Ini Progres Ruas Akhir Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi

Oleh: Ropesta Sitorus 03 Agustus 2018 | 13:45 WIB
Jalan tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (MKTT) Seksi 1 Simpang Susun (SS) Tanjung Morawa-SS Parbarakan./Istimewa-PT Jasa Marga

Bisnis.com, MEDAN – PT Jasa Marga (Persero) Tbk. menyatakan seksi terakhir dari tujuh seksi jalan tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (MKTT) di Sumatra Utara (Sumut) segera beroperasi pada 2019.

Menurut Corporate Secretary Jasa Marga (JSMR) M. Agus Setiawan, tahap akhir konstruksi jalan tol tersebut diharapkan rampung pada akhir Desember 2018.

“Penyelesaian konstruksi direncanakan akhir tahun ini,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Perseroan mengungkapkan progres pembangunan seksi VII sudah hampir rampung dari sisi lahan.

Perinciannya, untuk seksi VII A sudah mencapai 91,75% untuk lahan dan sebesar 53,88% dari sisi konstruksi. Untuk seksi VII B, progresnya mencapai 100% dari sisi lahan serta 77,84% dari sisi konstruksi.

Pengoperasian jalan tol MKTT diharapkan dapat meningkatkan kelancaran arus transportasi orang dan barang di Sumut.

Secara keseluruhan, tol MKTT terdiri atas tujuh seksi dengan panjang 61,7 kilometer (km). Pengusahaan tol MKTT dilakukan oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Jasamarga Kualanamu Tol selaku anak perusahaan JSMR, dengan nilai investasi Rp4,9 triliun.

Sebagai informasi, pengoperasian enam seksi pertama ruas jalan tol MKTT telah dilakukan secara bertahap. Seksi II-VI dari Kualanamu-Sei Rampah menjadi yang pertama beroperasi, yakni sejak 13 Oktober 2017.

Kemudian, seksi I dari Simpang Susun (SS) Tanjung Morawa-SS Parbarakan yang baru-baru ini mengantongi Sertifikat Laik Operasi (SLO) akan dioperasikan dalam waktu dekat. Jalan dengan panjang 10,75 km tersebut menghubungkan jalan tol eksisting Belawan-Medan-Tanjung Morawa (Belmera) dengan jalan tol MKTT seksi Kualanamu-Sei Rampah.

Jasa Marga Kualanamu Tol juga telah melakukan sosialisasi penerapan transaksi non tunai tanpa petugas yang dilakukan di seluruh ruas MKTT yang berlaku sejak 1 Agustus 2018.

Agus menyatakan sosialisasi terkait transaksi non tunai tanpa petugas tersebut dilakukan untuk meningkatkan kelancaran transaksi pengguna jalan tol. 

“Semua ruas jalan tol saat ini sudah memberlakukan transaksi non tunai dengan menggunakan uang elektronik, sehingga mesti dipastikan saldonya cukup,” ucapnya.

Akan tetapi, pengenaan tarif tol tersebut masih terbatas pada pengguna tol di seksi II-VI. Adapun pengguna tol yang melewati seksi I akan mulai dikenakan tarif setelah resmi beroperasi.

Besaran tarif yang diterapkan khusus untuk perjalanan Tanjung Morawa-Perbarakan bervariasi untuk tiap golongan kendaraan, antara Rp10.500-Rp21.000.

Hal itu sesuai dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 393/KPTS/M/2018  tentang Penetapan Golongan Jenis Kendaraan Bermotor dan Besaran Tarif Tol Pada Jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi Seksi I-VI yang diterbitkan pada 8 Juni 2018.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya