Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Gabah Sumut Meningkat pada Juni 2022, Tertinggi di Serdang Bedagai

Baik di tingkat petani maupun penggilingan, harga gabah tertinggi pada Juni 2022 berada di Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai.
Petani memisahkan padi dari tangkainya secara tradisional di persaawahan kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (20/6/2022). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Petani memisahkan padi dari tangkainya secara tradisional di persaawahan kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (20/6/2022). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, MEDAN - Harga gabah di Sumatra Utara mengalami peningkatan pada Juni 2022, baik dibanding bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani Sumatra Utara tercatat senilai Rp4.750 per kilogram pada Juni 2022. Harganya naik 0,45 persen secara month to month (mtm) atau naik 4,50 persen secara year on year (yoy).

Sementara itu, harga rata-rata Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat petani Sumatra Utara pada Juni 2022 tercatat Rp5.540 per kilogram. Harganya juga naik 0,60 persen (mtm) atau naik 11,61 persen (yoy).

Di tingkat penggilingan, harga rata-rata GKP pada Juni 2022 senilai Rp4.859 per kilogram. Harganya naik 0,29 persen (mtm) atau naik 4,60 persen (yoy). Untuk GKG, harganya tercatat Rp5.618 per kilogram. Harganya naik 0,33 persen (mtm) atau naik 10,48 persen (yoy).

Baik di tingkat petani maupun penggilingan, harga gabah tertinggi pada Juni 2022 berada di Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai. Harganya Rp6.150 per kilogram di tingkat petani dan Rp6.250 per kilogram di tingkat penggilingan. Gabah yang dimaksud berkualitas GKG varietas Ciherang.

Sedangkan harga gabah terendah di Sumatra Utara pada Juni 2022 berada di Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal. Harganya senilai Rp4.250 per kilogram di tingkat petani dan Rp4.300 per kilogram di tingkat penggilingan. Gabah ini berjenis kualitas GKP varietas Ciherang dan lokal.

Meski mengalami peningkatan, menurut Kepala BPS Sumatra Utara Nurul Hasanudin, harga gabah tersebut belum mampu mengimbangi laju inflasi Sumatra Utara pada Juni 2022.

"Kenaikan ini tentunya masih belum kuat dibandingkan inflasi sebagaimana kita lihat di subsektor tanaman pangan kita masih tertekan. Itu karena inflasinya cukup tinggi sehingga kenaikan indeks harga yang diterima lebih rendah dari pada indeks yang dibayar," kata Nurul, Senin (4/7/2022).

Pada Juni 2022, Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatra Utara tercatat sebesar 117,31 atau naik 0,78 persen dibandingkan Mei 2022, yaitu sebesar 116,40.

NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP merupakan satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar atau terms of trade dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Berdasar catatan BPS, kenaikan NTP pada Juni 2022 di Sumatra Utara disebabkan oleh peningkatan NTP pada subsektor Hortikultura sebesar 8,88 persen dan NTP Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,36 persen.

Sementara itu, NTP tiga subsektor lainnya mengalami penurunan. Yaitu NTP subsektor Tanaman Pangan turun sebesar 1,44 persen, NTP subsektor Peternakan turun sebesar 2,41 persen, dan NTP subsektor Perikanan sebesar turun 0,24 persen.

"Tentunya ada sebuah harapan bagus dan keran ekspor (CPO) pada akhir Bulan Mei ini sudah dibuka lagi. Tentunya ini ada geliat harga sawit cukup baik. Ada kenaikan 2,81 persen memberi andil. Ini memberi harapan untuk dinamika perkebunan, khususnya sawit kita," kata Nurul.

Di sisi lain, pada Juni 2022 terjadi inflasi perdesaan di Sumatra Utara sebesar 1,96 persen. Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi maupun deflasi perdesaan.

Sementara Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Sumatra Utara Juni 2022 sebesar 116,77 atau naik sebesar 1,76 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

"Tentu ini menjadi potret dengan adanya kenaikan 116,77 atau naik 1,76 persen. Ini menjadi indikator yang positif untuk nilai tukar usaha petani kita," kata Nurul.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper