Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jelajah UMKM, Leni Snack, Keripik Kentang yang Rutin Terbang Antar Benua

Sudah 20 tahun lamanya Leni Snacks menjual keripik singkong dan kentang dari Pekanbaru, Riau.
Direktur CV Leni Snacks Indo Jaya, Adi Sumanto dengan produk keripik kentang dan keripik singkong Leni Snacks./Ist
Direktur CV Leni Snacks Indo Jaya, Adi Sumanto dengan produk keripik kentang dan keripik singkong Leni Snacks./Ist

Bisnis.com, PEKANBARU — Sudah 20 tahun lamanya Leni Snacks menjual keripik singkong dan kentang dari Pekanbaru, Riau. Camilan renyah dan gurih ini ternyata memiliki peluang pasar yang sangat luas, tidak hanya diterima secara lokal dan nasional, tapi produknya sudah terbang rutin setiap bulannya antar benua, yakni ke Amerika Serikat. 

Direktur CV Leni Snacks Indo Jaya, Adi Sumanto berkisah tentang awal perjalanan usaha ini, yang bermula dari inisiatif orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga di tengah kondisi ekonomi yang sulit kala itu.

“Waktu itu, orang tua saya berkeinginan untuk membuat satu produk yang mudah produksinya, mudah dipasarkan dan harganya ramah di kantong. Akhirnya, orang tua saya memilih menjual keripik singkong,” katanya Senin (27/11/2023).

Saat itu produk keripik yang dibuat masih sangat sederhana, dikemas dalam plastik bening dan dijual di gerobak sate, miso, dan lainnya. Empat tahun berlalu, Leni, saudara perempuan Adi, berinisiatif mengembangkan usaha sang ibu. Dia berkeinginan agar keripik singkong ini bisa masuk ke pasar yang lebih luas seperti supermarket, atau setidaknya di swalayan lokal.

Berawal dari keinginan itulah sang kakak mengurus izin usaha dan dokumen pendukung lainnya, sehingga hadirlah nama Leni Snacks. Selama 2006-2010 produk Leni sudah masuk di semua supermarket besar di Pekanbaru.

Setelah menyelesaikan kuliah, Adi bergabung untuk mendukung usaha keluarganya itu di tahun 2017. Meskipun Leni Snacks telah sukses menguasai pasar lokal, Adi merasa belum puas dengan pencapaian yang ada.

Adi menyebut Leni Snacks pernah ikut pameran di Jakarta. Ketika itu produk Leni Snacks masih menggunakan kemasan plastik bening. Selama kegiatan, hampir tidak ada satupun pengunjung yang tertarik dengan keripik singkong dan kentang itu. 

“Saya bahkan tawarin satu persatu dan suruh coba, kami berikan bahkan sampai jual rugi saat itu karena yang penting orang tahu dulu. Di situlah kami berpikir, kalau kemasan produk Leni Snacks kurang menarik,” ujarnya.  

Berangkat dari pengalaman itu, Adi segera membenahi dan membuat perubahan kemasan agar tampilan keripiknya menjadi lebih menarik. Beruntungnya saat kemasan baru telah selesai, dia dihubungi salah satu hypermarket karena sedang ada program pengembangan UMKM.

Adi kemudian mempresentasikan produknya kepada manajemen pusat yang saat itu sedang berkunjung ke Pekanbaru.

Gayung bersambut. Di situlah titik awal Leni Snacks kian dikenal pasar lebih luas hingga ke tingkat nasional. Selain dengan jaringan swalayan besar, Adi juga memanfaatkan jaringan teman kuliahnya di Jakarta, untuk menjalin kerja sama sebagai distributor dan terbukti berhasil menarik perhatian distributor lainnya di ibu kota. 

Setahun setelahnya yakni pada 2018, Leni Snacks telah beredar luas di berbagai pasar modern di Jabodetabek, Medan, dan Batam. Kemudian di 2019 ekspansi pasar terus diperluas ke Jambi dan Palembang, hingga dilanjutkan ke Kalimantan pada 2020, dan menyusul ke Jawa Barat pada 2021 lalu. Tahun ini, Leni Snacks telah berhasil masuk pasar Surabaya, dan saat ini tengah menjajaki potensi pasar di Bali.

