Hasil Riset UNRI, Gambut di Pulau Kecil Rawan Terbakar

Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Riau (PSB LPPM Unri) mengkaji risiko kekeringan gambut di Pulau Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.
Arif Gunawan
Arif Gunawan - Bisnis.com 06 November 2019  |  15:22 WIB
Hasil Riset UNRI, Gambut di Pulau Kecil Rawan Terbakar
Lahan gambut. - Antara

Bisnis.com, PEKANBARU -- Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Riau (PSB LPPM Unri) mengkaji risiko kekeringan gambut di Pulau Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Peneliti PSB LPPM Unri Dr Besri Nasrul menyatakan pihaknya telah mengkaji kaitan antara kapasitas lahan gambut pulau menyimpan air dan tingkat kerawanan kekeringan yang berimplikasi peningkatan kerawanan kebakaran.

Berbasis hasil penelitiannya di Pulau Tebing Tinggi, Besri mengungkapkan bagaimana aktifitas manusia dalam 20 tahun terakhir telah menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap kapasitas lahan gambut pulau ini dalam menyimpan air.  

“Sayang sekali keseimbangan neraca ini sekarang sudah sangat terganggu. Banyaknya kanal yang dibangun membelah sub-KHG yang memiliki lapisan gambut tebal telah merusak struktur kubah-kubah gambut yang ada,” ujarnya Rabu (6/11/2019).

Hal ini mengakibatkan kapasitas kubah-kubah gambut dalam menyerap dan menyimpan air menyusut drastis.

Dalam kondisi alaminya, kubah-kubah gambut dapat menyerap dan menyimpan air hujan sehingga menjaga kebasahan gambut selama 2,79-2,85 bulan setelah musim hujan, sehingga gambut tidak pernah kering. Sebaliknya, dalam kondisi saat ini kemampuan ini berkurang hingga hanya sekitar 1,82-1,88 bulan saja.

Dari kondisi itu bila terjadi badai El Nino, tingkat kerawanan kebakaran akan melonjak dengan cepat, karena gambut dengan cepat mengering. Kemudian dampak lanjutannya kerhutla tersebut akan sulit dipadamkan karena tidak tersedia cukup air.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pihaknya memberikan sejumlah saran dan masukan kepada pemerintah serta pengambil kebijakan dalam perlindungan gambut.

"Langkah strategis pertama adalah dengan memperluas hamparan lahan yang menjadi kawasan lindung gambut. Jangan hanya melindungi bagian puncak kubah gambut saja, melainkan juga bagian lereng dan kaki kubahnya. Apabila ini ditempuh, maka kelima sub-KHG di pulau ini ditaksir akan dapat menyimpan air untuk menghadapi kekeringan hingga 10-13 bulan," ujarnya.

Kemudian, langkah kedua adalah melakukan penyekatan semua kanal yang ada dalam kawasan lindung gambut yang diperluas tersebut secara sistematis pada titik-titik yang tepat, agar laju pembuangan air dari kubah gambut dapat ditekan hingga serendah mungkin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gambut, riau

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top