Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Omzet Bercocok Tanam Sayuran Hidroponik Cukup Menjanjikan

Aril, pembudi daya tanaman hidroponik, mengaku bahwa kalau lagi panen omzet penjualan berkisar Rp500.000 hingga Rp1 juta per hari.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 10 Agustus 2020  |  05:58 WIB
Sayuran organik yang ada di kebun Namar Farm Hidroponik di Kelurahan Tunas Harapan, Kecamatan Curup Utara, Bengkulu. - Antara/Nur Muhamad
Sayuran organik yang ada di kebun Namar Farm Hidroponik di Kelurahan Tunas Harapan, Kecamatan Curup Utara, Bengkulu. - Antara/Nur Muhamad

Bisnis.com, REJANG LEBONG — Pengembangan usaha pertanian sistem teknologi hidroponik di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, saat ini dinilai petani setempat cukup menjanjikan seiring dengan mulai meningkatnya permintaan aneka sayuran organik.

"Saat ini cukup menjanjikan, kalau lagi panen per harinya omzet penjualan berkisar Rp500.000 hingga Rp1 juta. Pembelinya selain warga Kota Curup juga ada yang datang dari luar daerah," kata Aril, pengelola usaha pertanian hidroponik yang berada di Simpang Empat Kelurahan Tunas Harapan, Kecamatan Curup Utara, Minggu (9/8/2020).

Menurutnya, usaha pertanian modern yang dikelolanya itu memanfaatkan air yang telah diberi nutrisi sebagai media tumbuh sehingga berbagai jenis sayuran seperti kangkung, bayam, sawi pakcoy, dan selada air dapat tumbuh subur.

Pertanian hidroponik dengan skala besar di Kota Curup yang dikembangkannya, sejak 2,5 bulan lalu, kata Aril, sudah dua kali panen.

"Kalau luasan lahannya berukuran 20 x 30 meter dengan konstruksi bangunan rangka baja dan rak-rak tempat netpot tanamannya didatangkan langsung dari Jawa, untuk mesin airnya juga dari luar, dan atap plastiknya diimpor dari Turki," ujarnya.

Pada setiap rak tempat aneka tanaman ini berisi setiap jenis sayuran hingga 1.600 netpot atau kantong (cup), dan saat ini setidaknya sudah ada lima rak sehingga jumlah tanamannya mencapai 8.000 netpot.

"Untuk kangkung kami jual per netpot Rp1.000, kemudian sawi pakcoy per netpot seberat 100 gram Rp3.000, kemudian selada merah juga Rp3.000 per netpot, sedangkan untuk bayam Rp5.000 per empat netpot," ujar Aril.

Sayuran yang ada di kebun hidroponik yang dikelolanya itu, kata Aril, selain memanfaatkan benih yang berasal dari dalam negeri, juga benih dari Malaysia, kemudian aneka sayuran ini mereka pasarkan secara daring maupun pembeli datang sendiri ke kebun itu serta dikirim ke pasar dalam Kota Curup.

Jimi, seorang pembeli yang ditemui, mengaku sengaja datang ke tempat itu untuk membeli sayuran dari kebun hidroponik yang ada di wilayah itu, juga sekalian ingin belajar membuat usaha serupa.

"Sekalian beli dan belajar bagaimana cara membuatnya, siapa tahu nanti ini bisa kami buat di rumah," kata Jimi pula.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bengkulu hidroponik organik

Sumber : Antara

Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top