Bisnis.com, PADANG - Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara (Sumut) membeberkan sejumlah dampak kebijakan tarif dagang Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor karet alam dari Sumatra Utara.
Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut Edy Irwansyah mengatakan, dampak signifikan akan terasa terutama karena AS merupakan negara tujuan ekspor terbesar kedua karet alam dari Sumut setelah Jepang pada tahun 2024, dengan pangsa ekspor mencapai 20,11%.
"Dengan pangsa ekspor ke AS mencapai 20,11%, kebijakan tarif AS dapat mengancam penurunan volume ekspor dan mempengaruhi industri karet di Sumatra Utara secara signifikan," ujar Edy, Sabtu (5/4/2025).
Edy menyebut setidaknya ada 5 (lima) dampak kebijakan tarif dagang AS terhadap volume ekspor karet dari Sumut. Pertama, penurunan volume ekspor ke AS.
Dia mengatakan penerapan tarif impor menyebabkan harga karet Sumut lebih mahal di pasar Amerika dibandingkan produk dari negara penghasil karet dengan tarif resiprokal yang lebih rendah. Hal ini akan membuat importir AS cenderung mencari pemasok alternatif sehingga menurunkan volume ekspor Sumatra Utara ke AS.
Kedua, kebijakan tarif yang berubah-ubah menciptakan ketidakpastian bagi eksportir karet Sumatra Utara, sehingga sulit membuat strategi ekspor jangka panjang.
Tak hanya itu, lanjutnya, fluktuasi harga dan permintaan akibat tarif membuat pelaku usaha lebih rentan terhadap kerugian dan penurunan pendapatan.
Ketiga, kebijakan tarif dagang akan memberi dampak langsung petani dan industri karet Sumut. Apalagi, Sumut merupakan salah satu produsen karet terbesar di Indonesia.
"Jika ekspor ke AS berkurang, harga karet di tingkat petani bisa turun, berdampak pada kesejahteraan petani dan industri pengolahan karet," jelas Edy.
Keempat, kebijakan terbaru Donald Trump tersebut akan mengganggu rantai pasokan dan biaya produksi industri karet Sumut.
Edy mengatakan perubahan rantai pasokan akibat perang dagang AS-Tiongkok dapat menyebabkan kenaikan biaya produksi lantaran harga bahan baku dan logistik meningkat; serta mempersengit persaingan di industri karet akibat adanya surplus produksi dari negara lain yang mencari pasar alternatif.
Terakhir, lanjutnya, adanya pengaruh nilai tukar Rupiah, dimana pelemahan Rupiah terhadap dolar AS akan membuat biaya produksi dalam negeri meningkat. Sebaliknya, penguatan Rupiah justru membuat biaya ekspor menjadi lebih mahal, mengurangi daya saing karet Sumatra Utara di pasar global.