Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Terkontraksi, Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Minus 1,37 Persen

Dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian Sumatra Selatan mulai terpampang jelas di angka pertumbuhan ekonomi Kuartal II/2020 yang terkontraksi sebesar -1,37 persen secara year on year. Bahkan jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, kontraksi tercatat lebih besar -2,30 persen.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  20:00 WIB
Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih. istimewa
Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih. istimewa

Bisnis.com, PALEMBANG - Dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian Sumatra Selatan mulai terpampang jelas di angka pertumbuhan ekonomi kuartal II/2020 yang terkontraksi sebesar -1,37 persen secara year on year (yoy). Bahkan jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, kontraksi tercatat lebih besar -2,30 persen.

Padahal, Bumi Sriwijaya selama tiga bulan pertama tahun ini sempat berbangga hati dengan angka pertumbuhan tertinggi di Pulau Sumatra, yakni sebesar 4,98 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel menampilkan biang kontraksi pertumbuhan ekonomi Sumsel ada di semua komponen pengeluaran. Mulai dari ekspor barang dan jasa, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB), konsumsi pemerintah, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) hingga konsumsi rumah tangga. 

Komponen konsumsi rumah tangga yang tercatat -6,69 persen ditengarai paling berpengaruh signifikan terhadap kontraksi pertumbuhan ekonomi Sumsel. Pasalnya, komponen tersebut mencakup 62,44 persen dalam struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi tersebut.

Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengatakan konsumsi rumah tangga merupakan indikator daya beli masyarakat. “Semua kelompok pengeluaran terkontraksi, terutama konsumsi rumah tangga ini juga sejalan dengan laju inflasi kita yang bulan lalu pun deflasi,” katanya, Rabu (5/8/2020).

Dalam sortiran BPS, masyarakat di Sumsel tampaknya memang mengurangi belanja hampir di semua sektor. Hanya konsumsi untuk sektor kesehatan, komunikasi, pendidikan, barang pribadi dan jasa perorangan, perumahan, air, listrik, gas  yang tumbuh positif.

“Sementara untuk transportasi, rekreasi, hingga pakaian menurun. Ya gimana mau beli pakaian, sekarang masyarakat mikirin makan dulu,” katanya.

Adapun untuk investasi yang mempunyai andil cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi Sumsel juga menurun. Menurut Endang, hal tersebut tidak terlepas dari seretnya realisasi belanja modal  pemerintah yang merosot 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala Perwakilan BI Sumsel Hari Widodo mengatakan realisasi pertumbuhan ekonomi Sumsel kuartal II/2020 ternyata lebih dalam dibanding proyeksi bank sentral.

“Prediksi kami Sumsel bisa tumbuh positif namun ternyata realisasinya Sumsel ikut terkontraksi, seperti nasional. Namun kita patut bersyukur bahwa angka kontraksi ini lebih rendah ketimbang nasional,” terangnya kepada Bisnis.

Menurut Hari, sudah seharusnya pemerintah daerah dan pihak terkait mulai menjaga konsumsi rumah tangga agar tak terjun lebih dalam.

“Bicara konsumsi ini tentu berkaitan dengan daya beli masyarakat, kemampuan mereka untuk memperoleh pendapatan, makanya harus ada program dari pemerintah agar masyarakat bisa dapat income di masa pandemi,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

palembang bps Pertumbuhan Ekonomi sumsel
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top