Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Masuk Zona Merah Corona, Pabrik Karet Tolak Suplai dari Prabumulih

Salah satu pabrik karet di Kota Palembang menolak pengiriman karet dari Kota Prabumulih lantaran daerah itu sudah dinyatakan zona merah penyebaran virus corona (COVID-19).
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 06 April 2020  |  16:13 WIB
Petani memanen getah karet di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (31/1/2020). Dampak wabah virus corona, harga karet di Sumatera Selatan mengalami penurunan dari Rp17.151 per kilogram menjadi Rp14.950 per kilogram untuk kadar karet kering (KKK) 100 persen atau turun 12,8 persen sejak 20 Januari lalu. ANTARA FOTO - Nova Wahyudi
Petani memanen getah karet di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (31/1/2020). Dampak wabah virus corona, harga karet di Sumatera Selatan mengalami penurunan dari Rp17.151 per kilogram menjadi Rp14.950 per kilogram untuk kadar karet kering (KKK) 100 persen atau turun 12,8 persen sejak 20 Januari lalu. ANTARA FOTO - Nova Wahyudi

Bisnis.com, PALEMBANG – Salah satu pabrik karet di Kota Palembang menolak pengiriman karet dari Kota Prabumulih lantaran daerah itu sudah dinyatakan zona merah penyebaran virus corona (COVID-19).

Dari pengumuman yang diberikan sumber Bisnis, pabrik yang berlokasi di Jalan Pangeran Sido Ing Kenayan, Karang Anyar, Kecamatan Gandus, Kota Palembang tersebut tidak bisa menerima suplier dari Kota Prabumulih dengan pertimbangan zona merah corona.

“Khusus kepada supplier asal Prabumulih, untuk sementara ini kami mohon maaaf tidak bisa menerima [suplai]. Kami akan menginformasikan kembali apabila area tersebut sudah dinyatakan steril.” 

Pengumuman tersebut juga memuat langkah itu diambil untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19 dan memberikan perlindungan kepada karyawan pabrik.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan seharusnya pabrik tak perlu mengambil langkah penolakan.

“Virus ini hidup hanya pada tubuh manusia, jadi sangat salah kalau menolak produk karet yang benda mati. Kami imbau pabrik-pabrik tidak perlu panik,” katanya.

Rudi mengatakan pihaknya menganjurkan pabrik untuk membuat SOP di lingkungan kerja, termasuk saat kegiatan transaksi dengan supplier.  Salah satunya dengan menggunakan masker, jaga jarak, bila memungkinkan pakai alat pelindung diri (APD), dan cuci tangan.

“Pihak pabrik juga bisa melakukan desinfeksi sebelum barang tersebut masuk, termasuk kendaraannya,” katanya.

Rudi mengatakan Disbun telah berkoordinasi dengan Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, agar dapat menenangkan anggotanya.

“Sehingga jangan sampai pabrik-pabrik lain ikut ikutan menolak suplier dari Prabumulih, kasihan petani karet,” katanya.

Diketahui, Prabumulih merupakan salah satu sentra penghasil karet, di mana terdapat 13.369 kepala keluarga (KK) yang mengandalkan komoditas itu sebagai mata pencariannya.

Secara geografis, letak Prabumulih berdekatan dengan Kota Palembang sehingga produksi karet petani dikirim ke pabrik-pabrik yang ada di Palembang.

Adapun luas areal kebun karet di Prabumulih mencapai 19.120 hektare dengan total produksi sebanyak 11.787 ton karet kering.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

karet Virus Corona
Editor : Nurbaiti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top