Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Sumut Tiga Bulan Melampaui Sasaran Nasional, Ini Bahayanya

Bank Indonesia mengingatkan ancaman gelombang tinggi inflasi yang berpotensi melanda Sumatra Utara pada 2022.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 30 Juni 2022  |  16:55 WIB
Inflasi Sumut Tiga Bulan Melampaui Sasaran Nasional, Ini Bahayanya
Ilustrasi. Petani memanen cabai di persawahan Desa Terkesi, Grobogan, Jawa Tengah, Senin (14/1/2019). - ANTARA/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, MEDAN — Bank Indonesia mengingatkan ancaman gelombang tinggi inflasi yang berpotensi melanda Sumatra Utara pada 2022.

Laju inflasi provinsi ini tercatat mengalami tren peningkatan sejak beberapa bulan terakhir. Sejak Maret 2022, laju inflasi tahunan Sumatra Utara tercatat melampaui target sasaran inflasi nasional sebesar 3 persen+1 persen.

"Secara keseluruhan tahun 2022, inflasi Sumatra Utara diprakirakan akan lebih tinggi dari tahun 2021, dan berpotensi berada di atas rentang target inflasi nasional," kata Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara Ibrahim, Kamis (30/6/2022).

Inflasi di Sumatra Utara mengalai tren peningkatan secara tahunan atau year on year (yoy). Pada awal tahun atau Januari 2022, inflasi Sumatra Utara langsung melambung 1,03 persen atau meningkat 2,30 persen (yoy). Jumlahnya kemudian meningkat pada Februari 2022 menjadi 2,45 persen (yoy).

Lonjakan drastis terjadi mulai Maret 2022. Angka inflasi menjadi 3,26 persen (yoy) atau mulai berada di atas sasaran inflasi nasional. Tren ini berlanjut pada April 2022. Laju inflasi Sumatra Utara tercatat meningkat sebesar 3,63 persen (yoy). Begitu juga pada Mei 2022 yang tercatat 4,18 persen (yoy).

Menurut Ibrahim, inflasi pada Mei 2022 lalu karena disebabkan komoditas minyak goreng. Bahan pangan pokok ini menjadi faktor utama pembentukan inflasi karena tingginya harga minyak goreng jenis curah di pasaran. Lonjakan inflasi di Sumatra Utara diperkirakan belum berhenti alias masih akan terjadi pada Juni 2022.

"Pada Juni 2022, inflasi Sumatra Utara, baik secara bulanan maupun tahunan, diprakirakan masih mengalami tekanan inflasi yang cukup tinggi dibandingkan bulan sebelumnya," katanya.

Kondisi di atas, lanjut Ibrahim, tak lepas dipengaruhi oleh faktor cuaca. Sebab, pada masa itu curah hujan relatif masih tinggi sehingga berpengaruh terhadap produksi sejumlah komoditas hortikultura.

Di samping itu, ada pula faktor harga pupuk dan pakan ternak melonjak serta tarif angkutan udara yang diprakirakan tetap tinggi seiring perkembangan mobilitas masyarakat dan harga avtur dunia.

Menurut Ibrahim, peningkatan inflasi Sumatra Utara didorong oleh perbaikan pendapatan masyarakat seiring proses pemulihan perekonomian. Peningkatan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal lainnya seperti ketegangan geopolitik dunia, kebijakan dalam negeri Tiongkok soal penanganan Covid-19.

Kemudian karena kenaikan harga energi dan pangan global serta kebijakan proteksionisme pangan beberapa negara. Oleh karena itu, kata Ibrahim, Bank Indonesia menyarankan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) agar mengambil kebijakan yang tepat demi mengantisipasi tekanan inflasi.

Khususnya pada kelompok bahan makanan melalui upaya keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, peningkatan produksi dan kelancaran distribusi.

"Bank Indonesia bersama TPID terus mengimbau masyarakat untuk melakukan belanja secara bijak sesuai dengan kebutuhan," kata Ibrahim.

Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Pemprov Sumatra Utara Naslindo Sirait mengatakan, penanganan inflasi mesti mengacu pada asal-usul penyebabnya.

Menurut Naslindo, inflasi umumnya disebabkan oleh dua hal. Yakni karena peningkatan harga kebutuhan dan peningkatan demand atau permintaan.

"Untuk Sumatra Utara dari Januari sampai Mei 2022 terjadi tren peningkatan inflasi baik inflasi inti maupun inflasi karena volatile food," kata Naslindo kepada Bisnis.

Naslindo mengatakan, terdapat sejumlah komoditas yang selama ini kerap menyumbang inflasi di Sumatra Utara. Antara lain cabai merah, bawang merah, daging sapi, ikan dencis dan tiket pesawat terbang.

Untuk cabai merah dan bawang merah, menurut Naslindo, kenaikan harga terjadi akibat suplai berkurang. Dari sisi produksi, menurutnya, Sumatra Utara memang mengalami surplus. Akan tetapi, hasilnya didistribusikan ke luar daerah.

Selain itu, faktor cuaca hingga kondisi geopolitik juga berperan menyumbang kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan.

"Yang terakhir banyak petani cabai beralih menanam komoditas lain seperti jagung, karena di bulan-bulan sebelumnya harga cabai turun sangat rendah sehingga beberapa petani rugi dan trauma," kata Naslindo.

