Bank Sumut: Pertumbuhan Kredit Sulit Tercapai

Oleh: Ropesta Sitorus 30 Agustus 2018 | 19:24 WIB

Bisnis.com, MEDAN – PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (Bank Sumut) memperkirakan pertumbuhan kredit akan semakin sulit tercapai.

Direktur Utama Bank Sumut Edie Rizliyanto menuturkan hal itu karena permintaan yang belum pulih, khususnya dari sektor produktif. Selain itu, kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia juga berpotensi membuat penyaluran kredit semakin sulit tumbuh.

“BI sudah menaikkan suku bunga beberapa kali, itu dampaknya ke bisnis juga. Dengan suku bunga rendah saja tidak ada yang minta kredit, apalagi kalau bunganya tinggi. Kenaikan suku bunga itu membuat bisnis perbankan dan lembaga keuangan semakin menantang,” kata Edie kepada Bisnis, belum lama ini.

Seperti diketahui, medio Agustus 2018, rapat dewan gubernur (RDG) BI kembali memutuskan untuk mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5%.

Dengan keputusan tersebut, berarti suku bunga kebijakan BI 7 Days Reverse Repo Rate sudah naik 125 bps dalam tiga bulan sejak RDG pada 17 Mei 2018. Sebelumnya, BI menahan suku bunga acuan di posisi 4,25% sejak 22 September 2017 hingga 19 April 2018.

BI menyatakan kebijakan tersebut merupakan upaya mengendalikan defisit cadangan transaksi berjalan agar tidak melebihi 3% serta merespons kenaikan suku bunga The Fed.

Dari sisi sektor perbankan, kebijakan tersebut diprediksi akan berimbas pada perlambatan pertumbuhan bisnis bank.

Bank Sumut sendiri mengaku telah merevisi turun target bisnisnya dari semula 10% pada akhir 2018 menjadi hanya 7%. Apalagi realisasi sepanjang Juli 2018 juga belum mencatatkan kenaikan signifikan.

Dikutip dari laporan keuangan bulanan per Juli 2018, total jumlah penyaluran kredit Bank Sumut mencapai Rp20,69 triliun, terdiri dari pinjaman yang diberikan dan piutang sebesar Rp18,58 triliun serta pembiayaan syariah sebesar Rp2,11 triliun.

Secara tahunan, realisasi tersebut tumbuh 5,9% (year on year/yoy) dibandingkan dengan total penyaluran pinjaman pada Juli 2017 sebesar Rp19,52 triliun.

Namun, apabila dibandingkan dengan realisasi per akhir Desember 2017 sebesar Rp20,64 triliun, penyaluran kredit Bank Sumut dalam tujuh bulan pertama ini hanya tumbuh 0,2% alias cenderung stagnan.

Meski begitu, Edie masih optimistis kinerja perseroan akan dapat tergenjot dalam empat bulan yang tersisa tahun ini. Beberapa langkah yang dilakukan bank BUKU II tersebut yakni dengan ekspansi di sektor nonproduktif seperti kredit multiguna dan kredit pensiun.

Selain itu, perseroan juga kerja sama dengan perusahaan layanan keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech) untuk meningkatkan pangsa pasar pembiayaan dan pendanaan. Sedikitnya ada tujuh fintech yang telah bekerjasama dengan Bank Sumut. Dia juga berharap ada upaya percepatan pemulihan sektor riil di Sumut.

“Kami usahakanlah [mencapai target 7%], masih ada 4 bulan, makanya kami ekspansinya di kredit pensiun dan multiguna. Karena kalau di sektor produktifnya sudah berat. Pendanaan kami tumbuh, yang tidak tumbuh adalah kredit, tapi ini bukan hanya kami, perbankan seluruh Indonesia memang sedang berat. Kalau sektor riil tidak tumbuh dan daya beli rendah, tentu orang tidak mau investasi dan minta kredit buat bisnis,” ujarnya.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya