Indonesia Ingin Jadi Pemain Ganda di Industri Aviasi Global

Pemerintah Bermaksud menjadikan Indonesia pemain ganda dalam industri aviasi global.
Bobi Bani
Bobi Bani - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  17:30 WIB
Indonesia Ingin Jadi Pemain Ganda di Industri Aviasi Global
Sejumlah kerjasama industri aviasi digelar di Batam

Bisnis.com, BATAM-Pemerintah Bermaksud menjadikan Indonesia pemain ganda dalam industri aviasi global.

Hal itu dibuktikan dengan sejumlah kerjasama yang dilakukan. Mulai dari kerja Sama pengembangan maintenance repair and overhaul (MRO) antara Batam Aero Technic (BAT) dengan Garuda Maintenance Facility (GMF).

Selanjutnya pengembangan Pabrik Vulkanisir Ban antara BAT, GMF, dan Michelin.

Serta Pusat Pendidikan dan Pelatihan Aviasi antara BAT, GMF, dan Aircraft Maintenance Training Organization (AMTO).

Wujud keseriusan pemerintah dalam upaya memaksimalkan potensi ekonomi dari sektor perawatan pesawat dan memperkaya kualitas SDM di bidang penerbangan hingga mampu berkompetisi di kancah internasional.

Penandatangan yang dilakukan di kawasan Bandara Internasional Hang Nadim Batam pada Rabu (14/8)ini juga dibarengi dengan peresmian dan pembukaan Politeknik Kirana Angkasa; fasilitas bengkel pesawat; peletakan batu pertama pembangunan Hanggar Tahap III oleh BAT; dan pembangunan Hanggar Joint Venture BAT-GMF.

Hadir dalam acara tersebut, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution menuturkan, rencana kerja sama yang melibatkan lintas BUMN dan pihak swasta ini sejatinya sudah dibicarakan sejak beberapa tahun belakangan. Utamanya menghadirkan terobosan yang skalanya menyangkut persaingan antar negara yang memang terus didorong pemerintah.

"Kalau kelasnya nasional saja, gak usahlah. Kalau berani kelasnya regional yang harus ada kerja sama. Oleh sebab itu apa yg kita saksikan ini adalah perwujudan apa yang kita harapkan sejak beberapa tahun lalu," kata Darmin dalam kegiatan tersebut.

Darmin melanjutkan, ada banyak hal yang bisa didapat Indonesia ketika berhasil melakukan kerja sama semacam ini. Tidak hanya di industri penerbangan saja, tapi juga untuk industri lainnya. Generasi Indonesia bisa memperkaya diri dan menonjolkan kualitas sebagai bangsa.

Untuk industri aviasi sendiri, Darmin menjelaskan bagaimana pemerintah berupaya membangun industri untuk jangka menengah panjang. Dalam waktu dekat, kata Darmin, pemerintah akan mulai menelusuri bagaimana biaya maskapai penerbangan itu terbentuk, lalu diupayakan untuk mengefisienkannya. 

"Kalau dulu kita bagian objek dari negaa lain, tapi sekarang juga bisa menjadi pelaku. Pemerintah juga berkorban untuk itu, supaya bisa menyelamatkan industri pesawat kita, kita juga ingin bersaing dengan negara lain," kata Darmin.

Industri MRO adalah satu keniscayaan bagi setiap bangsa dan wilayah yang menekankan pada industri aviasi. Dimana biaya paling besar dalam pengembangan maskapai adalah biaya operasional termasuk di dalamnya biaya maintenance. Indonesia, kata Darmin, baru mampu meraih sekitar 35 persen dari maintenance pesawat. Sisanya masih dioptimalkan oleh negara tetangga Singapura.

"Maintenance ini contohnya menyangkut bukan hanya industri pesawat terbang, misalnya turbin, persis sama dengan turbin pembangkit listrik tinggal kapasitasnya saja yang berbeda. Kalau bisa merawat turbin pesawat pati bisa merawat turbin pembangkit listrik, kita punya turbin pembangkit listrik dari barat ke timur, kembali lagi rumusnya kita rawat hanya sepertiga, sisanya dirawat di tempat lain," kata Darmin lagi.

Sementara itu, Direktor GMF Aero Asia, Tazar Marta Kurniawan menjelaskan, sejalan dengan keinginan pemerintah, GMF telah menginvestasikan perawatan engine pesawat dan komponen landing gear, yang akan dikerjasamakan dengan perawatan lainnya bersama BAT.

