Harga Karet Terjun Bebas, 3 Pabrik Karet di Sumut Gulung Tikar

Tekanan berat menyebabkan tiga unit pabrik karet di Sumut tutup kurun 2019 - 2022. Selain itu, dua unit pabrik juga terpaksa berhenti beroperasi sementara.
Petani memanen getah karet di Bajubang, Batanghari, Jambi, Rabu (12/1/2022). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
Petani memanen getah karet di Bajubang, Batanghari, Jambi, Rabu (12/1/2022). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Bisnis.com, MEDAN - Harga karet cenderung menurun dalam kurun waktu Januari - Agustus 2022 karena sejumlah faktor, antara lain tren kenaikan suku bunga, perekonomian China yang melemah, serta kekhawatiran terhadap resesi global.

Tren penurunan harga tersebut turut memengaruhi pabrik pengolahan karet di Sumatra Utara (Sumut). Tekanan berat menyebabkan tiga unit pabrik karet di Sumut tutup kurun 2019 - 2022. Selain itu, dua unit pabrik juga terpaksa berhenti operasi sementara.

"Selama periode 2019 - 2022 ada tiga pabrik karet tutup dan dua pabrik karet berhenti sementara," ujar Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah, Jumat (2/9/2022).

Edy mengatakan, tekanan pabrik pengolahan karet di Sumut semakin berat. Tren penurunan harga terus terjadi di tengah penurunan pasokan bahan baku akibat peralihan sebagian petani karet ke bidang usaha lain yang dianggap lebih menguntungkan.

Pada awal Januari 2022, harga karet TSR20 tercatat US$1,751 per kilogram di bursa berjangka Singapore (SGX). Pada awal Mei 2022, harganya tetap turun menjadi US$1,558 per kilogram.

Berdasar catatan Gapkindo, harga karet kemudian sempat meningkat. Namun peningkatan itu hanya sementara. Hingga pada awal September 2022 menjadi US$1,333 per kilogram. Menurut Edy, harga karet saat ini membuat produsen berskala kecil mengalami kerugian.

Edy mengatakan, peran China terhadap harga karet global terbilang dominan. Sebab negara ini merupakan konsumen karet nomor satu dunia.

Pada 2021 lalu, China menjadi konsumen karet utama dengan persentase 41,2 persen. Disusul India sebesar 8,7 persen dan USA sebesar 6,7 persen. Saat ini, kata Edy, buyer tertentu telah mengurangi konsumsi karet. Bahkan ada yang sampai berhenti membelinya dari Sumut.

Oleh sebab itu, Edy berharap International Tripartite Rubber Council (ITRC) memainkan perannya selaku stabilisator harga karet alam.

"ITRC sebagai stabilisator harga karet alam diharapkan dapat mengambil langkah-langkah untuk menahan penurunan harga karet. Dalam negeri, semoga pemerintah pusat memperhatikan petani karet," pungkas Edy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper