Ini Tantangan Ajak Perusahaan di Daerah jadi Emiten versi BEI Riau

Bursa Efek Indonesia Perwakilan Riau mengakui ada kendala tersendiri untuk memboyong perusahaan di Bumi Lancang Kuning agar mau go public.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  16:08 WIB
Ini Tantangan Ajak Perusahaan di Daerah jadi Emiten versi BEI Riau
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, PEKANBARU—Bursa Efek Indonesia Perwakilan Riau mengakui ada kendala tersendiri untuk memboyong perusahaan di Bumi Lancang Kuning agar mau go public. 

Kepala BEI Riau Emon Sulaeman menyampaikan sejauh ini belum ada calon emiten di dalam pipeline bursa di sana.

Pipeline sampai sekarang belum ada. Sebetulnya 2019 itu ada 2 yang sempat masuk. Tapi kemudian mengundurkan diri, bisa jadi mungkin pada saat itu ada data yang belum komplit. Sampai saat ini belum ada kabar lagi kapan mau go public,” kata Emon di Pekanbaru, Kamis (13/2/2020).

Namun demikian, Emon mengungkapkan untuk di luar Jakarta sudah ada beberapa calon emiten yang masuk ke dalam pipeline calon emiten bursa seperti dari Kalimatan, Surabaya, Bali, dan Medan.

Pada awal bulan ini, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan sudah ada 30 calon emiten yang masuk dalam pipeline. Sejak awal tahun per 12 Februari 2020, terdapat 12 emiten anyar di lantai bursa.

Lebih lanjut, Emon berharap perusahaan yang sempat masuk dalam pipeline BEI Riau pada tahun lalu bisa masuk lagi, sehingga emiten asal Bumi Melayu akan lebih ramai di bursa. 

Saat ini, baru ada satu perusahaan tercatat yang berasal dari Riau yaitu PT Bima Sakti Pertiwi Tbk. yang melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering) pada Juni 2019 dengan total dana dihimpun Rp62,5 miliar. 

TANTANGAN DAERAH

Emon mengatakan salah satu tantangan untuk mengajak perusahaan di daerah menjadi perusahaan tercatat adalah status perusahaan yang dimiliki oleh keluarga.

“Kesulitan di daerah adalah banyaknya perusahaan keluarga. Di Riau ada perusahaan besar tapi dimiliki oleh keluarga yang juga keluarga besar,” tuturnya.

Menurutnya, pengambilan keputusan untuk menjadi perusahaan terbuka tidaklah mudah bagi pemilik perusahaan di daerah.

Kebanyakan dari keluarga pemilik bisnis itu akan mempertahankan kepemilikannya dengan meminta keturunannya yang mengambil alih bisnis ketimbang menyerahkannya kepada profesional.

Namun, yang terjadi biasanya para anak-anak dari pengusaha tersebut tidak ingin melanjutkan usaha orang tuanya. Dengan begitu, pada generasi ketiga dan selanjutnya nanti perusahaan akan kehilangan eksistensinya.

“Kalau tidak mau go public, perusahaannya ya tidak akan eksis lagi. Tapi di daerah, biasanya generasi berikutnya dipaksa untuk mengurus. Kan banyak yang anaknya lulusan apa dipaksa ngurus bisnis keluarganya,” jelas Emon.

Padahal, Emon menegaskan, selain mendapatkan pendanaan lewat dana publik di pasar modal, perusahaan tercatat juga memiliki keuntungan dikelola oleh profesional yang akan terus mengembangkan usaha tersebut.

Selain polemik usaha keluarga, tantangan lain disebutnya juga berasal dari kesiapan perusahaan dalam pelaporan keuangan yang belum akuntabel.

Kata Emon, beberapa perusahaan di Provinsi Riau masih harus membenahi laporan keuangannya apabila benar-benar ingin menjadi emiten. Untuk membantu hal itu, BEI Riau pun menyediakan fasilitas lewat IDX Incubator yang dapat mempertemukan calon emiten dengan Kantorn Akuntan Publik (KAP) serta jasa penunjang pasar modal lainnya.

“Potensinya cukup besar, tapi kembali lagi ke mindset-nya. Buat kami, targetnya bisa mengedukasi perusahaan-perusahaan di Riau agar bisa memanfaatkan dana publik karena dana perbankan cukup terbatas,” tutur Emon.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bei, riau

Editor : Ajijah
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top