Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

OJK: Industri Jasa Keuangan di Sumbar Triwulan I/2022 Tumbuh Positif

Kepala OJK Sumbar Yusri menjelaskan pertumbuhan ekonomi pada jasa industri keuangan itu bisa dilihat pada aset perbankan di Sumbar yang tumbuh 12,45% (yoy). Sedangkan kredit perbankan tumbuh sebesar 7,63 % (yoy).
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 16 Mei 2022  |  18:08 WIB
OJK: Industri Jasa Keuangan di Sumbar Triwulan I/2022 Tumbuh Positif
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, PADANG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan kinerja industri jasa keuangan di Sumatra Barat hingga Maret 2022 atau triwulan I/2022 tumbuh positif, seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

Kepala OJK Sumbar Yusri menjelaskan pertumbuhan ekonomi pada jasa industri keuangan itu bisa dilihat pada aset perbankan di Sumbar yang tumbuh 12,45% (yoy). Sedangkan kredit perbankan tumbuh sebesar 7,63 % (yoy).

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK), kata Yusri, perbankan tumbuh sebesar 10,88% (yoy). Dengan profil risiko yang masih terjaga pada level terkendali dengan Non Performing Loans (NPL) gross tercatat sebesar 1,86%.

"Kalau pada perbankan syariah di Sumbar juga menunjukan kinerja yang menggembirakan. NPL nya hanya beda tipis dengan perbankan konvensional," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (16/5/2022).

Yusri menjelaskan kabar gembira pada perbankan syariah itu dapat dilihat pada aset dan pembiayaan perbankan syariah yang tercatat tumbuh masing-masing sebesar 16,44% (yoy) dan 18,59% (yoy), Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah tumbuh 15,51% (yoy) dan Rasio Non Performing Finance (NPF) sebesar 1,98%.

Kabar menggembirakan juga ditunjukan oleh kinerja BPR dan BPRS, dimana untuk BPR dan BPRS di Sumbar juga mengalami pertumbuhan positif. Posisi Maret tahun 2022, Kredit tumbuh sebesar 6,00% (yoy).

Melihat dari sisi penghimpunan dana, Dana pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 9,33% dengan Rasio Non Performing Loans (NPL) sebesar 6,95%.

"Fungsi intermediasi BPR dan BPRS cukup baik terlihat dari Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 94,63%, rasio permodalan (CAR) masih cukup baik 29,22%," ujarnya.

Yusri memaparkan, melihat pada Industri Keuangan Non Bank, khususnya Perusahaan Pembiayaan, pada Maret 2022, Piutang Pembiayaan mengalami pertumbuhan negatif 1,09% (yoy).

Namun NPL mengalami perbaikan menjadi 2,88% dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar 3,95%.

Sedangkan dari Industri Pasar Modal, jumlah Single Investor Identification (SID) terus mengalami peningkatan.

Pada posisi Maret 2022, SID didominasi oleh Investor Reksa Dana yang mencapai 110.417 Investor dan kemudian disusul oleh Investor Saham sebanyak 54.313 investor, Investor Surat Berharga Negara (SBN) baru tercatat sebanyak 4.659 investor.

Lalu Investor Efek Beragun Aset (EBA) baru sebanyak 3 investor. Dari 54.313 investor saham 70,30% didominasi oleh usia dibawah 30 tahun.  Jumlah SID Investor Saham tumbuh sebesar 66,38% dengan transaksi sebesar Rp1,81 Triliun, tumbuh sebesar 35,17% (yoy).

"OJK melihat untuk industri pasar modal ternyata masih bagus di Sumbar," ucap Yusri.

Menurutnya hal yang membuat pertumbuhan positif terhadap industri jasa keuangan didorong oleh kebijakan restrukturisasi kredit/pembiayaan bagi debitur yang terdampak penyebaran Covid-19

Sampai dengan posisi Maret 2022, Industri Perbankan di Sumbar telah memberikan restrukturisasi kredit/pembiayaan kepada 82.344 Debitur dengan outstanding sebesar Rp6,24 triliun.

Selama periode restrukturisasi kredit/pembiayaan perbankan berjalan, restrukturisasi kredit/pembiayaan dengan jumlah debitur tertinggi berada pada posisi bulan Juni 2020 dengan total 151.807 debitur, sedangkan jumlah outstanding kredit/pembiayaan tertinggi pada bulan September 2020 sebesar Rp10,15 triliun.

Pada posisi Maret 2022 Perusahaan Pembiayaan telah memberikan restrukturisasi pembiayaan kepada 95.044 Debitur dengan outstanding sebesar Rp3,67 triliun.

"OJK juga mendorong perbankan berperan aktif dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional, antara lain melalui penyaluran KUR maupun memanfaatkan stimulus yang diberikan oleh Pemerintah berupa subsidi bunga," sebut Yusri.

Selain itu untuk penyaluran KUR, sampai Maret 2022, outstanding KUR yang telah disalurkan perbankan Sumbar mencapai Rp2,95 triliun kepada 53.647 debitur. (k56)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

OJK sumbar
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top