Sawah Rawa 200.000 Ha di Sumsel Beri Penghasilan ke Petani Rp12 Triliun

Sawah rawa seluas 200.000 hektare di Sumatra Selatan bakal dikembangkan dengan model pertanian modern untuk meningkatkan kesejahteraan petani setempat.
Dinda Wulandari | 06 Desember 2018 15:06 WIB
Loading the player ...
Bangunkan lahan rawa lebak pasang surut seluas 11 Juta Ha untuk padi. Koleksi video Kementerian Pertanian di Youtube

Bisnis.com, PALEMBANG – Sawah rawa seluas 200.000 hektare di Sumatra Selatan bakal dikembangkan dengan model pertanian modern untuk meningkatkan kesejahteraan petani setempat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan petani yang dibantu dalam program bertajuk Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) itu berpotensi mendapat peningkatan pendapatan hingga 3 kali lipat.

"Kalau ini [program Serasi] berhasil, pendapatan petani Sumsel bisa naik jadi Rp12 triliun atau tiga kali lipat. Gagasan besarnya adalah koperasi dikorporasikan," katanya usai Rapat Koordinasi Serasi Kementerian Pertanian di Palembang, Kamis (6/12/2017).

Adapun pengembangan program tersebut yang ditarget hingga 500.000 ha itu tersebar di Kabupaten Banyuasin, Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir (OKI).

Andi menjelaskan peningkatan pendapatan itu bisa terjadi karena bakal ada peningkatan produksi, produktivitas lahan dan intensitas pertanaman (IP) dari semula satu kali menjadi dua hingga tiga kali. Untuk mendukung optimalisasi sawah rawa tersebut, kata Andi, maka Kementan telah menyediakan berbagai bantuan baik berupa fasilitas infrastruktur, saran dan alat mesin pertanian.

Dia mencontohkan pihaknya memberikan benih unggul varietas Infari yang cocok untuk meningkatkan produktivitas sawah rawa dari semula 2 ton per ha menjadi 6 ton per ha.

"Varietas ini sudah terbukti karena telah ditanam di lahan seluas 41.000 ha baik di Sumsel maupun Kalimantan Selatan," ujarnya.

Amran melanjutkan petani juga berpotensi mendapat peningkatan lain karena mereka bisa mengembangkan hilirisasi produk panen, seperti beras.

"Program yang dikembangkan kami ini adalah pertanian modern berbeda dengan tradisional, jadi full mekanisasi, ada pompanisasi serta tak kalah penting adalah manejemen usaha dari koperasi menjadi korporasi," ujarnya.

PT Milik Petani

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Gatot Irianto, mengatakan pihaknya memberi waktu kepada kelompok tani (koptan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) di daerah itu untuk mengembangkan usaha bersama dalam kurun satu tahun dengan dukungan dari pemerintah.

"Kami beri semua fasilitas, eskavator, RMU,dryer, pompa, combine harvester, benih dan dolomit tinggal minta peran pemda saja untuk narik listrik ke lokasi, BBM-nya, pemprov juga siapkan SID karena yang lainnya sudah kami sediakan," katanya.

Dia melanjutkan pada tahun kedua hingga ketiga para petani ditarget dapat membentuk perusahaan terbatas (PT) di mana petani menjadi pemegang saham

Layaknya sebuah PT, model bisnis ini juga memuat struktur organisasi dengan pucuk pimpinan general manager. "Biaya untuk honor GM dan tenaga lapangan serta SDM lain itu diambil dari hasil usaha tani," katanya.

Tag : sawah, lahan rawa
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top