Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ada Stok 7.000 Ton Kedelai di Tiga Distributor Sumut

Terdapat enam perusahaan importir kedelai di Sumut. Apabila diakumulasikan, keenam perusahaan tersebut kemungkinan memiliki stok kedelai hingga 12.000 ton pada bulan ini.
Cristine Evifania Manik
Cristine Evifania Manik - Bisnis.com 12 Januari 2021  |  11:10 WIB
Ilustrasi. - Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Ilustrasi. - Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, MEDAN - Stok kedelai impor Sumut untuk Januari dari tiga perusahaan importir kedelai diperkirakan sebanyak 7.000 ton.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Sumut Barita Sihite menjelaskan stok tersebut merupakan akumulasi dari tiga perusahaan importir kedelai terbesar di Sumut.

“Menurut hitung-hitungan kita, kebutuhan sampai Januari masih tercukupi. Ada 7.000 ton, baru dari tiga distributor,” kata Barita, Selasa (12/1/2021).

Barita mengatakan terdapat enam perusahaan importir kedelai di Sumut. Apabila diakumulasikan, keenam perusahaan tersebut kemungkinan memiliki stok kedelai hingga 12.000 ton pada bulan ini. Kebutuhan kedelai Sumut tiap bulan sekitar 12.000 ton

Naiknya harga kedelai disinyalir akibat dua permasalahan utama. Pertama, kenaikan harga di pasar global akibat double order dari China. Kedua, terjadi hambatan pengiriman kedelai dari Benua Amerika, khususnya Argentina.

“Ada keterlambatan kontainer dari Amerika. Dari tiga distributor yang kita datangi, satu pun jatah mereka di bulan Januari belum masuk. Malah kemarin masih ada jatah Desember belum semua terpenuhi kuotanya. ” tambah Barita.

Sebelumnya, Kepala KPPU Wilayah I Ramli Simanjuntak menyatakan harga tempe dan tahu di pasar sudah mencapai Rp14.000 per kilo. Selain kedua masalah di atas, menurut Ramli hal yang perlu diperhatikan adalah antisipasi permainan harga pada proses distribusi dari pabrik tahu/ tempe ke pedagang eceran.

“Nanti kita cek distributor. Makanya saya bilang jangan main harga dan pasokan para distributor,” kata Ramli, Rabu (6/1/2021).

Untuk diketahui, hingga saat ini sekitar 80 hingga 90 persen kebutuhan kedelai Sumut dipasok oleh kedelai impor dari Benua Amerika.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedelai sumut
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top