Pemulihan Gambut di Sumsel Telan Biaya Rp92 Miliar

Badan Restorasi Gambut atau BRG mencatat restorasi gambut di Sumatra Selatan memerlukan biaya sebanyak Rp92 miliar sepanjang tahun ini.
Pemulihan Gambut di Sumsel Telan Biaya Rp92 Miliar Dinda Wulandari | 22 Mei 2019 14:27 WIB
Pemulihan Gambut di Sumsel Telan Biaya Rp92 Miliar
Helikopter MI-17 milik BNPB melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut dari udara (water bombing) di Desa Lebak Deling, Pangkalan Lampam, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, Kamis (3/8). - ANTARA/Nova Wahyudi

Bisnis.com, PALEMBANG – Badan Restorasi Gambut atau BRG mencatat restorasi gambut di Sumatra Selatan memerlukan biaya sebanyak Rp92 miliar sepanjang tahun ini.

Deputi I BRG Budi S Wardhana mengatakan dana tersebut dibutuhkan untuk pemulihan enam kesatuan hidrologis gambut (KHG) di sejumlah daerah yang telah dipetakan pihaknya.

“Restorasi itu mencakup tahapan pembasahan (rewetting), penanaman kembali (revegetasi) dan revitalisasi pada enam KHG yang kami pantau rusak parah,” katanya baru-baru ini.

Menurut Budi biaya tertinggi diserap oleh tahapan revegetasi yang mencapai Rp76 miliar lebih untuk penanaman kembali kawasan-kawasan yang rusak karena terbakar.

Adapun enam KHG yang menjadi target restorasi itu, meliputi KHG Sungai Musi-Sungai Blindah di Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Muaraenim, KHG Sungai Musi-Sungai Aek Lematang di tiga kabupaten yakni Banyuasin, Muaraenim, Penukal Abab Lematang Ilir.

Kemudian, KHG Sungai Musi-Sungai Penukal di Kabupaten Banyuasin dan Penukal Abab Lematang Ilir, KHG Sungai Penukal dan Sungai Abab di Banyuasin dan Penukal Abab Lematang Ilir, KHF Air Bayuasin-Air Lilin di Kabupaten Banyuasin, dan KHG Sungai Medak-Sungai Lalan di Kabupaten Musi Banyuasin.

Berdasarkan Rencana Program restorasi gambut di Sumatra Selatan pada 2019, BRG menambah sebanyak 40.000 hektare karena didapati fakta bahwa terjadi penambahan luas area yang rusak.

Sebelumnya, BRG menggunakan peta gambut yang lama untuk memulihkan lingkungan setelah kebakaran hutan dan lahan hebat pada 2015.

Target penambahan ini diharuskan rampung pada akhir 2020 karena sebelumnya hanya ditargetkan 168.000 hektare hingga 2023.

Dengan begitu, total gambut yang direstorasi di 7 provinsi itu yakni seluas 2,67 juta hektare dari sebelumnya 2,42 juta ha. Sehingga totalnya ada penambahan luasan 200.000 ha.

“Penambahan ini harus dilakukan, karena jujur saja, pemulihan yang dilakukan belum mampu mengejar degradasi lingkungan yang terjadi,” katanya.

Menurut Budi, pekerjaan restorasi lahan gambut ini bukan perkara mudah mengingat keberadaan lahan gambut yang umumnya di kawasan remote area.

Seperti ekosistem gambut di Sumsel yang tercatat seluas 1,2 juta ha yang tersebar di sejumlah daerah, selain OKI lahan gambut juga berada di Kabupaten Ogan Ilir, Banyuasin, Muara Enim, Musi Banyuasin, Musi Rawas dan Pali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel, Badan Restorasi Gambut

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top