Investor Kawasan Industri Batam Perlu Perlakuan Khusus

Penanam Modal Asing (PMA) yang statusnya adalah perusahaan EMS (Elektonics Manufacture Service) dan akibat perang dagang tersebut juga sering mendapatkan pesanan dari customer di Amerika Serikat.
Bobi Bani
Bobi Bani - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  21:05 WIB
Investor Kawasan Industri Batam Perlu Perlakuan Khusus
Suasana pembuatan kapal di galangan kapal Batam, Senin (5/2/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, BATAM — Pemerintah didorong untuk memberikan banyak kemudahan dan insentif kepada semua investor. Tak hanya kepada calon investor yang akan masuk saja, tapi juga investor yang sudah lama menanamkan modalnya di Indonesia, terlebih lagi Banyak yang merupakan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (PBPB).

"Menurut saya, memang jangan hanya investor yang mau relokasi pabrik saja yang diberikan kemudahan untuk mendatangkan barang modal dan bahan bakunya. Tetapi alangkah baiknya, treatment yang serupa diberikan juga kepada existing investor yang akan melakukan perluasan pabrik," kata Wakil Koodinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hioeng, Kamis (10/10/2019).

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China, sejauh ini kata dia belum tahu kapan akan berakhir. Khusus Batam banyak penanam modal asing (PMA) yang statusnya adalah perusahaan EMS (Elektonics Manufacture Service) dan akibat perang dagang tersebut juga sering mendapatkan pesanan dari customer di Amerika Serikat.

Karena itu permudah perizinan di bidang importasi bahan baku dan barang modal, sehingga pesanan-pesanan dari customer di US terus berdatangan. Apalagi Batam bisa memanfaat free trade agreement (FTA) Indonesia Amerika Serikat dengan minimal local content 35 persen.

"Sebagai contoh satu perusahaan asal Hongkong yang relokasi dari China, dalam waktu singkat sudah sukses produksi home appliance khusus untuk pasar US, dengan memanfaatkan FTA kita dengan Amerika Serikat," jelasnya.

Kemudian, dalam beberapa bulan ke depan perusahaan tersebut juga mendapatkan orderan untuk memproduksi home appliance lainnya. Dan diperkirakan awal tahun depan jumlah tenaga kerja dibutuhkan smpai dengan 1.000 orang. Padahal perusahaan itu beroperasi belum genap sembilan bulan tapi perkembangan cukup pesat.

"Ke depan pasti dibutuhkan tambahan barang modal yang mngkin bukan baru (relokasi dari China)," katanya.

Model investor seperti inilah yang HKI Kepri usulkan untuk mendapatkan perhatian khusus dan insentif dari pemerintah sehingga more coming product yang akan dibuatkan di Batam. Sebagaimana diketahui bersama kata dia saat ini negara- negara pesaing juga menawarkan insentif yang sangat menarik.

Dicontohkan seperti Malaysia yang baru-baru ini merilis tax insentif untuk perusahaan baru dengan tarif smpai dengan 5 persen selama 10 tahun. Lalu Thailand juga meluncurkan paket relokasi yang dikenal dengan Thailand Plus dengan skema pengurangan pajak penghasilan sampai 50% dan hibah untuk peningkatan tenaga kerja.

"Vietnam juga memberikan banyak kemudahan dan kenyaman dalam berusaha sehingga tidak heran 26 relokasi China masuk ke Vietnam," katanya.

Padahal negara tersebut sudah mendapatkan limpahan akibat perang dagang, tapi mereka tidak henti-hentinya memanjakan investor dengan skema yang sangat menarik. Selain dari insentif perpajakan, pemerintah juga harus mampu mendatangkan perusahaan Global Supply Chain di Batam. Apalagi kebanyakan bahan baku PMA di Batam di datangkan dari China supaya lebih kompetitif karena cost of logistics Batam ke Singapore terbilang cukup mahal.

"Saatnya kita bangkit dan jangan hanya menjadi penonton saja. Its a time for the sleeping giant to wake up. Kita optimis bahwa perbaikan demi perbaikan regulasi yang terus dilakukan pemerintah akan mendatangkan hasil yang positif," katanya. (K41)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batam, perang dagang AS vs China

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top