Chevron dan Lahirnya Master Plan Riau 2020

Pada 5 Mei 2003, Provinsi Riau pernah melahirkan sebuah rencana induk (master plan) pembangunan. Dokumen itu disebut sebagai Master Plan Riau 2020.
Media Digital
Media Digital - Bisnis.com 04 Desember 2019  |  21:57 WIB

Bisnis.com, RIAU -- Pada 5 Mei 2003, Provinsi Riau pernah melahirkan sebuah rencana induk (master plan) pembangunan.

Dokumen itu disebut sebagai Master Plan Riau 2020. Dokumen tersebut terdiri dari 22 buku rencana strategis guna mendukung terwujudnya Riau sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara.

Rencana induk tersebut merupakan hasil rancangan bersama antara Pusat Penelitian Industri dan Perkotaan (PPIP) Universitas Riau, konsultan dari Hongkong PT Townhall International, dan Tim Dukungan Teknis Penyusunan Rencana Induk Provinsi Riau 2020 yang dibentuk oleh Pemprov Riau.

’’Ketika itu, biaya pembuatan master plan tersebut mencapai US$ 1 juta, yang dibiayai oleh pihak swasta PT. Caltex Pacific Indonesia (sekarang bernama PT. Chevron Pacific Indonesia, Red.),’’ tutur Dr drh. H. Chaidir M.M., mantan Ketua DPRD Riau periode 1999-2004 dan 2004-2008.

Serah terima dokumen Rencana Induk Riau 2020 dilakukan oleh Presiden Direktur PT. Caltex Pacific Indonesia (PT CPI) Humayunbosha kepada Gubernur Riau kala itu, Saleh Djasit, dalam sebuah acara di Kantor Gubernur Riau. Ide penyusunan rencana induk tersebut pertama kali dicetuskan oleh Gubernur Riau.

’’Kemitraan seperti itu merupakan salah satu contoh bagaimana industri hulu migas memberikan kontribusi dan mewarnai perkembangan perkembangan daerah,’’ lanjut Chaidir seperti yang pernah terbit di Koran Tribun Pekanbaru beberapa waktu yang lalu.

"Banyak yang telah diperbuat oleh Chevron. Ada yang di bidang infrastruktur, bidang pendidikan melalui pemberian beasiswa bagi anak-anak Riau, termasuk inisiatif untuk mendirikan Politeknik Caltex Riau (PCR) yang kini sudah mandiri dan mencetak berbagai prestasi nasional," jelas Chaidir.

Selain itu, kehadiran industri hulu migas juga membuka lapangan pekerjaan dan peluang bisnis bagi masyarakat lokal.

Buka Akses Wilayah di Riau

Wartawan senior Muslim Kawi juga memberikan kesan yang senada. Dia mencontohkan, akses antara bagian barat dan timur Pulau Sumatra mulai terbuka setelah dibangunnya Jembatan Siak I pada 1970-an.

Untuk pekerjaan konstruksi jembatan, PT CPI menunjuk PT. Leighton Indonesia Construction Company sebagai pihak kontraktor pelaksana.

PT. Leighton merupakan sebuah perusahaan konstruksi asal Australia.

Semenjak penemuan lapangan minyak Minas dan Duri pada tahun 1940-an, pengembangan wilayah operasi dan pembangunan fasilitas migas turut membuka akses ke berbagai daerah di Riau.

Jalan Pekanbaru-Dumai, misalnya, dulu merupakan jalan yang khusus dibangun untuk mendukung operasi migas.

Begitu juga dengan Kota Dumai yang berkembang seiring pembangunan pelabuhan untuk pengapalan maupun pengilangan minyak mentah.

"Infrastruktur yang dibangun PT CPI masih digunakan dan dirasakan manfaatnya hingga sekarang,’’ ucap pria yang telah berkecimpung di dunia wartawan selama lebih dari 60 tahun itu.

Ke depan, Muslim Kawi berharap agar kontribusi industri hulu migas tetap dijaga sehingga masyarakat Riau terus merasakan manfaat dari industri ini.

PT CPI merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dari Pemerintah Indonesia yang mengoperasikan Blok Rokan di Riau dan mengelola aset-aset milik negara di industri hulu migas.

PT CPI bekerja di bawah pengawasan dan pengendalian SKK Migas. Dengan inovasi dan komitmen karyawan yang sangat terampil dan berdedikasi, PT. CPI menjadi salah satu produsen minyak mentah terbesar di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan energi dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Informasi lebih lanjut mengenai operasi PT. CPI di Indonesia dapat diakses melalui www.indonesia.chevron.com .

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
chevron

Editor : Media Digital
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top