Sumut Perlu Pacu Hilirisasi

Sumatra Utara perlu mempercepat pengembangan sumber-sumber ekonomi baru guna meningkatkan stabilitas ekonomi.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 09 September 2019  |  13:40 WIB
Sumut Perlu Pacu Hilirisasi
/Bisnis

Bisnis.com, MEDAN— Sumatra Utara perlu mempercepat pengembangan sumber-sumber ekonomi baru guna meningkatkan stabilitas ekonomi. Mengingat sumber ekonomi dari komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan karet sensitif dengan fluktuasi harga dan ketidakpastian perekonomian global.

Penurunan ekspor dari komoditas unggulan kelapa sawit dan karet pun berlanjut. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara (Sumut) Wiwiek Sisto Widayat menilai ada bebepa penyebab ekspor komditas unggulan Sumut terus menurun, misalnya masih berlanjutnya perang dagang Amerika Serikat dan China.

“Jadi volume perdagangan dunia menurun signifikan. Turunnya ini menyebabkan permintaan dunia akan komditi karet ataupun sawit menurun,” kata Wiwiek kepada Bisnis dikutip Senin (9/9/2019).

Kemudian, lanjutnya, adanya kelebihan stok sawit di China dan peningkatan pajak impor sawit di India juga membuat sawit tidak lagi kompetitif untuk dijual. Selain itu ada anggapan di negara Eropa sawit merusak lingkungan dan menyebabkan polusi, sehingga Eropa beralih ke negar penghasil sawit yang lebih ramah lingkungan.

Tak hanya itu, harga komoditas sawit dan karet terus mengalami penurunan di pasar komoditi dunia. Wiwiek mengatakan harga crude palm oil /CPO menurun sebesar 19,5% pada 2018 dibandingkan dengan 2017. Harga karet alam juga mengalami penurunan sebesar 16,8% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meski, dalam perkembangan saat ini harga karet sudah menunjukkan peningkatan, sementara CPO masih dalam tren menurun.

“Sumut perlu upaya mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, sehingga mampu keluar dari ancaman resesi,” katanya.

Untuk itu, lanjut Wiwiek, salah satu hal yang dapat dilakukan Sumut adalah terus mendorong pengusaha untuk meningkatkan porsi hilirisasi ke barang-barang jadi. Pasalnya selama ini Sumut masih mengandalkan ekspor barang mentah yang nilai tambahnya kecil.

“Pemprov Sumut juga bisa mendorong lapangan usaha yang masih berpotensi atau berpeluang untuk dikembangkan,”katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara mencatat pada periode Januari- Juni 2019, penurunan ekspor terbesar terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewan/nabati, yakni turun sebesar 18,93% dengan nilai US$87,34 juta. Karet dan barang dari karet juga mengalami penurunan sebesar 12,16% dengan nilai US$70,66 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hilirisasi, sumut

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top