Perawatan pesawat ini akan diarahkan lebih banyak lagi pengembangannya di Batam. GMF sendiri sudah memiliki kemampuan untuk perawatan engine untuk pesawat jenis 737 NG dan Airbus 320

Berkembangnya industri MRO dinilai akan banyak menimbulkan multi player effect. Dengan semakin banyak pesawat, bukan cuma teknisi yang mendapat banyak pekerjaan, tapi juga dari sektor cleaning, security, dan sektor lain juga akan semakin bertambah.

Sejalan dengan itu, Lion Group yang juga mengembangkan sektor pendidikan yang akan mencetak SDM yang mumpuni di industri penerbangan. Hal itu tidak hanya akan menghadirkan keyakinan akan semakin berkembangnya industri penerbangan di Indonesia. 

Pada prosesnya, kerja sama yang dilakukan GMF dan BAT ini secara total akan menyerap sebanyak 2.783 tenaga inti teknisi dalam lima tahun ke depan. Dimana ada 653 manpower dalam kerja sama tersebut, di sisi lain BAT juga akan melakukan ekspansi di luar kerja sama tersebut.

Presiden Direktur Batam Aero Teknik I Nyoman Rai Pering menuturkan, jika kerja sama ini bisa berjalan baik dan lancar. Dalam jangka waktu 10 tahun SDM di sektor penerbangan Indonesia akan mampu berkompetisi tidak hanya di dalam negeri saja, lebih dari itu mereka juga akan menjadi daya tarik bagi industri MRO yang ada di luar negeri, utamanya dari negara-negara di Timur Tengah. 

Saat ini peluang tersebut juga sudah mulai dibaca oleh negara tetangga lainnya seperti Malaysia dan Filipina yang juga memperkaya SDM mereka untuk bisa bekerja di Timur Tengah.

Untuk kerja sama ini sendiri, Nyoman memperkirakan bisa menyerap 10 ribu tenaga yang punya skill sesuai standar internasional.

"Kalau kita ngomong aviation itu standarnya adalah internasional. Kita juga tidak memungkiri kalau meeka sudah berkarya di lapangan, ini adalah skill yang punya added value luar biasa dan akan dilirik oleh MRO lain di luar negeri, terutama di Midle East karena di sana mereka tidak tertarik bekerja di MRO, mereka maunya di service yang clean," kata Nyoman.

Darmin menambahkan, pemerintah Indonesia sejayinya bertekad memulai mengembangkan pendidikan dan pelatihan vokasi mulai tahun 2020 mendatang. Saat ini pendidikan untuk guru-guru yang nantinya akan mengajar di vokasi sudah mulai dididik, seperti yang ada di Batam ini. Pendidikan vokasi ini, diharapkan tidak hanya memberikan satu sertifikat saja untuk para lulusannya. Dengan beberapa kompetensi yang dimiliki, lulusan vokasi ini pasti akan diperlukan.

"Itu sebabnya vokasi itu dikaitkan secara langsung dengan industrinya seperti MRO di penerbangan," kata Darmin lagi.

Presiden Direktur Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra menjelaskan, saat ini Malaysia dan Thailand tengah bersiap menyambut pertumbuhan industri penerbangan di kawasan ASEAN. Hingga 2028 mendatang diperkirakan pertumbuhan armada pesawat di Indonesia sebanyak 1.263 armada.

"Ke depan akan ada pertumbuhan di asia ini kurang lebih tiga kali lipat dari yang ada sekarang. Indonesia saya perkirakan akan tumbuh 28,5 persen. Otomatis biaya MRO juga akan tumbuh sembilan persen, saat in kita mengoptimalkan 250 juta dari total 2 miliar dolar (USD 2  miliar) yang keluar untuk biaya MRO," kata Ngurah.

Hadirnya pengembangan industri aviasi melalui kerja sama banyak pihak ini, diharapkan bisa membuat Indonesia bisa meraih lebih banyak manfaat ekonomi. Bersama Lion Group, GMF punya masterplan untuk industri penerbangan seluas sekitar 30 hektar di Batam yang telah disetujui. Kondisi tersebut diyakini ini akan bisa menggaet pasar regional yang sudah berkeinginan merawat pesawatnya di Indonesia

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aviasi, batam

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top