Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pupuk Organik: Harapan Berbayang Tantangan Tangkal Krisis Pangan di Sumut

Pemanfaatan pupuk organik sebagai solusi pemenuhan kebutuhan petani Sumut di tengah lonjakan harga pupuk kimia menjadi keniscayaan.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 09 Agustus 2022  |  17:28 WIB
Pemanfaatan pupuk organik sebagai solusi pemenuhan kebutuhan petani Sumut di tengah lonjakan harga pupuk kimia menjadi keniscayaan. Petani beraktivitas di lahan persawahan di kawasan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (17/1/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Pemanfaatan pupuk organik sebagai solusi pemenuhan kebutuhan petani Sumut di tengah lonjakan harga pupuk kimia menjadi keniscayaan. Petani beraktivitas di lahan persawahan di kawasan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (17/1/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Bagikan

Bisnis.com, MEDAN - Setiap hari di pagi hari, Ezer bersama rekan-rekannya menyusuri kawasan Danau Toba untuk mengumpulkan berbagai jenis tanaman seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), kipait (Tithonia diversifolia) dan lumut (Bryophyta). Nantinya, bahan baku tersebut akan diolah menjadi pupuk organik cair.

Eliezer Lumbantobing nama lengkapnya. Lelaki asal Kabupaten Toba, Sumatra Utara (Sumut) ini sudah menekuni bisnis pupuk organik sejak 2019.

Bermula untuk menyuburkan kebun sendiri, kini pupuk organik buatan Ezer berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan. Apalagi, ketersediaan pupuk kimia belakangan minim akibat ketidakpastian perekonomian global. Peluang ini dimanfaatkan Ezer untuk terus mengembangkan bisnisnya hingga saat ini dia mampu memproduksi pupuk organik cair sebanyak 1.000 - 2.000 liter setiap bulannya. 

"Prospeknya baik. Mungkin karena beberapa faktor, seperti harga pupuk kimia yang mahal dan kesadaran petani bahwa penggunaan pupuk organik bermanfaat mengembalikan kesuburan tanah," kata Ezer kepada Bisnis, Senin (8/8/2022).

Ezer sengaja memanfaatkan bahan baku mulai dari eceng gondok hingga lumut untuk memproduksi pupuk organik cair karena ketersediaannya di alam yang melimpah. Tamanan tersebut juga tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga membantu Ezer menekan biaya produksi.

"Karena ini potensi banyak di sekitar Danau Toba. Seperti ikan red devil, di sini potensinya banyak tapi tidak punya nilai ekonomis," imbuh Ezer.

Kini, dengan kemampuan produksi hingga 2.000 liter per bulan, pupuk organik milik Ezer sudah dipasarkan kepada para petani di dalam maupun luar provinsi Sumut.

Ezer optimistis bisnis ini akan terus berkembang pesat seiring kesadaran petani akan manfaat pupuk organik bagi alam, selain lebih ekonomis. Harapannya, Pemerintah turut melakukan intervensi berupa eskalasi terhadap penyerapan produk pupuk organik oleh petani.

"Kami berharap pemerintah mulai mengkampanyekan pupuk organik ke petani. Supaya semua produsen pupuk organik di Sumut bisa mendapatkan manfaatnya," ungkap Ezer.

Senada, Iwan yang kini menekuni bisnis yang sama, menyebut penggunaan pupuk kimia selama ini memberi banyak dampak buruk bagi sektor pertanian, khususnya terhadap penurunan kesuburan tanah. Dengan kelangkaan pupuk kimia yang terjadi, para petani mulai berangsur menggunakan pupuk kompos.

"Untuk saat ini prospek atau minat para petani sangat bagus terhadap penggunaan pupuk kompos. Karena pupuk kompos ini bisa menjadi solusi alternatif untuk mengatasi kesulitan mendapatkan pupuk kimia," kata Iwan kepada Bisnis.

Walau menawarkan peluang besar, menurut Iwan, produksi pupuk organik punya berbagai tantanganl, antara lain mengubah pola pikir petani yang selama ini sudah nyaman menggunakan pupuk kimia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pupuk organik pupuk sumut
Editor : Aprianus Doni Tolok
Bagikan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top