Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sumbar Mencari Investor untuk Komoditas Gambir

Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan sebagian besar komoditas gambir Sumbar diekspor ke India, dan ada sebagian kecil dikirim ke pasar domestik.
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 27 Oktober 2021  |  19:04 WIB
Petani gambir di Sumbar - Bisnis/Noli Hendra
Petani gambir di Sumbar - Bisnis/Noli Hendra

Bisnis.com, PADANG - Pemerintah Provinsi Sumatra Barat melakukan sejumlah langkah-langkah untuk mengangkat perekonomian komoditas gambir, yang kini tengah dilema dengan kondisi harga yang jauh dari kata layak.

Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan sebagian besar komoditas gambir Sumbar diekspor ke India, dan ada sebagian kecil dikirim ke pasar domestik.

Kendati gambir telah di ekspor, tapi nyatanya kini kondisi ekonomi petani gambir tidak sebaik di awal-awal mulai berkembangnya komoditas gambir di Sumbar.

"Dulu, semua orang bergerak untuk bertanam gambir, karena harganya bagus, bisa mencapai Rp100 ribu per kilogramnya. Petani gambir dulu itu, benar-benar hidup dalam ekonomi yang sehat. Tapi sekarang, nasib petani gambir, jauh dari kata layak," kata Mahyeldi, Rabu (27/10/2021).

Akhir-akhir ini harga gambir di Sumbar bervariatif di antara sejumlah daerah yang memiliki perkebunan gambir, mulai dari belasan ribu hingga puluhan ribu rupiah per kilogramnya.

Padahal untuk memproduksi gambir itu menjadi layak jual, prosesnya tidaklah mudah. Persoalannya bukan lambatnya produksi, tapi melainkan adanya permainan pasar.

"Gambir di Sumbar hanya India yang menerimanya. Jadi dikarenakan cuma 1 negara yang menerima, banyak petani menilai harga yang terjadi itu adalah permainan India," ujarnya.

Mahyeldi pun tidak menyalahkan India, tapi ada juga petani yang ternyata tidak jujur dalam memproduksi gambirnya, seperti adanya ditemukan getah gambir di campur tanah. Hal itu jelas, mencoreng petani gambir, dan membuat India menurunkan harga belinya.

Menurut gubernur yang juga sarjana pertanian ini, petani juga perlu untuk memastikan kualitas gambir yang diproduksi adalah kualitas yang bagus.

Seperti halnya di Kabupaten Limapuluh Kota, produksi gambir di sana adalah kualitas yang bagus di antara produksi gambir lainnya yang ada di Sumbar, seperti dari Kabupaten Solok Selatan dan sebagian kecil dari daerah lainnya.

"Untuk itu, saya melihat perlu ada langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan komoditi gambir ini, sehingga ekonomi petani kembali membaik," harap gubernur.

Belum lama ini, Pemprov Sumbar bersama Kementerian Investasi/BKPM lakukan pengkajian terhadap peta peluang investasi komoditas gambir Sumbar yang akan disiapkan sebagai informasi bagi investor yang akan menanamkan modal terkait industri tersebut.

Menurutnya langkah tersebut sangat tepat dilakukan, sehingga kedepannya bisa mewujudkan perbaikan perekonomian bagi petani gambir Sumbar.

"Indonesia adalah produsen 80 persen gambir dunia. Sumbar adalah daerah penyumbang komoditas gambir terbesar di Indonesia. Ini adalah potensi besar. Namun perekonomian petani gambir tetap belum terangkat," katanya.

Mahyeldi berharap banyak adanya dukungan dari BKPM itu, karena bisa menyelamatkan petani gambir di Sumbar dari monopoli pedagang dalam menetapkan harga. Artinya kualitas gambir dan SDM petani yang perlu dibenahi.

Bangun BUMD Gambir

Pemerintah menurutnya harus melakukan intervensi untuk menyelesaikan persoalan itu. Salah satu wacana yang dikembangkan adalah membentuk BUMD khusus gambir yang membeli produk pada petani dengan harga keekonomian kemudian menjual kembali pada pedagang.

Namun kebijakan tersebut membutuhkan kajian lebih dalam karena itu dukungan dari Kementerian Investasi sangat besar artinya.

"Kita berharap akan ada solusi secepatnya sehingga petani gambir Sumbar bisa sejahtera," ujarnya.

Melihat kondisi gambir di Sumbar, Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Daya Saing Penanaman Modal BKPM, Kementerian Investasi Heldy Satrya Putra mengatakan peluang investasi gambir di sumbar sangat besar.

"Untuk melakukan langkah-langkah yang strategis, kita akan melihat dari hasil kajian. Saat ini kami masih berproses dalam menyusun kajian ini," tegasnya di Padang kemarin.

Menurutnya kalau kajian tersebut sudah selesai, akan bisa dilihat sebesar apa peluangnya dan informasi itu yang akan disampaikan kepada calon investor untuk berinvestasi di sumbar khususnya di sektor gambir.

"Jadi Kementerian Investasi menurutnya juga akan menyiapkan studi bagaimana industri pengolahan gambir dapat di kembangkan di Sumbar," ungkapnya.

Kemudian dibuatkan juga kajian tentang pasar. Seperti apa pasar yang harus dikembangkan untuk komoditas gambir di Sumbar.

"Pada akhirnya kita berharap kualitas komoditas gambir dapat ditingkatkan, industri dapat dikembangkan untuk pengolahan gambir sehingga gambir tidak hanya menjadi bahan mentah tetapi sudah menjadi bahan yang diolah di Sumbar," tambahnya,

Kemudian kajian atau peta potensi ini dapat pula digunakan untuk meyakinkan para investor berinvestasi di Sumbar untuk mengembangkan komoditas gambir.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar Syafrizal mengakui bahwa kondisi saat ini komoditas gambir di Sumbar tengah dimonopoli. Apalagi tidak adanya ketentuan dari pemerintah soal harga gambir, sehingga eksportir semena-mena menetapkan harganya.

"Sejauh ini kita berharap masyarakat petani gambir bisa berinovasi, seperti bisa mengelola gambir sendiri, seperti yang pernah dilakukan jadi pewarna batik yang bahannya dari gambir," sebut terpisah.

Dia menjelaskan di Sumbar luas lahan perkebunan gambir mencapai 31.791 hektar dengan produksi 17.057 ton pada kondisi tahun 2019.

Terdapat 32.135 keluarga yang menggantungkan hidupnya ke perkebunan gambir. Sumbar adalah penyedia 2/3 gambir Indonesia.

Gambir diekspor ke India sebanyak l.000 ton/bulan. Gambir dapat digunakan sebagai bahan baku industri seperti farmasi, kosmetik, batik/tekstil, cat, penyamak kulit, biopestisida, pigmen, minuman, dan campuran bahan pelengkap makanan. (k56)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumbar
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top