BPBD: Karhutla 100 Ha Lahan di Pesisir Selatan Sumbar Dampak Fenomena El Nino

Karhutla yang terjadi di Silaut diduga kuat dampak dari naiknya suhu udara (el nino) sejak hampir satu bulan ini.
Kondisi kebakaran hutan dan lahan di Nagari/Desa Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, Rabu (24/5/2023). /dok Tim Pemadaman Karhutla
Kondisi kebakaran hutan dan lahan di Nagari/Desa Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, Rabu (24/5/2023). /dok Tim Pemadaman Karhutla

Bisnis.com, PADANG - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Nagari/Desa Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, hingga kini meluas menjadi 100 hektare diduga akibat dampak fenomena el nino.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Sumbar Rumainur mengatakan karhutla yang terjadi di Silaut diduga kuat dampak dari naiknya suhu udara (el nino) sejak hampir satu bulan ini. Sehingga akan sangat mudah terjadi kebakaran, begitupun kapada lahan gabut yang ada di Silaut tersebut.

"Suhu udara tengah meningkat, termasuk di Sumbar. BMKG memperkirakan fenomena el nino berlangsung Agustus 2023. Dampaknya telah mulai dirasakan sejak dari sekarang," katanya, Kamis (25/5/2023).

Dia menyebutkan dari data per hari yang diterima dari BPBD kabupaten dan kota di Sumbar, untuk karhutla hanya terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan. Sementara di daerah lainnya masih aman dari karhutla. 

Menurutnya untuk lokasi kejadian karhutla di Silaut itu, juga bukan dekat dari pemukiman penduduk, namun bersebelahan dengan perkebunan miliki salah satu perusahaan swasta.

"Kita menghitung dari titik jalan lintas Sumatra ke lokasi karhutla ada sekitar 25 kilometer. Kalau diukur pula ke kawasan padat penduduk bisa lebih jauh lagi. Jadi dampak ke masyarakat secara luas saya tidak terjadi," jelasnya.

Menurutnya berbeda dengan kondisi karhutla di Riau beberapa tahun yang lalu yang luasnya mencapai ribuan hektare, sehingga terjadi pencemaran udara, yang dampaknya tidak hanya di Riau, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat di Sumbar.

"Di Silaut itu luas lahan yang terbakar sekitar 100 hektare. Jadi dampaknya kepada pencemaran udara akibat asap karhutla itu, berkemungkinan besar tidak dirasakan masyarakat, karena jaraknya jauh dari pemukiman padat penduduk," sebut dia.

Rumainur menegaskan saat ini tim pemadaman karhutla tengah berupaya dan berjuang melakukan pemadaman api, karena api dengan cepat terus meluas di 6 titik. Dia berharap ada hujan yang turun di lokasi itu, sehingga dapat membantu proses pemadaman.

"Kita terkendala sumber air, karena titik sumber air ke titik kebakaran yang telah meluas ini, tidak ada sumber air yang memadai," ucap dia.

Untuk itu, bila proses pemadaman yang saat ini tengah dilakukan tidak kunjung membuahkan hasil, akan ada langkah mengambil status tanggap darurat.

Dikatakannya dalam waktu dekat akan dilakukan rapat terkait penangan pemadaman karhutla di Silaut Pesisir Selatan tersebut.

"Seperti apa langkah selanjutnya penanganan, kita akan rapat. Jika masih sulit, mungkin akan ditetapkan tanggap darurat," tutup dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper