Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tengkulak Dituding Berperan Tekan Harga Karet di Sumbar

Petani berharap adanya keterlibatan pemerintah untuk membantu petani karet.
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 05 Oktober 2020  |  16:55 WIB
Sejumlah pekerja memasukkan getah karet. - Antara/Aji Styawan
Sejumlah pekerja memasukkan getah karet. - Antara/Aji Styawan

Bisnis.com, PADANG - Petani karet di Provinsi Sumatra Barat menghadapi dilema melihat harga karet yang tidak menunjukkan tanda membaik dalam dua tahun terakhir.

Hingga awal Oktober ini harga kadar karet kering 40 persen tercatat masih berada di angka Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogramnya. Harga itu terbilang terpuruk dan tidak mensejahterakan petani.

"Tidak ada baik-baiknya ekonomi petani karet saat ini, harga masih terpuruk. Jika mau ditebang pohon-pohon karet ini, rasanya rugi juga, karena menunggunya tumbuh itu cukup lama," ujar Zulkarnain, petani karet di Kabupaten Dharmasraya, Senin (5/10/2020).

Menurutnya banyak petani di daerahnya itu menduga tak kunjung membaiknya harga karet itu adanya peran praktik tengkulak yang mempermainkan harga karet. Sebab jika mengikuti harga pasaran dunia, harusnya mengalami turun naik, tapi sejauh ini harga itu seakan bertengger segitu-gitu saja.

Zul dan para petani lainnya berharap ada keterlibatan pemerintah untuk mengawasi kegiatan kemungkinan adanya peran praktek tengkulak. Bila hal itu tidak kunjung diatasi, lama-lama akan membuat perekonomian petani karet semakin memburuk dan bahkan jatuh miskin.

"Saya ada berpikir untuk beralih dari berkebun karet ke kelapa sawit. Tapi kondisi harga jual kelapa sawit pun saya pantau tidak begitu baik, dan jika pun jadi beralih perkebunan tentu saya harus mengeluarkan biaya lagi," ungkap dia.

Selain berharap adanya keterlibatan pemerintah untuk membantu petani karet, Zul juga berharap ada semacam bimbingan dari pemerintah untuk petani karet agar ada inovasi yang bisa dilakukan, sehingga perekonomian petani karet pun segera membaik.

"Khusus di Jorong Kubang Panjang ini sedikitnya ada 80 persen keluarga di wilayahnya merupakan petani karet. Makanya roda ekonomi di daerah ini bergantung pada harga karet," tegas Zul.

Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar Syafrizal mengatakan harga karet memang belum begitu banyak berubah di daerahnya itu dan kondisi tersebut sudah cukup lama dirasakan. Padahal cukup banyak keluarga yang menggantung perekonomian dari hasil berkebun karet tersebut yang tersebar di sejumlah daerah di Sumbar.

Dia menjelaskan untuk di Sumbar luas lahan perkebunan rakyat karet itu 181.002 hektar dengan produksi 163.801 ton dan produktivitas 1.258 kg per hektar. Memang jumlah petani yang menggantungkan hidupnya dari hasil perkebunan karet itu cukup besar yakni 186.091 keluarga.

"Jadi untuk lahan perkebunan karet di Sumbar ini memang cukup luas dan tersebar di sejumlah daerah salah satunya di Kabupaten Dharmasraya," jelasnya.

Daerah yang menjadi area perkebunan karet di Sumbar itu berada di Kabupaten Sijunjung, Dharmasraya, Pesisir Selatan, Solok Selatan, Pasaman dan sebagian Kabupaten Solok, Solok Selatan dan Limapuluh Kota. Karet merupakan salah satu dari lima komoditas strategis yang menjadi unggulan baik di Sumbar maupun di secara Nasional selain dari kelapa sawit, kakao, dan kopi. (K56)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga karet sumbar
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top