Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Geopark Tebat Rasau Terancam Punah oleh Penambangan Timah

Bencana ekologi itu diyakini dipicu oleh aktivitas penambangan timah di badan sungai dan pembukaan pintu air Bendungan Pice yang telah menyebabkan terjadinya kekeringan ekstrem.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  14:16 WIB
Aktivitas penambangan timah di badan sungai. - Istimewa
Aktivitas penambangan timah di badan sungai. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan masyarakat dan aktivis lingkungan di Belitung Timur mendesak pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk bertindak cepat, mencegah bencana ekologi yang saat ini serius mengancam Geosite Tebat Rasau dan Sungai Lenggang.

Bencana ekologi itu diyakini dipicu oleh aktivitas penambangan timah di badan sungai dan pembukaan pintu air Bendungan Pice yang telah menyebabkan terjadinya kekeringan ekstrem. 

“Masyarakat Belitung saat ini sedang euforia menyambut rencana penetapan Geosite Geopark Belitung menjadi UNESCO Global Geopark. Padahal, saat yang sama, sedang berlangsung perusakan lingkungan secara terang-terangan yang potensial memunahkan mega-biodiversity sungai Lenggang dan Geosite Tebat Rasau,” ujar Budi Setiawan, Ketua Yayasan Tarsius Center Indonesia, dalam keterangan persnya, Kamis (25/7/2019).

Budi adalah pendamping pengembangan Komunitas Tebat Rasau di Desa Lintang, Kecamatan Simpang Renggiang, Belitung Timur. Ia mengaku menyaksikan sendiri bahwa sampai dengan Juni 2019 lalu, kondisi air di sungai Lenggang dan Tebat Rasau masih normal. Ketinggian air berada di kisaran 1,5 meter.

“Namun, terhitung sejak 15 Juli 2019, terjadi kekeringan ekstrem dan berlangsung sangat cepat. Melanda sungai Lenggang, khususnya di bagian hulu, termasuk di dalamnya Geosite Tebat Rasau,” lanjutnya.

Menurut cerita masyarakat, katanya, dalam kondisi normal alamiah, dibutuhkan kemarau yang sangat panjang untuk menyebabkan kekeringan seperti ini. Kekeringan yang meliputi seluruh kawasan, termasuk tempat pemijahan alami ikan, juga belum pernah terjadi sebelumnya.

Cepatnya air surut, lanjut Budi, merupakan akibat dari dibukanya pintu air Bendungan Pice. Hal itu yang kemudian menyebabkan banyak ikan, udang, dan berbagai biota air lainnya tidak sempat bermigrasi atau berpindah. Mereka terjebak dan mati mengering.

Berdasarkan fakta yang ditemukan, asal dari bencana ini adalah adanya penambangan timah di badan sungai yang mengotori sungai dan air baku PDAM. Untuk menghindari limpahan air sungai ke air baku serta mengurangi kejenuhan air akibat pencemaran itulah pintu air bendungan kemudian dibuka.

“Namun, dampaknya, ketahanan air di atas Bendungan Pice hingga hulu sungai terbuang dengan sangat cepat,” katanya.

Budi mengatakan bahwa jika ulah dari segelintir orang ini dibiarkan, maka tidak hanya lingkungan yang hancur. Kehidupan ribuan orang di sepanjang sungai juga terdampak. “Demikian pula mega-biodiversity sungai Lenggang hingga Geosite Tebat Rasau, yang baru mau menuju Geopark Dunia, terancam hilang dan punah,” jelasnya.

SUNGAI PURBA

Sungai Lenggang merupakan sungai purba terluas di Pulau Belitung yang terbentuk pada zaman Kenozoikum. Sungai ini dipercaya terhubung dengan sungai-sungai di Kalimantan dan Sumatera Timur, hingga akhirnya mengalir ke Laut Cina Selatan pada zaman Sumdaland.

Realitas itulah yang membuatnya ditetapkan sebagai Geosite Geopark Belitung, dan sekarang menuju ditetapkan menjadi UNESCO Global Geopark.

Sungai Lenggang, menurut Budi Setiawan, merupakan rumah bagi ratusan jenis ikan, termasuk ikan arwana, ikan ampong, dan ikan buntal air tawar, serta beragam binatang lainnya. Ia juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai.

“Kalau tidak segera diambil tindakan, bisa dipastikan, nasib jutaan flora dan fauna, terutama biota air yang tinggal di dalamnya, akan sirna,” tegasnya.

Budi bercerita, kekeringan ekstrem yang hari-hari ini melanda sungai Lenggang dan Geosite Tebat Rasau juga menjadi ironis. Pasalnya, belum genap sebulan assesor dari UNESCO Global Geopark berkunjung ke Belitung. Mereka menyaksikan legenda dan fakta luar biasa tentang sungai Lenggang yang begitu purba dan tempat mega-biodiversity yang masih terjaga.

Selain itu, belum juga genap sebulan (3-5 Juli 2019) Budi mendampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menghadiri Global Biodiversity Conference di Norwegia, yang dihadiri para pemimpin dunia.

“Di sana kita bangga bercerita tentang mega-biodiversity Geosite Belitung. Juga kisah heroik teman-teman Komunitas Tebat Rasau yang berhasil menjaga sungai dan hutan dari gempuran perkebunan sawit, hutan tanaman industri, penambangan, dan upaya perusakan lingkungan lainnya,” katanya. 

Baginya kondisi ini sangat ironis, karena geosite yang membanggakan itu saat ini justru terancam punah. Kerusakan, bahkan kehancuran, lingkungan sudah nyata terjadi.

“Itu semua karena efek samping dari tambang timah di badan sungai yang telah memporakporandakan lingkungan dan mencemari air baku PDAM, sehingga mendorong dibukanya pintu air Bendungan Pice. Ini harus dihentikan,” katan Budi Setiawan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertambangan belitung timur
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top