Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Siasat Eksportir Karet Menghadapi Kelangkaan Kontainer Global

Volume ekspor komoditas karet dari Sumatra Utara pada pengapalan Januari 2022 akan semakin lancar ketimbang bulan sebelumnya.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 12 Januari 2022  |  15:17 WIB
Seorang pekerja menyortir lump karet (pembekuan getah karet secara alami) - Antara
Seorang pekerja menyortir lump karet (pembekuan getah karet secara alami) - Antara

Bisnis.com, MEDAN - Volume ekspor komoditas karet dari Sumatra Utara pada pengapalan Januari 2022 akan semakin lancar ketimbang bulan sebelumnya.

Hal ini didorong oleh langkah para buyer menggunakan cargo break bulk kapal konvensional sebagai alternatif demi menyiasati keterbatasan unit kontainer.

"Sebab kelangkaan kontainer secara global masih terjadi," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara Edy Irwansyah, Rabu (12/1/2022).

Melihat kondisi, Edy menyarankan industriawan pengolahan karet agar melakukan evaluasi mendalam terhadap kinerja produksi.

Sebab, para buyer saat ini cenderung meningkatkan volume pembelian karet dari Thailand berdasar Standard Thailand Rubber (STR).

Di sisi lain, musim kering akan dialami wilayah pada Januari 2021. Kondisi tersebut akan turut mempengaruhi produksi kebun karet di Sumatra Utara.

"Keadaan ini juga akan mempengaruhi kinerja ekspor, diperkirakan masih stagnan," kata Edy.

Geliat ekspor komoditas karet Sumatra Utara tidak didukung dengan ketersediaan metalbox pengemas dan kontainer pengangkut yang memadai. Akibatnya, kinerja ekspor karet masih stagnan pada tahun 2021 lalu.

"Pengapalan pada Desember masih diwarnai dengan adanya delay shipment karena adanya keterbatasan metalbox pengemas karet dan keterbatasan ketersediaan kontainer. Dengan adanya keterbatasan ini, kinerja ekspor karet Sumatra Utara diperkirakan masih stagnan," ujar Edy.

Pada Desember 2021, volume ekspor komoditas karet dari Sumatra Utara tercatat naik siginifikan dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan mencapai 7,5 persen menjadi 39.636 ton.

Catatan di atas menempatkan volume ekspor pada Desember menjadi yang tertinggi sepanjang tahun 2021.

"Adanya kenaikan di akhir tahun 2021 tersebut masih merupakan cerminan dari realisasi kontrak-kontrak yang masih ada delay shipment pada bulan-bulan sebelumnya," ujar Edy.

Terdapat lima negara asing yang menjadi tujuan ekspor terbesar karet asal Sumatra Utara pada Desember 2021. Posisi puncak masih diduduki Jepang dengan kontribusi 32,67 persen.

Disusul Brazil dengan 10,43 persen, kemudian USA sebanyak 9,63 persen, lalu Turki sebesar 9,51 persen dan China sebesar 6,64 persen.

Secara kumulatif, volume ekspor periode Januari-Desember 2021 tercatat cuma mengalami kenaikan 0,4 persen menjadi 39.636 ton dibanding periode yang sama tahun 2020. Meski demikian, menurut Edy, kinerjanya tetap lebih baik.

Secara berturut, volume ekspor karet asal Sumatra Utara untuk 2019, 2020 dan 2021 adalah 410.072 ton, 380.005 ton, dan 381.668 ton.

"Walaupun kinerja ekspor 2019 masih jauh lebih baik karena belum ada dampak pandemi Covid-19," kata Edy.

Pada awal tahun 2022 ini, sudah terdapat 748.000 kilogram karet asal Sumatra Utara yang diekspor ke mancanegara via Pelabuhan Belawan.

Jumlah itu terdiri atas komoditas karet lempengan sebanyak 424.000 kilogram dengan nilai barang Rp11 miliar dan karet lembaran sebanyak 324.000 kilogram senilai Rp8 miliar. Keduanya komoditas tersebut diekspor ke China, India dan Mesir.

Angka di atas belum termasuk komoditas kayu karet sebanyak 984 meter kubik yang diekspor ke Singapura, Belgia, India, Prancis dan Malaysia. Nilai barangnya mencapai Rp6 miliar.

