Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mark Dynamics (MARK) Catatkan CAGR 10 Persen

Mark Dynamics Indonesia catat Compounded Annual Growth Rate (CAGR) yang mencapai 10 persen selama 20 tahun terakhir.
CEO Mark Dynamics Indonesia Ridwan Goh/Istimewa
CEO Mark Dynamics Indonesia Ridwan Goh/Istimewa

Bisnis.com, MEDAN - Mark Dynamics Indonesia catat Compounded Annual Growth Rate (CAGR) yang mencapai 10 persen selama 20 tahun terakhir.

"Permintaan dari pelanggan kami terbilang cukup stabil mengingat mereka tetap menjaga permintaan untuk replacement cetakan sarung tangannya," ujar CEO Mark Dynamic Ridwan Goh kepada Bisnis.

Ridwan menyampaikan bahwa meskipun selama 2022 Mark menghadapi kendala berupa penurunan permintaan sarung tangan global yang terjadi karena isasi dari tingginya permintaan global di tahun 2021 yang dimana hal ini dialami juga oleh seluruh produsen sarung tangan global, akan tetapi kinerja keuangan yang dibukukan oleh korporat sepanjang tahun 2022 lalu justru tercatat positif.

Capaian lainnya, lanjut Ridwan, berupa penghargaan yang telah diterima pada tahun 2022 terkait ESG dan juga sertifikasi carbon dari Lembaga international Planet Mark. Ia menyebut langkah tersebut dilakukan Mark sebagai perwujudan komitmen untuk menjadi perusahaan yang sustainable dan peduli dengan Environmental, social, and corporate governance (ESG).

"Hal ini kami lakukan seiring dengan Permintaan Pelanggan kami yang sudah mewajibkan sertifikasi ESG kepada masing–masing suppliernya dengan penilaian keberlanjutan dan pengaruh yang ditimbulkannya pada masyarakat dan lingkungan," paparnya.

Meski saat ini Mark masih melakukan proses konsolidasi dan belum mematok target pendapatan dan laba perseroan untuk tahun 2023, namun sejumlah inovasi seperti pengembangan produk baru kerap dilakukan oleh emiten MARK tersebut.

Produk baru yang diketahui tengah dikembangkan yaitu cetakan sarung tangan yang lebih ringan. Sehingga hal itu bisa membantu menghemat energi dan biaya di dalam produksi sarung tangan.

Dari sisi market, Amerika masih merupakan pasar dengan potensi pertumbuhan permintaan sarung tangan yang cukup besar, meski kebanyakan diimport dari negara lain seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam. 

Begitu pun, dengan adanya proses pembangunan pabrik sarung tangan di Amerika, Mark dinilai tetap memiliki potensi untuk menjadi salah satu suppliernya.

Sedangkan untuk ekspansi bisnis kancah internasional, Ridwan mengaku bahwa ada 2 negara yang terdata sebagai klien baru emiten MARK.

"Sebagai negara dengan populasi penduduk yang sangat besar, kami melihat Pasar India dan Sri Lanka sebagai pasar yang menjanjikan, mengingat pasar ini mulai memiliki tingkat kesadaran akan kebersihan, dimana ini akan membuat permintaan akan sarung tangan menjadi meningkat. Hal ini tentu diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi perseroan," timpal Ridwan.

Dengan makin berkembangnya pasar luar negeri, bayangan resesi global dan ketidakpastian ekonomi tak kunjung membuat Mark bergeming. Pasalnya optimisme permintaan cetakan diyakini Ridwan akan kembali dan bahkan tumbuh dari pelanggan yang sudah ada. Ditambah lagi dengan adany permintaan dari pelanggan-pelanggan baru yang tentu selalu dikembangkan.

"Salah satu hal yang mendorong permintaan sarung tangan global adalah munculnya regulasi untuk mewajibkan pemakaian PPE (Personal Protektif Equiptment) masker dan sarung tangan di beberapa industry pada negara – negara berkembang. Hal ini akan mendorong juga permintaan cetakan sarung tangan sebagai salah satu bahan untuk memproduksi sarung tangan medis dan industrial," tuturnya.

Resesi global menurut Ridwan, adalah berita buruk yang selalu diberitakan dan tidak bisa dihindari. Untuk mengantisipasi hal itu, ia menyebut Mark akan selalu berupaya untuk memperluas dan mendiversifikasi market ke negara-negara lain dengan potensi pertumbuhan pabrik sarung tangan yang cukup tinggi.

"Di samping itu, kami juga terus menjaga kualitas produk dan layanan yang tinggi sehingga dapat mempertahankan kepercayaan pelanggan dan meningkatkan loyalitas," pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ade Nurhaliza
Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper