Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Keracunan Massal Ketiga dalam Setahun, Bukti Proyek PLTP Sorik Marapi Perlu Kajian Ulang

Anny merupakan satu di antara 21 warga Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara, yang dilarikan ke rumah sakit pada Minggu (24/4/2022) sekitar pukul 09.30 WIB.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 24 April 2022  |  20:54 WIB
Keracunan Massal Ketiga dalam Setahun, Bukti Proyek PLTP Sorik Marapi Perlu Kajian Ulang
Warga Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara, saat dilarikan ke rumah sakit akibat keracunan massal pada Minggu (24/4/2022) sekitar pukul 09.30 WIB. - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, MEDAN - Emosi Mukhlis Nasution sempat memuncak. Namun puasa mengingatkannya untuk meredam amarah. Kekesalan Muklis bukan tanpa alasan. Kekhawatirannya selama ini benar-benar terjadi. Bencana itu menimpa sang istri tercinta, Anny Tanjung.

Anny merupakan satu di antara 21 warga Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara, yang dilarikan ke rumah sakit pada Minggu (24/4/2022) sekitar pukul 09.30 WIB.

Mereka diduga telah menghirup gas Hidrogen sulfida (H2S) yang berasal dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sorik Marapi. Proyek ini dikerjakan oleh PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP).

"Saya sendiri sebenarnya sudah geram juga. Ternyata kena istri saya. Tetapi masih bisa ditahan lantaran Bulan Puasa," kata Mukhlis saat menemani istrinya terkapar lemas di kasur rumah sakit.

Muklis mengatakan, aktivitas PLTP Sorik Marapi sudah patut dihentikan. Betapa tidak, tragedi keracunan massal terus-menerus terulang dan telah merenggut korban jiwa. Dalam setahun saja, setidaknya sudah tiga kali peristiwa yang sama melanda.

Menurut Muklis, bencana yang melanda desanya bukan persoalan remeh. Keselamatan ribuan jiwa yang awalnya hidup tentram dan damai kini sedang terancam.

Lelaki berusia 47 tahun ini juga tak segan-segan bila nantinya terpaksa kembali bersuara lantang menolak keberadaan PLTP Sorik Marapi.

Sejak proyek PLTP Sorik Marapi mulai dilaksanakan pada 2014 lalu, nyaris seluruh warga desa di sekitar lokasi konsesi panas bumi menolak. Mereka sempat menunjukkan perlawanan dengan memblokir Jalan Lintas Sumatra. Peristiwa kelam itu bahkan menelan korban jiwa meninggal dunia.

Namun seiring waktu, sebagian warga yang dulunya menolak mulai beralih karena berbagai alasan, seperti dipekerjakan dalam proyek atau diimingi sesuatu. Kini, tak sedikit dari mereka yang juga rela menjual tanahnya.

Berbeda dengan Muklis. Selama ini, dirinya kukuh menolak. Akan tetapi, belakangan ini Muklis memilih realistis karena sadar bahwa proyek di kampungnya tersebut merupakan kepentingan kalangan tingkat tinggi.

"Tapi kalau seperti ini kondisinya, saya sendiri berani di depan seperti dulu lagi. Selama ini saudara-saudara saya sudah jadi korban, tapi ini istri saya," katanya.

Sejuknya pagi di Minggu yang tenang seketika diliputi panik saat 21 warga dilarikan ke rumah sakit akibat keracunan. Mereka diduga kembali menghirup gas H2S.

Seperti diketahui, Desa Sibanggor Julu berjarak tak sampai 500 meter dari lokasi proyek. Desa ini berada tepat di kaki gunung vulkanik Sorik Marapi dan dihuni 460 kepala keluarga dari ribuan jiwa. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani.

Bentuk permukiman Desa Sibanggor Julu dikenal memiliki keunikan sendiri. Kesan tradisional dan khas terpancar jelas dari rumah-rumah mereka. Di sini, warga memanfaatkan ijuk sebagai atap.

