Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ratusan Kampus di Sumatra Kesulitan Keuangan Akibat Pandemi

Hanya 25 persen PTS dari wilayah Riau, Sumatra Barat, Jambi dan Kepulauan Riau cukup kuat menghadapi pandemi.
Eko Permadi
Eko Permadi - Bisnis.com 04 September 2020  |  06:52 WIB
Ilustrasi. -  Bisnis
Ilustrasi. - Bisnis

Bisnis.com, PEKANBARU — Perguruan Tinggi Swasta turut terdampak pandemi Covid-19. Tunggakan pembayaran SPP ditenggarai salah satu penyebab mengganggu cash flow universitas. Hanya 25 persen PTS dari wilayah Riau, Sumatra Barat, Jambi dan Kepulauan Riau cukup kuat menghadapi pandemi.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah 10, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Herri menjelaskan pandemi Covid-19 memberi dampak yang besar bagi perguruan tinggi khususnya PTS. Hasil survei internal yang dilakukan pihaknya mendapati sebagian besar universitas terdampak wabah.

“Kalau memang berlanjut [pandemi Covid-19] setahun lagi akan jadi susah ini,” katanya kepada Bisnis, Kamis (3/9/2020)

LLDIKTI sebelumnya bernama Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta atau Kopertis, untuk wilayah 10 membawahi 238 PTS dan 10 PTN untuk wilayah Riau, Sumatra Barat, Jambi dan Kepulauan Riau.

Herri menyebut PTS yang kuat hanya sekitar 25 persen walaupun terjadi penurunan pendapatan dan jumlah mahasiswa. Menurutnya dilihat dari jumlah mahasiswa, ada yang mengatakan 1.000 orang cukup kuat atau 3.000 orang, tetapi itu secara umum saja. Tentu dilihat dari cash flow investasi mereka selama ini dan tergantung operasional bisa diminimalkan.

Misalkan gedung kampus yang masih menyewa tentu memberatkan. Kemudian instrumen perkuliahan daring sangat terbatas, universitas harus investasi lagi untuk bisa menyiapkan platform perkuliahan daring.

Dia juga mendengar mahasiswa menganggap tidak perlu membayar SPP karena belajar daring. Lalu terpengaruh karena ekonomi orangtuanya menurun. Ini akan berimbas kepada cash flow perguruan tinggi swasta.

Pemerintah memberi bantuan pembebasan biaya SPP kepada 7.000 mahasiswa ditambah kurang lebih 10.000 beasiswa untuk meringankan beban universitas dan orang tua mahasiswa. Tetapi kurang lebih 10 persen dari keseluruhan mahasiswa PTS di wilayah 10 yang mencapai 280.000-an.

Ada juga PTS yang kuat malah membantu mahasiswa dalam bentuk diskon SPP, pemberian kuota, berpartisipasi pengembangan peralatan/kegiatan menanggulangi covid misalnya kegiatan sosial, membantu uang, sekolah pertanian membagi hasilnya ke masyarakat.

“Di tengah covid ini timbul rasa sosial saat kita ada persoalan tapi masih bisa membantu,” sebut Herri.

Herri melanjutkan beberapa hal yang dilakukan PTS saat ini yaitu mengadu kepada yayasan sebagai pengelola untuk mendapatkan suntikan dana, kemudian melakukan penghematan atau efisiensi termasuk gaji dosen dan tenaga pendidik.

“Untuk melakukan yang lain terbatas karena ekonomi yang sedang lesu. Apapun aktivitas berhubungan dengan daya beli turun,” tambahnya.

Sistem pembelajaran berubah sejak masa pandemi. Berdasarkan survei internal pada Bulan Juli melibatkan dosen dan mahasiswa di 74 perguruan tinggi dengan rincian Sumbar 32 kampus, Riau 19, Jambi 12 dan Kepri 11.

Herri menyampaikan hasil survei hampir 100 persen sistem pembelajaran menggunakan daring. Dalam pelaksanan daring ada yang sudah punya aplikasi khusus yang sering disebut platform ada juga yang belum memiliki infrastruktur pembelajaran sendiri. Sekitar 32 persen menggunakan platform khusus, sementara sisanya belum. 68 persen ini menggunakan zoom, google meet, WhatsApp, email dan lain-lain.

“Ini yang kita sampaikan kepada mereka untuk menyiapkan platform sendiri. Sehingga pelaksanaan bisa efektif dan efisien,” kata Herri.

Kementerian berpesan untuk menyelesaikan semester ini dengan daring. Karena menggunakan sistem daring, perkuliahan bisa dipercepat jadwalnya sehingga ada waktu untuk persiapkan platform menghadapi semester dua. Harapannya seluruh kampus punya platform pembelajaran daring.

Herri melanjutkan permasalahan muncul yaitu membangun platform tersebut membutuhkan sumber daya yang cukup besar walaupun bekerja sama dengan pihak lain butuh sumber daya. Kemudian merubah budaya pembelajaran secara daring melalui pelatihan, bimbingan teknis, sosialisasi kepada dosen.

“Nah ini tidak mudah dan segera, untuk menyempurnakan pembelajaran menggunakan daring,” katanya.

Pemerintah sudah punya Sistem Pembelajaran Daring (SPADA). Kementerian terkait menyiapkan modul-modul yang bisa digunakan. Tetapi belum mencakup semua layanan platform seperti bahan ajar, penilaian, soal soal, materi, kehadiran dan lain-lain.(K42)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kampus riau pendidikan
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top