Sejumlah toko modern yang telah menjual produk keripik Leni Snacks di kota-kota besar di Indonesia diantaranya yaitu Farmers Market, Superindo, Hypermart, Foodmart, Hero, Market City dan lainnya. Leni Snacks juga tengah menjalin kerja sama dengan brand ritel KKV.

Setelah produknya kian dikenal, peluang pasar semakin terbuka lebar. Lewat jalur distributor di Jakarta, Leni Snacks berhasil menjalin kerja sama dengan eksportir untuk mengirimkan produknya rutin ke Amerika Serikat. Setiap bulan, setidaknya 100 kotak atau 1.000 pcs produk dikirimkan ke Negeri Paman Sam.

“Kalau untuk pasar Amerika itu memang targetnya tidak untuk bule, karena seleranya tidak masuk. Mereka nggak suka pedas. Produk yang kami kirim 1.000 pcs itu untuk pasar orang Asia di Amerika,” jelasnya.

Untuk varian produk, awalnya Leni Snacks hanya fokus kepada keripik singkong. Singkong dipilih karena bahan bakunya murah, mudah didapat, dan proses pembuatannya tidak sulit. Olahan tersebut kemudian dikombinasikan dengan bumbu racikan orang tuanya, dan berhasil diterima di pasar Sumatera.

Seiring berjalannya waktu, Leni Snacks mengembangkan variasi produk, yakni dengan bahan baku kentang. Meski peminat keripik kentang di Sumatera tergolong rendah, tapi disambut baik di pasar Jawa dan Kalimantan, dan kini kedua jenis produk inilah yang jadi unggulan Leni Snacks.

Untuk menjaga suplai bahan baku, Leni Snack membangun pola kemitraan dengan petani. Keputusan ini muncul dari pengalaman ketika pasokan singkong pernah mengalami keterbatasan, bahkan sempat langka di Pekanbaru. Guna mengatasi masalah ini, pihaknya berhasil menemukan pemasok tetap dengan membina para petani sebagai mitra.

Menurutnya cara itu dapar turut berperan dalam meningkatkan ekonomi para petani singkong di Pekanbaru, meskipun jumlah petani yang bermitra masih terbatas. Faktor ini menekankan pentingnya peran proaktif UMKM dalam mengembangkan usahanya, termasuk menemukan suplai bahan baku yang berkelanjutan guna menjaga kestabilan produksi.

"Bahkan, kami memberikan uang muka terlebih dahulu ke petani dan nanti hasil panennya kami ambil semua. Kami harap dengan pola ini, turut menunjang perekonomian petani, khususnya di Pekanbaru," ungkapnya.

Varian singkong yang ditanam petani mitra tersebut adalah jenis singkong roti dan singkong Thailand. Sedangkan untuk suplai kentang, pihaknya mengandalkan kentang lokal dari Bukittinggi yang tersedia di pasar induk Pekanbaru. Setiap bulan, Leni Snack membutuhkan 10-12 ton singkong dan 4-6 ton kentang. Perharinya mereka mampu memproduksi 1.000-1.500 pcs produk, atau sekitar 25.000 pcs keripik dalam satu bulan.

Dengan pertumbuhan usaha yang pesat itu, pertemuan pihaknya dengan Bank Indonesia dapat dikatakan tidak disengaja. Sekitar 2019, Leni Snacks tersedia di supermarket di kawasan perusahaan migas di Rumbai. Suatu hari, seorang pelanggan melihat produk Leni Snacks dan menawarkan untuk bergabung dalam program binaan dari Bank Indonesia. “Kami dengan senang hati menerima tawaran tersebut, dan sejak saat itu kami bermitra dengan Bank Indonesia,” tuturnya.

