Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Banyuasin Tingkatkan Nilai Tambah Komoditas Kelapa

PT Sei Sembilang, BUMD milik Pemkab Banyuasin, akan bekerja sama dengan PT Agri Lestari Nusantara untuk mengolah sabut kelapa yang selama ini hanya menjadi limbah hasil panen kelapa.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  20:19 WIB
Pabrik pengolahan sabut kelapa di Kabupaten Lampung Timur. - Istimewa
Pabrik pengolahan sabut kelapa di Kabupaten Lampung Timur. - Istimewa

Bisnis.com, PALEMBANG – Pemerintah Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan, mendorong peningkatan nilai tambah komoditas kelapa melalui kerja sama dengan pabrik pengolahan kelapa.

Nantinya, PT Sei Sembilang, BUMD milik Pemkab Banyuasin, akan bekerja sama dengan PT Agri Lestari Nusantara untuk mengolah sabut kelapa yang selama ini hanya menjadi limbah hasil panen kelapa.

Bupati Banyuasin Askolani mengatakan Banyuasin merupakan daerah penghasil kelapa terbesar di Sumatra Selatan.

“Tingginya produksi kelapa ini, selama ini tidak diiringi dengan sentuhan teknologi sehingga sabut kelapa sisa ekspor hanya terbuang tanpa bisa dimanfaatkan,” katanya dalam keterangan resmi pada Rabu (5/8/2020).

Menurut dia, saat ini pihaknya melakukan penjajakan dengan PT Agri Lestari Nusantara yang memiliki pabrik pengolahan sabut kelapa di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Pihaknya pun berharap setelahnya hilirisasi kelapa juga dapat berjalan di pabrik kelapa yang telah dibangun di Desa Teluk Payo, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin.

Sementara itu, Direktur PT Sei Sembilang, Ardiansyah, mengatakan kerja sama dengan PT Agri Lestari Nusantara bakal membuat sabut kelapa menjadi bernilai.

“Masyarakat kita selama ini cuma jual dalam bentuk bahan mentah, sabut kelapa sisa dijual itu cuma dibuang. Setelah diolah harapannya bisa berorientasi ekspor,” katanya.

Peluang tersebut, kata Ardiansyah, cukup besar mengingat bahan baku tersedia sangat banyak. “Ini bisa menjadi sumber PAD [pendapatan asli daerah] baru dan bisa menyerap tenaga kerja bagi masyarakat Banyuasin,” kata Ardiansyah.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Banyuasin, Aidil Fitri, mengatakan luas perkebunan kelapa mencapai 48.053 hektare dengan produksi sebanyak 46.496 ton. Kebun tersebut dimiliki oleh 33.779 kepala leluarga (KK).

Aidil mengatakan produksi tersebut masih bisa ditingkatkan, mengingat dari 48.053 ha luas perkebunan kelapa, masih ada 2.813 ha tanaman yang akan mulai menghasilkan atau belum menghasilkan.

Sentra Kelapa Banyuasin, kata Aidil, tersebar di 21 kecamatan, tetapi luas lahan terbesar berada di Kecamatan Banyuasin II yang mencapai 8.855 ha, Makartijaya 7.128 ha, Muara Sugihan 6.490 ha, Muara Padang 5.161 ha, Sumber Muara Telang 5.711 ha, Air Kumbang 2.911 ha, Pulau Rimau 3.633 ha, dan Muara Telang 2.823 ha.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumsel, kelapa masuk dalam 10 komoditas ekspor nonmigas andalan Sumsel. “Jika melihat per Oktober 2019 lalu, kelapa menduduki peringkat kesembilan dengan nilai ekspor mencapai US$2,51 juta.”

Dia menjelaskan ekspor yang mayoritas merupakan kelapa bulat itu berkontribusi sebesar 0,47 persen terhadap total nilai ekspor nonmigas Bumi Sriwijaya.

Dari data yang sama, lanjut Aidil, penghasil buah terbesar di Sumsel, tersebar di Kabupaten Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ulu, dan Musi Rawas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumatra selatan kelapa
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top