Naslindo mengatakan, sisi permintaan juga mempengaruhi laju inflasi di Sumatra Utara. Pada waktu dekat, umat Muslim akan merayakan Iduladha. Umumnya, permintaan terhadap hewan kurban akan melonjak. Seperti sapi dan hewan ternak lainnya.

Perilaku tersebut saat ini dihadapkan dengan adanya wabah Penyakit Kuku dan Mulut (PMK). "Tentu suplai akan terganggu," katanya.

Tak berhenti di situ, Naslindo memprediksi kebutuhan masyarakat terhadap barang-barang seperti perlengkapan sekolah juga akan meningkat pada Juli dan Agustus 2022. Peningkatan ini diyakini juga bakal memicu inflasi.

Selanjutnya, terdapat berbagai kebijakan pemerintah pusat seperti pembatasan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis tertentu dan kenaikan tarif listrik. "Ini juga diperkirakan akan memicu inflasi," ujarnya.

Lebih lanjut, Naslindo menjabarkan berbagai upaya yang akan dilakukan pihaknya demi meredam laju inflasi. Saat ini, Pemprov Sumatra Utara memacu peningkatan produksi pangan dengan cara pemberian bantuan bibit, pupuk, alat pertanian serta penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pemerintah provinsi juga mendorong hilirisasi produk pertanian. Dalam waktu dekat, Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi akan menerbitkan peraturan tentang mekanisme pola tanam demi memastikan konsistensi terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat.

"Kami juga mendorong penggunaan informasi teknologi, baik untuk sektor hulu maupun hilir. Termasuk untuk mendorong petani atau UKM memanfaatkan market place. Apabila terjadi kegagalan pasar, maka pemerintah siap dengan operasi pasar murah," katanya.

Terpisah, pengamat ekonomi asal Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin memprediksi Sumatra Utara berpeluang mencetak inflasi tinggi pada Juni 2022 mendatang. Penyebabnya antara lain karena harga komoditas cabai merah.

"Bulan Juni inflasi berpeluang lebih tinggi dibandingkan Bulan Mei yang lalu. Salah satu penyumbang inflasi besar yang akan mendorong kenaikan inflasi di Sumatra Utara adalah kenaikan harga cabai," kata Gunawan.

Harga cabai merah di Sumatra Utara sempat menyentuh Rp130.000 per kilogram. Namun belakangan ini terjadi penurunan. Berdasar pantauan, harga cabai merah dijual antara Rp70.000 - Rp80.000 per kilogram pada Rabu (29/6/2022).

Menurut Gunawan, harga cabai merah pada Juni 2022 rata-rata mengalami peningkatan 144 persen dibanding bulan sebelumnya. Selain cabai merah, kenaikan serupa juga alami harga cabai rawit, bawang merah dan telur ayam.

"Selain beberapa komoditas bahan pangan yang mengalami kenaikan tersebut, sejumlah komoditas lainnya membukukan penurunan harga. Di antaranya adalah daging ayam, minyak goreng dan bawang putih," kata Gunawan.

Melihat kondisi yang terjadi, Gunawan memprediksi Sumatra Utara bakal mengalami inflasi di atas 0,8 persen pada Juni 2022. Secara tahun berjalan (Januari - Juni 2022), laju inflasinya diperkirakan juga di atas 3,5 persen.

Dengan begitu, terdapat kemungkinan besar laju inflasi Sumatra Utara pada Juni 2022 masih tetap berada di atas target inflasi nasional. "Padahal ini masih bulan Juni, besar kemungkinan akan jebol di atas 4 persen hingga tutup tahun," katanya.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), Sumatra Utara mengalami inflasi sebesar 0,74 persen pada Mei 2022. Jumlah tersebut meningkat 4,18 persen dibanding periode yang sama tahun lalu atau year on year (yoy).

Kurun Januari - Mei 2022, tingkat inflasi Sumatra Utara tercatat 2,75 persen. Sedangkan pada April 2022 lalu, inflasi di provinsi ini sebesar 0,44 persen. Seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatra Utara tercatat kompak mengalami inflasi pada Mei 2022.

Antara lain Kota Sibolga sebesar 0,85 persen, Kota Pematangsiantar sebesar 0,62 persen, Kota Medan sebesar 0,76 persen, Kota Padangsidimpuan sebesar 0,77 persen dan Kota Gunung Sitoli sebesar 0,05 persen.

"Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran," ujar Kepala BPS Sumatra Utara Nurul Hasanudin, Kamis (2/5/2022).

Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan harga pada Mei 2022 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,42 persen, kemudian kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,21 persen, lalu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,06 persen.

Selanjutnya kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,52 persen, kemudian kelompok kesehatan sebesar 0,41 persen, lalu kelompok transportasi sebesar 1,16 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,38 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,00 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,21 persen.

Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan serta kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan harga.

Berdasar catatan BPS, komoditas utama penyumbang inflasi selama Mei 2022 di Sumatra Utara adalah angkutan udara, daging ayam ras, ikan dencis, bawang merah, telur ayam ras, ikan tongkol/ambu-ambu, dan jeruk.

Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai merah, bawang putih, minyak goreng, bayam, kangkung, tomat, dan nanas. Secara ringkas, terdapat sembilan dari sebelas kelompok pengeluaran yang menyumbang andil inflasi di Sumatra Utara pada Mei 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi sumut
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top