Secara total, nilai komoditas yang diekspor melalui Pelabuhan Belawan sudah lebih dari Rp241 miliar kurun 1-8 Januari 2022.

Komoditas kopi biji menyumbang nilai ekspor tertinggi. Balai Besar Karantina Pertanian Belawan mencatat sudah lebih 864.000 kilogram kopi biji yang dikirim ke 12 negara asing.

Yakni Irlandia, Belgia, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Inggris, China, India, Australia, Kanada dan Taiwan. Nilai barang yang diperdagangkan mencapai lebih Rp67 miliar.

"Iya, kopi biji menjadi komoditas dengan nilai barang tertinggi," ujar Sub Koordinator Insartek Karantina Tumbuhan Balai Besar Karantina Pertanian Belawan Sari Narulita Hasibuan kepada Bisnis.

Setelah kopi biji, komoditas yang menyumbang nilai ekspor terbesar adalah minyak sawit senilai Rp44 miliar, pinang biji senilai Rp30 miliar, RBD Palm Olein senilai Rp24 miliar dan karet lempengan senilai Rp11 miliar.

Berdasarkan data yang diperoleh, sektor pertanian masih mendominasi komoditas ekspor dengan nilai Rp228 miliar. Jumlah itu terdiri atas komoditas perkebunan senilai Rp225 miliar, komoditas hortikultura senilai Rp2,4 miliar dan komoditas tanaman pangan senilai Rp411 juta.

Sedangkan untuk sektor non pertanian menyumbang sekitar Rp12,6 miliar. Terdiri atas komoditas kehutanan senilai Rp12,6 miliar dan lainnya sekitar Rp1,2 juta.

"Alhamdulillah, masih baik di awal tahun walau eksportir masih mengawali kontrak-kontrak awal tahun," kata Sari.

Masih dari data Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, beberapa komoditas yang diekspor pada awal tahun ini di antaranya ampas sawit, asam Jawa, buah asam, bunga krisan, bunga pala, bungkil jagung, gambir, hydrogenate palm kernel olein, jernang, kapulaga.

Kemudian karet lembaran, karet lempengan, kayu durian, kayu karet, kayu manis, kelapa parut, kemenyan, kopi biji, minyak sawit, nipah, Palm Kernel Stearin, pinang biji, RDB Palm Olein, santan kelapa, sapu lidi, teh, tembakau kering dan tepung sagu.

Komoditas-komoditas tersebut diekspor ke sejumlah negara. Yakni Vietnam, India, China, Jepang, Korea Selatan, Myanmar, Bangladesh, Kolombia, Ekuador, Peru, Chile, Thailand, Mesir, Belanda, Singapura, Belgia, Prancis, Malaysia.

Lalu ke Brazil, Algeria, Republik Dominika, Arab Saudi, Inggris, Irak, Spanyol, Irlandia, Australia, Kanada, Taiwan, Amerika Serikat, Turki, Maroko, Pakistan, Uni Emirat Arab, Iran dan Haiti.

Sedikit mundur ke belakang, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat golongan karet dan barang dari karet mengalami kenaikan nilai ekspor tertinggi dari Sumatra Utara pada November 2021 lalu.

Dibanding Oktober 2021, nilai ekspor golongan karet dan barang dari karet tercatat senilai US$18,36 juta atau meningkat 16,58 persen.

"Diikuti golongan bahan kimia organik naik sebesar US$11,28 juta atau 19,77 persen," ujar Koordinator Fungsi Distribusi BPS Sumatra Dinar Butar-butar.

Akan tetapi, secara keseluruhan nilai ekspor Sumatra Utara melalui pelabuhan muat justru mengalami penurunan pada November 2021 dibanding Oktober 2021.

Yaitu dari US$1,10 miliar menjadi US$988,88 juta atau turun sebesar 10,12 persen. Nilai tersebut tercatat meningkat sebesar 37,12 persen bila dibandingkan November 2020.

Golongan barang yang menyumbang penurunan ekspor pada November 2021 dibanding Oktober 2021 adalah lemak dan minyak hewan atau nabati. Penurunannya sebesar US$188,23 juta atau -33,89 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor karet sumut
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top