Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Realisasi Pinjaman Marandang 'Lawan Rentenir' Bank Nagari Mencapai Rp17,52 Miliar

Pinjaman Marandang Bank Nagari sampai dengan triwulan I-2024 telah tersalurkan sebanyak Rp17,52 miliar kepada 1.788 pelaku usaha dengan NPL yang relatif kecil.
Seorang pedagang melayani pembeli bahan pokok di Pasar Raya Padang, Sumatra Barat, Jumat (17/11/2023). Bisnis/Muhammad Noli Hendra
Seorang pedagang melayani pembeli bahan pokok di Pasar Raya Padang, Sumatra Barat, Jumat (17/11/2023). Bisnis/Muhammad Noli Hendra

Bisnis.com, PADANG - Program Melawan Rentenir Daerah Ranah Minang (Marandang) yang dihadirkan PT Bank Nagari telah menjangkau 1.788 pelaku usaha di sejumlah daerah di Provinsi Sumatra Barat hingga triwulan I-2024.

Pjs Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra mengatakan secara umum progres penyaluran pinjaman Marandang Bank Nagari sangat baik, dimana sejak program tersebut diluncurkan sampai dengan triwulan I-2024 telah tersalurkan sebanyak Rp17,52 miliar kepada 1.788 pelaku usaha dengan NPL yang relatif kecil.

"Jadi seluruh pelaku usaha di Sumbar telah menikmati program ini. Karena memang target kami menyelamatkan pelaku usaha dari rentenir," katanya, Senin (6/5/2024).

Dia menjelaskan untuk penyaluran pinjaman Marandang pada posisi bulan Maret 2024 untuk Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak Rp930 juta dengan jumlah debitur 93 orang. Kemudian Kabupaten Solok sebesar Rp1 miliar lebih dengan jumlah debitur 111 orang.

Selanjutnya di Kabupaten Sijunjung Rp360 juta jumlah debitur 36 orang. Kabupaten Tanah Datar Rp1,3 miliar dengan jumlah debitur 140 orang. Kabupaten Padang Pariaman Rp620 juta jumlah debitur 63 orang.

Kemudian penyaluran Marandang juga dirasakan pelaku usaha di Kabupaten Agam Rp1,1 miliar dengan jumlah debitur 123 orang. Kabupaten Limapuluh Kota Rp706 juta dengan jumlah debitur 71 orang. Kabupaten Pasaman Rp1,3 miliar dengan jumlah debitur 142 orang.

Lalu di Kabupaten Kepulauan Mentawai Rp660 juta dengan jumlah debitur 70 orang. Kabupaten Dharmasraya Rp1 miliar lebih dengan jumlah debitur 106 orang. Kabupaten Solok Selatan Rp1,2 miliar dengan jumlah debitur 129 orang. Kabupaten Pasaman Barat Rp1,8 miliar dengan jumlah debitur 185 orang.

Kemudian di Kota Padang mencapai Rp1,9 miliar dengan jumlah debitur 200 orang. Kota Solok Rp625 juta dengan jumlah debitur 63 orang. Kota Sawahlunto Rp510 juta dengan jumlah debitur 52 orang. Kota Padang Panjang Rp735 juta dengan jumlah debitur 77 orang.

Serta di Kota Bukittinggi Rp362 juta dengan jumlah debitur 38 orang. Kota Payakumbuh Rp413 juta dengan jumlah debitur 42 orang, dan terakhir di Kota Pariaman Rp457 juta dengan jumlah debitur 47 orang.

Menurutnya dengan melihat positifnya sambutan pelaku usaha terhadap program Marandang itu, karena memang kredit Marandang sangat efektif dalam menekan rentenir.

"Apalagi Bank Nagari telah memiliki aplikasi LISS (Lending Information Support System) untuk proses persetujuan pinjaman, dan permohonan dapat diajukan melalui N Form secara online sehingga proses dapat lebih cepat," jelasnya. 

Proses kredit dapat dilaksanakan 2 hari atau maksimal 3 hari dengan syarat-syarat yang dilengkapi sehingga dapat bersaing dengan rentenir.

"Jadi Bank Nagari terus melakukan update teknologi dan ditingkatkan fleksibilitasnya yaitu melalui aplikasi otomatisasi Lending Information Support System (LISS) berbasis web yang membantu proses analisis dan pengambilan keputusan lebih cepat, efisien dan akurat dan dapat dilakukan dimana saja," ucapnya.

Bank Nagari juga terus melakukan pendampingan kredit Program Marandang, dengan jaringan yang luas di Sumatera Barat mulai dari Kantor Pusat, Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu dan Lapau Nagari (Agen Laku Pandai). 

Kemudian Bank Nagari juga aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada pelaku UMKM, baik sosialisasi bersama stakeholder, diantaranya OJK, Perusahaan Penjamin, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD),

Gusti Candra menyampaikan pada tahun ini Bank Nagari berinovasi melakukan pengembangan teknologi dalam meningkatkan manajemen risiko dengan menerapkan credit scoring, sehingga bisa memberikan percepatan penyaluran dengan risiko yang bisa dikendalikan. 

"Jadi credit scoring adalah metode yang digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh perbankan dalam menentukan layak atau tidaknya yang berisi data-data nasabah dan juga riwayat pembayaran kredit pada sebuah bank. Sistem Credit Scoring kemudian berkembang menjadi lebih canggih, dalam memanfaatkan sistem yang terintegrasi dengan big data," ungkap dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper