Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sisi Lain Kuala Dua Belas, Desa Viral Akibat Styrofoam, Gaji Puluhan Juta Hingga Rumah Mewah di Jakarta

Desa Kuala Dua Belas, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, mendadak viral lantaran video berdurasi 2 menit tersebar di dunia maya.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 28 September 2021  |  12:59 WIB
Sisi Lain Kuala Dua Belas, Desa Viral Akibat Styrofoam, Gaji Puluhan Juta Hingga Rumah Mewah di Jakarta
Bupati OKI Iskandar (kedua dari kanan) meninjau pengolahan tambak udang di Desa Kuala Dua Belas, Kecamatan Tulung Selapan,Kabupaten OKI. - Istimewa

Bisnis.com, PALEMBANG -- Desa Kuala Dua Belas, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, mendadak viral lantaran video berdurasi 2 menit tersebar di dunia maya. 

Video yang direkam orang dewasa tersebut memviralkan tiga anak laki-laki berseragam sekolah dasar (SD) sedang menyeberangi sungai dengan styrofoam.

Video itu diposting ulang jutaan kali oleh warganet bahkan mendapat komentar oleh politikus nasional dan mantan pejabat negara. 

Dibalik video viral tersebut, siapa sangka Desa Kuala Dua Belas dihuni oleh warga yang berpenghasilan puluhan juta bahkan ada yang memiliki rumah mewah di Pantai Indah Kapuk (PIK) Jakarta. 

Kisah itu diceritakan Camat Tulung Selapan Jemi. Pria itu tahu betul kehidupan warga sekitar. Wajar saja dia sudah bertugas di wilayah pesisir timur OKI ini sejak 18 tahun lalu. 

“Saya diangkat tahun 1993 langsung ditempatkan di Pantai Timur ini, sehingga tahu betul kehidupan masyarakatnya,” ujarnya dalam keterangan tertulis, baru-baru ini.

Desa Kuala Dua Belas memiliki luas 11.000 Ha dan dihuni oleh 450-an kepala keluarga. Jumlah penduduknya mencapai 1.076 orang. 

Penduduk desa tersebar di beberapa dusun sepanjang muara laut Selat Bangka itu. Penduduk terdiri dari beragam suku Bugis, Jawa dan didominasi penduduk lokal. 

“Mereka rukun berdampingan, tidak pernah ada perselihanan meski beragam suku,” terang Jemi. 

Mata pencaharian utama penduduk di sana berkaitan dengan perairan di mana 40 persen merupakan nelayan, 50 persen petambak udang windu dan sekitar 10 persen pembudidaya burung walet. 

“Secara ekonomi mereka berkecukupan, meski hidup sederhana di desa,” ujarnya.

Jemi mengatakan kehidupan warga di desa itu sangat berdampingan dengan alam. Mereka melaut di Selat Bangka untuk mencari ikan duri atau  disebut warga sekitar baung laut. Ikan tersebut  disalai atau diasap sebelum dijual kepada pengepul yang datang ke desa. 

“Harganya sekitar Rp45.000 per kilogram, itu sudah disalai (ikan asap),” terang dia. 

Sementara hasil tambak udang windu mereka bawa ke Rawa Jitu di Lampung, Palembang, bahkan ke Muara Angke Jakarta. 

“Udang Windu itu kalau di Palembang kelas reguler harganya sekitar Rp62.000 per kg, kalau Black Tiger bisa mencapai Rp70.000 per kg,” ujarnya. 

Untuk penghasilan dari budidaya walet, warga menjual sarang burung tersebut di Palembang. Harga per kg bisa menyentuh jutaan rupiah. 

“Sarang burung walet itu tau sendiri ya, harganya sekitar Rp8 juta sampai Rp10 juta per kg. Jualnya di Jalan Veteran Palembang,” terangnya. 

Meski berpenghasilan puluhan juta, tambah Jemi, masyarakat Kuala Dua Belas hidup dengan sederhana. 

“Memang harga sembako mahal di sini, karena belinya jauh di daratan,” ujarnya.

Untuk berbelanja terang jemi masyarakat setempat pergi ke kalangan (pasar selang) di Sungai Lumpur, dan Tulung Selapan.  

Sekolahkan Anak di Kota Besar 

Meski berada di pesisir dan jauh dari keramaian, warga Kuala 12 tidak ingin anak-anak mereka terbelakang dan tak mengenyam pendidikan. Oleh karena itu mereka mengirim anak-anaknya untuk bersekolah dan kuliah di kota-kota besar seperti Palembang dan Jakarta. 

Untuk menyekolahkan anak ini mereka membeli atau menyewa rumah di kota-kota tersebut.  

“Kalau di Palembang sekitaran kampus di daerah Plaju, kalau di Jakarta sekitar Pantai Indah Kapuk, ada juga di kota-kota lain seperti Bandung dan Yogyakarta,” ujarnya. 

Video Viral Bikin Resah Warga 

Jemi mengemukakan warga Desa Kuala 12 dibuat resah oleh video yang viral di media sosial beberapa hari terakhir. Warga merasa terusik ketenangannya. 

Adapun perekam video tersebut bukan penduduk setempat. Dia adalah pendatang yang sedang cari nafkah di desa. 

Dia menerangkan perekam tersebut merupakan teknisi alat berat yang berasal dari Lampung. Pria itu sedang bekerja lahan tambak milik warga. 

“Dia belum tahu kebiasaan-kebiasaan warga. Anak-anak disini sudah terbiasa dengan air. Bahkan mereka mampu menyeberangi sungai selebar 120 meter ini dengan berenang,” ujarnya.

Dia berharap warga bisa menahan diri. Jemi juga mengimbau orang tua siswa tak lagi membiarkan anak-anak menyebrang sungai dengan styrofoam. 

Jemi berharap setelah kehebohan ini warga bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Menjalani hidup mereka yang mesra dengan alam. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumsel ogan komering ilir
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top