Konon, Desa Sibanggor Julu merupakan desa kuno yang sudah ada sejak ratusan tahun silam. Terletak di kaki gunung membuat udaranya terasa begitu sejuk dan asri. Miris, di tengah segala karunia inilah tragedi keracunan massal justru melanda.

Muklis pun menceritakan saat-saat mencekam saat gas beracun diduga menyebar di antara nafas warga.

Pagi itu, Muklis masih berada di rumahnya. Sedang Anny tengah pergi ke sawah. Tiba-tiba, situasi mulai menegangkan tatkala sejumlah warga mengalami pusing dan diboyong untuk memeroleh bantuan medis. Satu di antaranya merupakan bayi berusia enam bulan.

Di antara kekhawatiran yang mulai memuncak, Muklis melihat istrinya berjalan sempoyongan kembali ke rumah. Anny ternyata juga mengalami mual dan pusing. Wanita berusia 42 tahun itu bahkan nyaris pingsan.

Sesaat sebelumnya, warga sempat mendengar suara gemuruh. Suara itu belakangan diketahui bersumber dari semburan lumpur setinggi sekitar 30 meter di lokasi Wellpad Tango.

"Istri saya mendengar seperti ledakan saat masih di sawah. Kemudian dia pulang ke rumah sudah merasa mual dan pusing, bahkan sempat mau pingsan," kata Mukhlis.

Sadar terjadi sesuatu pada istrinya, Mukhlis langsung memboyong Anny ke rumah sakit.

"Saya langsung, 'Ah, sudah kena gas H2S lah ini'. Makanya langsung saya bawa ke rumah sakit, karena juga banyak warga lain duluan kena," kata Mukhlis.

Bupati Mandailing Natal Jafar Sukhairi Nasution turut angkat bicara mengenai tragedi keracunan massal yang kembali terulang di daerahnya.

Menurut Jafar, catatan selama ini menunjukkan pentingnya kajian ulang terhadap pelaksanaan proyek PLTP Sorik Marapi. Pemerintah pusat diminta mengevaluasi keberadaan proyek tersebut karena mengancam keselamatan warga.

"Kami menyayangkan kejadian ini karena terulang. Bahkan kali ini ada semburan lumpur. Jadi keselamatan warga kita tentu lebih utama. Melihat kondisi di lapangan, terutama kenyamanan dan keamanan warga, pemerintah pusat perlu melakukan kajian ulang," kata Jafar kepada Bisnis.

Jafar tak menampik bahwa keberadaan proyek PLTP Sorik Marapi selama ini turut memberi manfaat kepada daerah. Seperti menyerap tenaga kerja lokal. Pemkab Mandailing Natal juga memeroleh 0,5 persen bonus produksi PLTP Sorik Marapi. Nilainya Rp1,9 miliar per tahun.

"Angka yang cukup memprihatinkan. Sedikit sekali," kata Jafar.

Namun di sisi lain, menurut Ja'far, terdapat 10 dari 377 desa di Kabupaten Mandailing Natal yang hingga kini belum menikmati aliran listrik. Padahal, di daerah mereka terdapat pembangkit.

Sekadar informasi, PLTP Sorik Marapi ditargetkan memproduksi kapasitas listrik 240 megawatt. Saat ini PLTP tersebut masih memproduksi sekitar 90 megawatt. Listrik yang dihasilkan kemudian dijual atau dipasok ke PLN.

"Kami sudah pernah sampaikan beberapa kali, tapi mereka bilang itu gawean PLN. Seperti lempar bola," kata Jafar.

Kurun setahun, setidaknya terjadi tiga kali peristiwa keracunan massal yang dialami warga sekitar proyek PLTP Sorik Marapi.

Tragedi pertama terjadi pada Januari 2021 lalu, 49 orang jadi korban keracunan massal. Lima di antaranya meninggal dunia. Sebagian dari korban tewas merupakan anak-anak. Kala itu, ujung perkara hanya berakhir dengan perdamaian antara warga dan pihak PT SMGP.

