Bisnis Akomodasi dan Makan-Minum Tumbuh Pesat di Sumsel

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Selatan mencatat usaha akomodasi dan makan-minum mengalami pertumbuhan pesat sebesar 13,15% sepanjang tahun 2018.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 09 Februari 2019  |  08:50 WIB

Bisnis.com, PALEMBANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Selatan mencatat usaha akomodasi dan makan-minum mengalami pertumbuhan pesat sebesar 13,15% sepanjang tahun 2018.

Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengatakan pertumbuhan lapangan usaha itu menggungguli pertumbuhan sektor-sektor yang selama ini menjadi utama yakni jasa, pertambangan serta penggalian.

“Data ini patut dianalisis secara mendalam, artinya masyarakat kita mulai suka rekreasi, ya makan-makan. Jika ini dikelola dengan baik, tidak menutup kemungkinan pada satu hingga beberapa tahun ke depan menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Sumsel,” katanya, Jumat (8/2/2019).

Dia mengatakan pada 2018 itu sejatinya terjadi pertumbuhan di semua lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 13,15%, diikuti jasa perusahaan sebesar 9,51% dan pertambangan/penggalian sebesar 9,27%.

Meski mencatat pertumbuhan tertinggi, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum ini masih belum dominan di struktur PDRB Sumsel karena hanya 1,76%. Berbeda dengan tiga sektor dominan yakni pertambangan dan penggalian 20,24%, industri pengolahan 19,52%, pertanian, kehutanan, dan perikanan 14,80%.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Sumsel tahun 2018, pertambangan dan penggalian memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,99%, diikuti industri pengolahan sebesar 1,04% dan perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 0,82%.

“Meski masih kecil di PDRB tapi ini tren baru, masyarakat senang rekreasi. Tapi, sayangnya tempat rekreasi di Sumsel ini kurang sehingga tingkat okupansi hotel hanya 1,5 hari,” katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian Setda Pemprov Sumsel Afrian Joni mengatakan data BPS dapat menjadi referensi pemerintah untuk semakin fokus menggarap sektor pariwisata, berupa pengembangan IKM kuliner dan cinderamata.

“Jika okupansi tidak sampai dua hari, ini artinya yang datang kalangan business man. Ke depan bagaimana caranya yang datang ke Palembang ini memang benar-benar orang yang ingin berwisata, jadi tinggalnya lama,” katanya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
akomodasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top