Warga Desa Malampah Pasaman Diminta Jauhi Kawasan Sungai, Ini Kata BMKG

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan dari hasil survei yang dilakukan BMKG hingga hari ketiga pasca gempa, menemukan kondisi hulu sungai yakni di bagian Gunung Talamau banyaknya material longsor.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati/Bisnis-Noli Hendra
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati/Bisnis-Noli Hendra

Bisnis.com, PADANG - Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memastikan bahwa tidak ada terjadi likuifaksi di daerah Malampah, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, akibat gempa yang berpusat di Pasaman Barat, pada Jumat (26/2) lalu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah melakukan survei di Malampah tersebut. Hasilnya, kondisi yang mirip likuifaksi itu hanyalah bencana longsor yang terjadi di Gunung Talamau dan material mengalir di daerah aliran sungai.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan dari hasil survei yang dilakukan BMKG hingga hari ketiga pasca gempa, menemukan kondisi hulu sungai yakni di bagian Gunung Talamau banyaknya material longsor.

Menurutnya hal tersebut bisa menjadi ancaman bagi masyarakat di kawasan Talamau atau Malampah, bila hujan turun dengan intensitas tinggi. Bencana banjir bandang bisa saja terjadi.

"Saya meminta kepada Pemkab Pasaman untuk segera mengambil langkah cepat, yakni mengosongkan area di kawasan aliran sungai di Malampah itu. Setidaknya untuk berada di posisi aman, aktivitas warga atau rumah warga hanya boleh berada 200 meter dari pinggir sungai," katanya dalam jumpa pers di ruang VVIP BIM, Selasa (1/3/2022).

Artinya bila masih ada rumah-rumah warga kurang dari 200 meter dari pinggir sungai, maka sangat berisiko diterjang banjir bandang dan galodo, yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi di Malampah tersebut.

Dwikorita menyebutkan peringatan tegas itu disampaikan mengingat saat ini wilayah Pasaman maupun Pasaman Barat berpotensi turun hujan.

Selain itu, aliran sungai yang kini sudah dipenuhi lumpur yang bersumber dari material longsor Gunung Talamau tersebut, maka berkemungkinan saja hal yang serupa kembali terjadi.

"Jejak aliran yang telah terbentuk sebelumnya di Malampah yang bertepatan pasca gempa magnitudo 6,1 itu, bisa saja bila hujan turun dengan intensitas tinggi, banjir bandang pun berkemungkinan terjadi," ujarnya.

Menurutnya kendati saat ini di Pasaman maupun di Pasaman Barat tergolong aman dari sisi gempa. Namun ancaman bencana longsor dan banjir bandang yang harus diwaspadai.

Dia menyatakan supaya kondisi tersebut tidak semakin memperparah situasi warga yang kini tengah ditimpa musibah akibat gempa, Pemkab perlu mengambil langkah cepat, sebagai upaya penanganan dini.

"Hal yang perlu dilakukan adalah pastikan tidak ada warga yang tinggal dari pinggir sungai kurang dari 200 meter. Serta mengimbau warga menjauhi titik rawan bencana longsor," harap Dwikorita.

Diakuinya kalau bicara gempa yang susulan yang terjadi, dapat dipastikan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena kekuatan gempa terpantau turun. Sehingga bagi warga yang rumahnya yang masih layak huni, harapan kembali ke rumah masing-masing.

"Untuk gempa insya allah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Memang masih ada susulan, tapi tidak berisiko. Cuma soal ancaman bencana longsor dan banjir bandang yang perlu diantisipasi," tegas Dwikorita. (k56)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Noli Hendra
Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper