Sumur Minyak Tua di Aceh Semburkan Migas

Sebuah sumur minyak tua bekas PT. Asamera mengeluarkan semburan minyak dan gas di Desa Seuneubok Lapang, Kecamatan Peureulak Timur, Kabupaten Aceh Timur, pada Selasa (30/7/2019) sekira pukul 21.30 WIB.
Abdul Hadi Firsawan
Abdul Hadi Firsawan - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  17:00 WIB
Sumur Minyak Tua di Aceh Semburkan Migas
Sumur minyak tua bekas PT. Asamera mengeluarkan semburan minyak dan gas di Desa Seuneubok Lapang, Kecamatan Peureulak - BPBD Aceh

Bisnis.com, BANDA ACEH - Sebuah sumur minyak tua bekas PT. Asamera mengeluarkan semburan minyak dan gas di Desa Seuneubok Lapang, Kecamatan Peureulak Timur, Kabupaten Aceh Timur, pada Selasa (30/7/2019) sekira pukul 21.30 WIB.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh mengatakan, sumur tua tersebut mengeluarkan minyak dan gas dengan ketinggian sekitar lima meter dengan radius semburan mencapai 20 meter. Ketika peristiwa tersebut terjadi, terdengar suara dentuman keras dari sumur tua itu.

"Tidak ada korban jiwa dan warga yang harus mengungsi dalam peristiwa ini. Dampak material, semburan minyak dan gas mengenai perkebunan kelapa sawit yang berada di sekitar sumur itu," kata Kepala BPBD Aceh T. Ahmad Dadek, Rabu (31/7/2019).

Hingga Rabu pukul 13.30 WIB, BPBD Aceh mencatat, masih terjadi semburan minyak dan gas dari sumur bekas PT. Asamera. Saat ini, BPBD Aceh Timur dan Muspika kecamatan setempat sudah mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi serta memantau perkembangan situasi secara berkala.

Kepala Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh Mahdinur menduga, kemungkinan sumur tua bekas PT. Asamera telah diproduksi secara ilegal oleh oknum masyarakat.

Padahal, lanjutnya, disekitar lokasi telah dimitigasi dengan dipasang well capping sebagai akibat dari cara penambangan yang tidak memenuhi standar perminyakan. Pemasangan well capping dipermukaan sumur dilakukan oleh PT. Medco E&P Malaka sebelum ditinggalkan pada Oktober 2010 silam.

"Upaya-upaya pencegahan telah dilakukan, namun sulit diindahkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Cukup sudah tragedi [meledaknya sumur minyak ilegal] bulan April 2018 menelan korban meninggal," kata Mahdinur.

Ia berharap, peristiwa meledaknya sumur minyak ilegal di Aceh Timur tahun lalu yang mengakibatkan 20-an orang meninggal dunia menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk tidak lagi memproduksi minyak dari sumur ilegal.

Sebelumnya pada 5 Juli 2019, sebuah sumur minyak tradisional di Aceh Timur juga terbakar. Peristiwa yang terjadi di Gampong Seuneubok Dalam, Kecamatan Ranto Peureulak itu mengakibatkan dua pekerja mengalami luka bakar ringan dan harus dirawat di rumah sakit

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aceh, sumur minyak

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top