Bawang Putih Langka, Inflasi di Sumut Diproyeksi Naik pada April 2019

Inflasi di Sumatra Utara diperkiraan naik, salah satunya karena kelangkaan pasokan bawang putih di provinsi itu.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 28 April 2019  |  15:51 WIB
Bawang Putih Langka, Inflasi di Sumut Diproyeksi Naik pada April 2019
Pedagang menata bawang putih impor. - Antara/Rahmad

Bisnis.com, MEDAN -- Kelangkaan bawang putih disebut sebagai salah satu penyebab naiknya proyeksi inflasi Sumatra Utara pada April 2019, yaitu sebesar 0,6%.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatra Utara (Sumut) Wiwiek Sisto Widayat mengatakan pengendalian harga bukan hanya soal mengatur volume stok, tapi juga menyangkut persebaran di beberapa daerah. Jika terdapat daerah yang mengalami kelangkaan atau keterbatasan stok, daerah tersebut pasti akan mengalami inflasi lebih tinggi.

Dia memperkirakan inflasi bakal lebih tinggi pada April 2019, yakni mencapai 0,6%. Perinciannya, inflasi periode April berasal dari cabai merah, bawang putih, angkutan udara, dan bawang merah.

Meski begitu, Wiwiek menyebut perlu upaya mengantisipasi kenaikan harga dari komoditas penyumbang deflasi seperti beras, telur, dan minyak goreng.

"Kemungkinan pada April 2019 terjadi inflasi yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Kemungkinan bisa terjadi inflasi 0,6%, padahal sebelumnya hanya 0,3%," ujarnya, Jumat (26/4/2019).

Di sisi lain, Ketua Satuan Pemantauan Harga Pangan Sumut Kombes Pol Rony Santama menerangkan dari 6 importir, 4 importir di antaranya telah siap secara administrasi untuk mendatangkan bawang putih ke provinsi itu. Dia menegaskan harus dilakukan pengawasan saat pasokan bawang putih masuk untuk memastikan pasokan berasal dari perusahaan pemegang rekomendasi impor.

"Enam perusahaan pengimpor, perusahaan mana saja. Jangan sampai yang memasukkan barang bukan yang enam ini pula. Baru empat katanya yang sudah melengkapi dokumen," ungkap Rony.

Hingga Kamis (25/4/2019), terdapat tiga komoditas yang telah mengalami kenaikan harga. Pertama, bawang putih menjadi Rp52.000 per kilogram (kg) di Medan dengan stok 138,3 ton.

Kedua, bawang merah menjadi Rp33.000 per kg di Medan dengan stok 137,6 ton. Ketiga, cabai merah menjadi Rp32.000 per kg di Medan dengan stok 93,6 ton.

Di sisi lain, kenaikan harga komoditas lain seperti beras juga dinilai tetap perlu diantisipasi. Meski pasokan saat ini tergolong aman, tapi ada kerawanan bila beras banyak dikirimkan ke daerah lain seperti Riau, Kepulauan Riau, dan Jambi karena akan memengaruhi ketersediaan serta harga di Sumut.

Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan (Kemendag) Veri Anggrijono mengakui harga bawang putih di pasar telah melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sebesar Rp20.000 per kg. Harga disebut naik karena pasokan terbatas.

Namun, dia menyatakan stok akan pulih dalam waktu sepekan setelah rekomendasi impor dirilis. Veri mengklaim rekomendasi impor 115.000 ton bawang putih terlambat karena pihaknya menanti rekomendasi dari Kementerian Pertanian (Kementan).

Adapun surat rekomendasi impor disebut telah diterbitkan sejak pekan lalu.

"Kepada importir yang telah mendapatkan jatah segera mengeluarkan. Mereka pasti sudah mengantisipasi. Target kami seminggu ini untuk memenuhi stok," kata Veri.

Dia melanjutkan terdapat sekitar delapan perusahaan yang telah mendapat lampu hijau memasok bawang putih impor. Kendati demikian, volume yang disalurkan ke provinsi tergantung pada kesepakatan bisnis yang diteken importir dengan agen penyalur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, Bawang Putih

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top