Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Butuh 1.000 Hektare, PLN Batam Mulai Cari Lahan untuk PLTS yang Ekspor Listrik ke Singapura

Bright PLN Batam mulai menjajaki lahan dan perizinan terkait, menyusul rencana kerja sama proyek ekspor listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan daya mampu 1 gigawatt peak (GWp) ke Singapura.
Arif Gunawan
Arif Gunawan - Bisnis.com 05 November 2021  |  13:41 WIB
Ilustrasi. Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). - ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Ilustrasi. Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). - ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, PEKANBARU – Bright PLN Batam mulai menjajaki lahan dan perizinan terkait, menyusul rencana kerja sama proyek ekspor listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan daya mampu 1 gigawatt peak (GWp) ke Singapura.

Direktur Utama Bright PLN Batam Nyoman S. Astawa mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan penjajakan, serta koordinasi dengan Wali Kota Batam untuk memilih lokasi pembangunan PLTS.

“Persiapan yang kami lakukan, di antaranya menjajaki dan membahas perizinan lahan bersama Wali Kota Batam, karena untuk mengeksekusi pembangunan PLTS dengan daya 1 GWp ini membutuhkan lahan minimal 1.000 hektare,” ujarnya, Kamis (4/11/2021).

Selain di Kota Batam, kata dia, pihaknya juga membuka peluang pembangunan PLTS di wilayah lain di Kepulauan Riau atau Kepri, sehingga pembicaraan tentang perizinan dan penjajakan lahan juga dilakukan dengan Pemerintah Kepri.

Bright PLN Batam, menurutnya, akan mengembangkan mega proyek ekspor listrik tenaga surya dari Indonesia ke Singapura setelah menerima izin prinsip dari Energy Market Authority (EMA) Singapura.

Proyek tersebut akan dikerjakan bersama dengan PT Trisurya Mitra Bersama (Suryagen) dan perusahaan pengembang energi baru terbarukan asal Singapura, Sembcorp Industries (Sembcorp).

Bright PLN Batam juga telah menandatangani joint development agreement (JDA) atau perjanjian pengembangan bersama untuk mengembangkan proyek penyimpanan energi dan tenaga surya terintegrasi skala besar di wilayah Batam, Bintan, dan Karimun (BBK).

Rencananya, proyek itu akan membangun PLTS dengan daya mampu sekitar 1 GWp yang didukung oleh sistem penyimpanan energi baru terbarukan dalam skala besar, dan akan di ekspor melalui kabel bawah laut ke Singapura.

Untuk jangka panjang, pihaknya juga akan mengevaluasi rencana umum pembangkit tenaga listrik (RUPTL) perseroan, di mana sampai saat ini bauran energi baru terbarukan di PLN Batam masih kurang dari 1 persen.

“Hampir semua pembangkit kami menggunakan energi fosil, dengan rincian batu bara sebesar 21 persen, sisanya 78 persen dari gas, lalu sangat kecil dari high speed diesel (HSD) dan EBT. Karena itu, sampai 2025 nanti kami juga telah merencanakan pembangunan PLTS hingga 30 MW,” ujarnya.

Selain membangun pembangkit EBT, perseroan juga akan melakukan kajian transisi energi di dalam sistem kelistrikan PLN Batam. Melalui kajian tersebut akan diketahui berapa besar tambahan pembangkit dari EBT yang bisa masuk ke dalam sistem kelistrikan Batam.

Menurutnya, saat ini PLTS memiliki kelemahan berupa energi listrik tidak stabil, dan bisa hilang di kala mendung. Karena itu, perlu kajian secara mendalam sebelum memutuskan berapa besar daya listrik PLTS yang bisa diterima oleh sistem PLN Batam.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

singapura pln batam ekspor listrik
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top