Simeulue Kembangkan Budi Daya Lele dengan Sistem Bioflok

Aceh, akan mengembangkan budi daya ikan lele sangkuriang dengan teknologi sistem bioflok.
Newswire | 31 Maret 2019 01:35 WIB
Ilustrasi panen ikan lele hasil budi daya. - Antara/Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, MEULABOH - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh, akan mengembangkan budi daya ikan lele sangkuriang dengan teknologi sistem bioflok atau membuat kolam dengan bahan terpal untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP Simeulue, Samsil Amin, di hubungi dari Meulaboh, Sabtu (30/3/2019), mengatakan teknologi yang dicetuskan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu sudah terbukti keberhasilannya.

"Di beberapa daerah teknologi sistem bioflok ini ada yang berhasil, karena itu kami tahun ini akan melakukan uji coba pengembanganya kolam berbahan terpal atau bioflog yang dilakukan oleh dua kelompok nelayan binaan," paparnya.

Dia mengutarakan sektor perikanan budi daya di Simeulue hingga kini masih terbatas dan dikembangkan oleh masyarakat secara sederhana, hal itu disebabkan oleh warga di daerah kepulauan Aceh itu lebih banyak nelayan perikanan tangkap.

Melalui pengembangan teknologi sistem bioflok tersebut diharapkan bisa meningkatkan produktivitas perikanan budidaya, apalagi teknologi tersebut terbukti lebih simpel, lebih mudah perawatan dan secara ekonomis lebih menguntungkan dari produksi.

"Dibandingkan dengan pengembangan di kolam lumpur, dengan bioflog ini lebih meningkat dari produktivitas, kita akan memberikan bibit serta sarana budidaya kepada dua kelompok pembudidaya di Kecamatan Simeulue Timur dan Simeulue Barat," ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa ukuran kolam bioflok tergantung luas lokasi, namun untuk diameter biasanya berukuran 3 - 4 meter persegi. Kolam bioflok bisa berbentuk bujur sangkar, bisa juga berupa lingkaran.

Sistem bioflok ini memiliki beberapa kelebihan, diantaranya mampu berproduksi lebih banyak dibandingkan kolam biasa, demikian halnya untuk waktu pemeliharaan lebih singkat, yakni dengan benih awal 8 - 10 cm, sudah bisa dipanen selama 3 bulan.

Samsil Amin menyampaikan teknologi tersebut akan hemat dari sisi penyediaan pakan, kemudian memudahkan nelayan yang berencana memindahkan kolam tersebut, demikian juga saat proses panen tidak memakan waktu lama seperti kolam tambak.

"Pemerintah Provinsi Aceh akan membantu pengadaan benih. Ini baru pertama coba kita kembangkan dan semoga berhasil. Sebab pemanfaatan usaha perikanan di perairan umum dan budi daya tambak di Simeulue masih terbatas," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aceh, ikan lele

Sumber : Antara
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top