.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 01 Oktober 2018  |  17:26 WIB

Bisnis.com, MEDAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara mencatat perkembangan harga di Sumut mengalami inflasi sebesar 0,07% pada September 2018 dengan indeks harga konsumen (IHK) 137,07, kontradiktif dengan perkembangan nasional yang mengalami deflasi sebesar 0,18%.

Kepala BPS Sumut Syech Suhaimi menyatakan kenaikan harga tersebut terjadi di tiga dari empat kota IHK yakni Sibolga, Medan dan Padangsidempuan masing-masing sebesar 0,39%, 0,09%, dan 0,04%. Adapun Pematangsiantar tercatat mengalami deflasi sebesar 0,24%.

“Terjadinya inflasi bulan September di Sumut membuat inflasi tahun kalender gabungan keempat kota tersebut sebesar 0,28% di bawah nasional yang mencapai 1,94%. Secara year on year inflasi di Sumut 1,63% juga lebih rendah dari inflasi nasional 2,88%,” katanya di Medan, Senin (1/10/2018).

Khusus untuk kota Medan, kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi terbesar yakni kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,13% akibat naiknya indeks harga sebesar 0,78% selama September 2018.

Beberapa komoditas pendorong inflasi misalnya harga cabai merah yang naik 15,09%, harga kentang naik 12,10%, harga mie naik 3,83%, harga nasi dengan lauk naik 2,04%, harga kue basah naik 10,69%, kue kering berminyak naik 4,21%, harga cabai rawit naik 7,34%.  

Kelompok pengeluaran lainnya seperti kesehatan; pendidikan, rekreasi dan olahraga; serta transportasi, komunikasi dan jasa keuangan, memberikan kontribusi yang sangat kecil terhadap inflasi umum Kota Medan.

Adapun, kelompok bahan makanan dan sandang justru tercatat mengalami penurunan indeks harga masing-masing sebesar 0,23% dan 0,09%.

Dari 11 sub dari kelompok bahan makanan, ada enam yang mengalami deflasi seperti daging dan hasilnya; ikan segar; telur, susu dan hasilnya; buah-buahan, lemak dan minyak; dan bahan makanan lainnya.

Sementara itu, subkelompok bahan makanan yang mengalami inflasi yakni padi-padian; umbi-umbian; ikan diawetkan; sayur-sayuran; kacang-kacangan; dan bumbu.

“Bahan makanan memberikan andil deflasi 0,06% yang disumbangkan oleh daging ayam ras,  bawang merah, ikan gembung, dencis, bayam, sawi hijau, dan telur ayam ras,” papar Syech Suhaimi.

Secara keseluruhan, dari 23 kota IHK di Pulau Sumatra, sebanyak 16 kota mengalami deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 1,12% dengan IHK sebesar 141,85 serta yang terendah di Batam sebesar 0,09% dengan IHK 134,53.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumut inflasi sumut
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top