Tak berhenti di situ, keracunan massal kembali terjadi pada bulan lalu. Tepatnya pada Minggu (6/3/2022). Terdapat 58 warga dilarikan ke rumah sakit. Untuk perkaranya kini masih ditangani oleh Polda Sumatra Utara.

Menurut Kapolres Mandailing Natal AKBP Muhammad Reza Chairul Akbar, situasi Desa Sibanggor Julu sudah kondusif. Petugas tidak membuat posko pengungsian pascaperistiwa.

Semburan lumpur sekaligus diduga gas beracun dari salah satu sumur yang bocor kini juga telah berhasil disumbat.

"Aman kondusif, warga tetap berada di desa," kata Reza kepada Bisnis.

Kepala Bidang Humas Polda Sumatra Utara Kombes Hadi Wahyudi mengatakan, tim Laboratorium Forensi dan Direktorat Reserse Kriminal Umum langsung bertolak ke lokasi menggunakan helikopter setelah menerima laporan dugaan keracunan massal.

Petugas telah membantu mengevakuasi warga ke RSUD Panyabungan untuk memeroleh penanganan medis.

Hadi mengatakan, Polda Sumatra Utara akan memanggil para pihak terkait mengenai dugaan kebocoran gas beracun.

"Kalau pendalaman dengan memanggil pihak terkait, itu selanjutnya. Langkah awal adalah mengevakuasi warga yang terdampak," kata Hadi.

Hadi mengatakan, petugas akan melakukan pendalaman. Termasuk terhadap perkara keracunan massal yang terjadi pada Maret 2022 lalu.

"Masih berproses," kata Hadi.

Sementara itu, PT SMGP belum dapat dimintai keterangannya mengenai peristiwa keracunan massal teranyar. Manager Community Development and Community Relations PT SMGP Nina Gultom telah memblokir kontak panggilan Bisnis sejak pemberitaan awal soal tragedi keracunan massal dipublikasikan.

Akan tetapi, perusahaan itu sempat menerbitkan pernyataan yang membantah bahwa ulah mereka saat uji sumur untuk proyek PLTP Sorik Marapi menyebabkan keracunan massal terjadi pada Maret 2022 lalu.

"Tidak ada indikasi atau bukti yang mendukung klaim paparan gas H2S dari sumur AAE-05 seperti yang telah dilaporkan," petikan surat pernyataan PT SMGP kala itu.

Sejauh ini, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi juga belum dapat dimintai komentarnya. Hingga laporan ini diturunkan, Agung belum menjawab pertanyaan Bisnis.

PLTP Sorik Marapi merupakan bagian dari proyek strategis nasional dalam program listrik 35.000 megawatt. PLTP itu ditargetkan memproduksi total kapasitas listrik 240 megawatt.

Selama ini, pengembangan PLTP Sorik Marapi dilakukan oleh PT SMGP. Perusahaan tersebut merupakan joint venture yang didirikan OTP Geothermal Power Ltd milik KS ORKA Group dan PT Supraco Indonesia.

Berdasarkan profil perusahaan, PT SMGP tercatat telah mengantongi izin untuk mengembangkan kawasan konsesi panas bumi di sekitar Gunung Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara pada 2010 lalu.

Selanjutnya, PT SMGP memiliki Power Purchase Agreement (PPA) dengan PT PLN (Persero) untuk pengembangan pembangkit listrik geothermal berkapasitas 240 megawatt. Kesepakatan diteken kedua pihak pada 2014.

Saham mayoritas PT SMGP dipegang oleh KS Orka Renewables Pte Ltd sebanyak 95 persen. Perusahaan pengembang dan operator panas bumi tersebut berbasis di Singapura. PT SMGP mulai melaksanakan proyek PLTP Sorik Marapi pada pertengahan 2016 silam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

keracunan PLTP Sorik Marapi
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top