Adi kemudian diundang mengikuti kurasi dan berhasil lolos dari puluhan UMKM lainnya yang diseleksi secara nasional. Sejak itu, pihaknya aktif mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia terutama yang fokus pada perbaikan kualitas produk dan perluasan pasar.

Salah satu pelatihan yang benar-benar dirasakan manfaatnya yakni membuat laporan keuangan usaha secara rapi. Sebab, kunci keberhasilan dalam berusaha itu diukur dari laporan keuangan secara rinci dan terukur.

“Selama ini, banyak UMKM kita yang masih mencampurkan keuangan pribadi dengan keuangan usahanya.Itu nggak boleh, harus dipisah. Nah, di BI ada pelatihannya. Selain itu ada juga pelatihan bagaimana produk kita bisa dilirik oleh negara lain. Banyak sih,” tuturnya.

Selain itu, Adi juga memperoleh banyak pelajaran berharga dalam pengembangan usahanya saat ikut pelatihan Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA) pada 2022. Di kegiatan itu, kurator nasional diundang untuk memberikan pencerahan terhadap UMKM. Kemudian juga adanya dorongan untuk membuat branding produk Leni Snacks sebagai pilihan makanan sehat.

Hal itu disebabkan produk tesebut tidak mengandung MSG. Hal ini menjadi poin yang ditekankan untuk menghasilkan produk berkualitas premium dan berorientasi pada makanan sehat. Hal ini menjadi keuntungan besar juga bagi UMKM yang ingin menggarap ke pasar ekspor, mengingat konsumen internasional sangat memperhatikan produk sehat. Jadi tidak sekadar halal, tapi juga produk yang sehat dan ini menjadi kekuatan untuk masuk ke pasar Eropa. Namun memang Leni Snacks hingga kini baru dapat masuk di pasar Amerika.

Kemudian secara omzet, tahun ini rerata perbulan penjualan keripik tersebut bisa mencapai ratusan juta rupiah. Adi menyebut sejak bergabung dengan binaan Bank Indonesia, pertumbuhan omzet per tahun meningkat sebesar 10-20 persen. Hal ini menunjukkan dampak positif dari partisipasi pihaknya dalam program pembinaan yang dilakukan BI.

Untuk pemasaran secara digital, sejak 2017 hingga kini Leni Snacks sudah aktif di pasar online melalui platform e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Blibli. Pasar digital ini berkontribusi sekitar 10 persen dari total omzet. “Kami menyadari porsi ini masih sangat kecil. Kami akan terus mengeksplorasi potensi pasar digital ke depannya,” ujarnya.

Pihaknya berharap, kerja sama dengan Bank Indonesia dapat terus berlanjut sehingga dapat terus belajar dan terus mengembangkan usahanya ke depan, pihaknya yakin potensi UMKM Pekanbaru Riau juga tidak kalah dengan daerah lain. 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau Muhamad Nur mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan BI dalam rangka mendorong UMKM binaan untuk terus berkembang. Salah satu strateginya, yakni mendorong efektivitas pengembangan UMKM binaan BI lewat akselerasi ekspor produk UMKM, lewat dukungan digitalisasi.

"Melalui strategi ini BI mendorong UMKM yang memang sudah mampu melakukan ekspor produknya, agar terus mengembangkan komoditasnya dalam jumlah yang cukup," katanya. 

Adapun bentuk dorongan lain, yakni bagaimana kualitas dari produk UMKM memenuhi standar kebutuhan negara tujuan ekspor. Dengan proses kurasi, pelaku UMKM akan memperbaiki kualitas produk sehingga bisa memenuhi standar tersebut.

BI juga mendorong UMKM untuk go digital dalam perluasan pasar hingga mengadopsi sistem digital dalam transaksi. Misalnya dengan implementasi QRIS dan BI Fast, sehingga dalam melakukan transaksi tersebut konsumen menjadi semakin mudah.

“Tidak hanya kemudahan transaksi, digitalisasi ini juga termasuk dalam perluasan pasar sehingga produk-produk UMKM ini bisa dijual ke level global lewat platform digital," pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arif Gunawan
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper