Kenaikan Harga Gas Bakal Tekan Aktivitas Industri di Batam

Oleh: Sarma Haratua Siregar 19 September 2018 | 18:48 WIB

Bisnis.com. BATAM – Industri di Batam dan Gubernur Kepri minta pemerintah menunda kenaikan harga gas PGN di Batam.

Kenaikan harga gas di Batam dikhawatirkan akan mendorong pelemahan kegiatan industri, yang pada akhirnya mengerem laju pertumbuhan ekonomi Batam.

Kontrak Alokasi Gas Cophi Batam 1 akan berakhir pada Oktober 2018 mendatang. Alokasi gas dalam kontrak tersebut digunakan untuk memasok kebutuhan Independent Power Producer (IPP) dan industri.

PGN telah melakukan upaya PGN telah melakukan upaya perpanjangan kontrak alokasi gas tersebut. Perpanjangan kontrak dan besaran harga Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) yang diketahui antara lain, volume semula 50 BBTUD menjadi 30 BBTUD (karena decline Production). Periode kontrak dilakukan hinga 2021, dengan adanya kenaikan harga gas di hulu hingga 55 persen.

Pemerintah mengizinkan Conoco Phillips (Cophi) untuk menaikan harga gas kepada PGN sekitar 55% dengan pertimbangan unutk keberlangsungan pasokan gas bumi yang memadai serta kebutuhan investasi maupun eksplorasi dari K3S.

Penyesuaian harga gas Cophi tersebut tentunya akan memberikan dampak berupa penyesuaian harga jual gas bagi Pelanggan PGN di Batam. Sebagaimana diketahui bahwa saat ini harga jual gas bumi PGN bagi Industri di Batam adalah sebesar 5.72 USD/MMBTU dengan total pasokan gas sebesar 50 BBTUD.

Gubernur Kepri Nurdin Basirun menyatakan, kebijakan pemerintah mengakomodir kenaikan harga gas akan memukul ekonomi Batam hingga ke lini mikro. Pasalnya, banyak sektor-sektor ekonomi kerakyatan yang memanfaatkan penggunaan gas untuk menunjang aktifitasnya.

Kenaikan harga gas akan mendorong kenaikan tarif listrik, meningkatkan ongkos produksi di Industri. Secara tidak langsung ini juga akan mendorong kenaikan upah, karena sejumlah sektor yang berhubungan dengan kebutuhan dengan masyrakat juga akan terpengaruh dengan kenaikan gas.

“Semakin tingginya ongkos produksi dikhawatirkan juga akan mengerem laju pertumbuhan ekonomi Kepri yang sudah mulai menanjak. Akhirnya, target pertumbuhan ekonomi 5 persen pada tahun 2018 akan sangat sulit dicapai,” ujar Nurdin Basirun.

Saat ini ada  3 kawasan industri besar yang menggunakan gas PGN untuk mengoperasikan pembangkit sendiri. Yakni Kawasan Industri batamindo, Kawasan Industri Tunas dan Kawasan Industri Panbil. Pembangkit di ketiga perusahaan tersebut mengakomodir kebutuhan listrik untuk  227 perusahaan

Pemakaian rata-rata perhari dari seluruh perusahaan yang ada di 3 kawasan tersebut mencapai 16.800 MMBTU/ hari. Kebutuhan gas terbesar ada di Kawasan Industri batamindo, yakni sebesar 11.800 MMBTU/ hari, disusuk Kawasan Indsutri Panbil 3.500 MBBTU/ hari dan kawasan industri Tunas 1.500 MBBTU/ hari.

Jika ada kenaikan harga gas sekitar 40 persen hingga 60 persen dari harga awal USD 5,8/ MBBTU, maka harga yang jual listrik ke tenant juga akan naik. Dia khawatir kondisi ini akan menahan laju pertumbuhan aktifitas industri.

 “Sektor industri pengolahan yang sebagian besar berlokasi di kawasan industri dikhawatirkan akan mengalami perlambatan,” jelasnya.

Kenaikan harga ini juga akan mendorong turunnya daya saing dan daya tairk Batam dibanding daerah tujuan investasi lainnya. perusahaan akan merelokasi  usahanya di Plant perusahaan yang masih satu grup di regional ASEAN lainnya, seperti Vietnam, Malaysia, Philipina, Thailand, Myanmar, Laos dan Kamboja.

Selain itu, imbas kenaikan harga gas berpotensi mendorong naiknya Inflasi. Padahal, pemerintah sudah berupaya agar menekan inflasi, supaya daya beli masyarkat bisa tetap terjaga. Kenaikan inflasi berpotensi meningkatkan jumlah penduduk miskin.

Dia mendorong agar kebijakan kenaikan gas diambil secara hati-hati. Jika salah langkah, pemerintah justru akan menciptakan ekonomi biaya tinggi yang menggerus daya saing Batam. Kondisi ini kontraproduktif dengan upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan aktifitas ekonomi industri berbasis ekspor untuk memperkuat fundamental ekonomi Batam.

“Jangan sampai investor melihat Batam sebagai kota yang tidak menarik karena mahal. Padahal kita berjuang agar Batam menjadi daerah Industri yang menarik bagi investor. Timbanglah baik-baik kenaikan harga gas ini. Jika harga gas naik, maka imbasnya akan beruntun,” tuturnya.

Ketua Kadin Kepri Ahmad Makruf Maulana menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk berjuang gas PGN di Batam tak naik. Kenaikan harga gas yang memicu kenaikan listrik akan membuat industri harus melakukan efisiensi.

Kondisi ini tak akan menguntungkan bagi Batam yang tengah mendorong agar industri melakukan ekspansi usaha. Jika aktifitas industri mengalami stagnansi, maka pertumbuhan ekonomi yang selama ini didorong akan kembali melambat.

Menurut Makruf, ini sudah mulai banyak industri yang masuk ke Batam tahun ini. Kondisi ini bisa dilihat daari semakin tingginya permintan penambahan daya untuk Industri kepada Bright PLN Batam. Kawasan Industri Wiraraja saja sudah mengajukan penambahan daya dari 1 MW menjadi 20 MW.

“Ini menunjukan bahwa indutri di Batam mulai bergerak. Tak boleh ada kondisi kenaikan harga yang akan kontra produktif dengan naiknya aktifitas Industri di Batam,” jelasnya.

Batam harus tetap didorong menjadi kawasan yang kompeititif dibanding kawasan lainnya. Langkah menaikan Gas akan menjadi kontraproduktif, karena akan menjadikan Batam sebagai kota mahal dan tidak kompetitif lagi.

Kepri merupakan daerah penghasil Gas yang cukup produktif. Namun Gas yang diambil dari Natuna dan Anambas langsung dijual ke Singapura dan Malaysia. Sementara Kepri belum bisa memanfaatkan gas tersebut.

“Kadin akan memperjuangkan agar gas dari Natuna bisa dinikmati juga oleh Kepri, dan Batam pada khususnya,” tuturnya.

Sementara itu PGN telah menyusun kajian restrukturisasi harga gas yang mempertimbangkan banyak hal, termasuk komitmen menjamin pasokan gas yang dapat memberikan efisiensi dan mendukung kemajuan sektor industri, khususnya di wilayah Batam.

Dalam rencana penyesuaian harga jual gas ini, PGN telah memaparkan rencananya serta menerima banyak masukan dari berbagai pihak, terutama dari Kementrian Perindustrian serta para pelaku industri di Batam.

PGN bersama Kadin Kepulauan Riau, HKI Batam, BP Batam dan para pelanggan gas bumi di sektor manufaktur lainnya, telah membahas rencana kebijakan ini terkait restrukturisasi harga sejalan dengan penetapan harga gas bumi Cophi tersebut.

 “Intinya, penyesuaian harga mutlak dilakukan seiring patokan harga beli gas dari Cophi dinaikkan, tak lain untuk investasi jangka panjang dan menjamin pasokan gas tetap aman. Konsumen akan menerima benefit yang lebih baik, dan kami berkomitmen akan hal tersebut,” ujar Sekretaris Perusahaan PGN, Rachmat Hutama.

Hingga kini, terdapat lebih dari 4.800 pelanggan di Batam yang telah merasakan penggunaan gas bumi PGN dan mampu menciptakan nilai tambah secara optimal tidak sekedar menggunakan gas bumi saja tetapi secara nyata memberikan kontribusi penghematan dalam hal penggunaan bahan bakar dari gas bumi PGN tersebut.

Selain itu, PGN juga melayani kebutuhan pasokan gas bagi pembangkit listrik PLN termasuk Independen Power Producer (IPP) serta Industri termasuk kawasan industri di Batam. Semua segmen pelanggan PGN telah merasakan manfaat dan keunggulan pelayanan gas bumi dari PGN.

Pemerintah memproyeksikan bahwa penggunaan gas di sektor industri bakal meningkat pesat setiap tahun. Jika pada tahun lalu penggunaan gas bagi industri mencapai 30% dari total kebutuhan energi nasional, maka pada tahun ini diperkirakan akan mencapai 35% seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, bahwa kebutuhan energi bagi sektor industri mencapai 420.35 juta setara barel minyak atau barel oil equivalent (BOE) pada tahun 2016, dimana pasokan gas bumi telah menopang kebutuhan energi tersebut sebanyak 33.79%, atau setara 142.07 juta BOE.

Karena itu, peran PGN dalam waktu mendatang kian besar dalam menyangga perekonomian nasional. Di Batam, sebagai salah satu kawasan yang mempunyai tingkat perekonomian paling dinamis. PGN telah memiliki peranan menjaga keberlangsungan kebutuhan energi serta kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi di Batam.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya