Sumsel Minta Bantuan Alat Berat untuk Kembangkan Lahan tak Produktif

Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan meminta tambahan alat sebanyak 50 unit ekskavator dan 100 unit traktor roda 4 kepada pemerintah pusat untuk memperluas pengembangan lahan kurang produktif di provinsi itu pada tahun ini.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 05 September 2019  |  17:04 WIB
Bisnis.com, PALEMBANG  - Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan meminta tambahan alat sebanyak 50 unit ekskavator dan 100 unit traktor roda 4 kepada pemerintah pusat untuk memperluas pengembangan lahan kurang produktif di provinsi itu pada tahun ini.
 
Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan dari target seluas 200.000 hektare pengembangan lahan rawa yang masuk dalam program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) realisasinya baru mencapai 30%.
 
Menurut gubernur, untuk mempercepat realisasi tersebut dibutuhkan lebih banyak alat di lapangan.
 
“Kami sudah usulkan ke Kementerian pertanian sebanyak 50 unit ekskavator dan 100 unit traktor roda 4. Harapannya ini nanti bisa mempercepat kerja petani untuk membangun infrastruktur di lahan pertanian,” katanya, Kamis (5/9/2019).
 
Dia mengatakan program Serasi sangat efektif meningkatkan produktifitas hasil pertanian petani di Sumsel. Lahan yang tadinya kurang produktif setelah dibangun infrastruktur pengairan dan fasilitas pendukungnya bisa menjadi produktif.
 
Dari yang tadinya hanya 1 kali tanam menjadi 2 kali tanam. Dari 2 kali tanam menjadi 3 kali tanam. Kondisi tersebut membuat produksi beras di Sumsel terus mengalami peningkatan.
 
“Selama 11 bulan program ini berjalan bisa mendongkrak produksi beras Sumsel. Dari peringkat 8 provinsi penyumbang beras nasional, Sumsel saat ini sudah berada di peringkat 5. Bukan tidak mungkin, setelah programnya berjalan bisa jadi peringkat 1 nasional,” katanya.
 
Ia menuturkan, masyarakat pun menyambut antusias pelaksanaan program tersebut. Sebab, bisa meningkatkan pendapatan mereka. Seperti di Desa Sungai Pinang. Petani tadinya hanya bisa satu kali tanam. Sebab, jenis lahannya tadah hujan dimana sewaktu musim kemarau mengalami kekeringan dan musim hujan diserang banjir.
 
“Maka kita terapkan sistem masuk buang airnya. Jadi petani punya alat sendiri, dikerjakan sendiri bersama gapoktan dibawah pengawasan dinas pertanian kabupaten dan provinsi,” katanya.
 
Deru berharap produksi beras di desa tersebut tahun depan bisa meningkat hingga dua kali lipat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top