Sumsel Diminta Tingkatkan Ekspor Produk Olahan

Ekspor produk dari industri pengolahan di Sumatra Selatan diharapkan dapat lebih menggeliat sehingga tak melulu bergantung pada ekspor bahan mentah berbasis sumber daya alam.
Dinda Wulandari | 15 April 2019 15:12 WIB
Buruh mengecek lembaran karet yang baru saja dicetak di pabrik pengolahan karet Perusahaan Daerah Citra Mandiri Jawa Tengah (PD CMJT), Tlogo, Tuntang, Kabupaten Semarang, Jateng, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, PALEMBANG – Ekspor produk dari industri pengolahan di Sumatra Selatan diharapkan dapat lebih menggeliat sehingga tak melulu bergantung pada ekspor bahan mentah berbasis sumber daya alam.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, ekspor nonmigas Sumsel masih didominasi hasil bumi yang masih mentah dan setengah jadi, seperti karet, batubara, dan minyak kelapa sawit (CPO).

Karet, misalnya berkontribusi sebesar 35,25%  terhadap ekspor nonmigas pada Januari—Maret 2019 senilai US$296,90 juta dari total US$842,2 juta.

Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengatakan pihaknya mencatat baru ada segelintir produk olahan yang bisa masuk sepuluh besar ekspor nonmigas Bumi Sriwijaya tersebut.

“Kita maunya [ekspor] tidak hanya berasal dari SDA tetapi dari geliat jndustri. Ini yang belum keliatan dari Sumsel, tahun ini baru muncul ekspor kertas tisu yang merupakan turunan dari  industri pulp,” katanya, Senin (15/4/2019).

Endang menjelaskan ekspor kertas tisu yang senilai US$9,69 juta pada Januari – Maret 2019 itu ditujukan ke pasar Korea Selatan dan mayoritas ke Malaysia.

Dia melanjutkan ada pula ekspor pupuk urea senilaiUS$16,16 juta pada periode yang sama.

Ekspor tersebut dilakukan oleh produsen pupuk pelat merah, PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang, dengan tujuan ke sejumlah negara Asean.

Manajer Penjualan Komersil Wilayah 3 PT Pusri Palembang, Leni Misnasari, mengatakan pihaknya melakukan ekspor secara terbatas karena harus memenuhi kebutuhan domestik dahulu.

“Penjualan [ekspor] kami bergantung pada musim tanam di wilayah Asean yang menjadi pasar kami, seperti Vietnam, Filipina, Thailand dan sebagian Australia,” katanya.

Menurut dia, berdasarkan masa tanam itu ekspor urea dari pabrik Pusri bakal mencapai 90.000 ton pada bulan April – Mei 2019.

Diketahui, berdasarkan data BPS, perusahaan juga mengekspor amonia anhidrat yang digunakan untuk keperluan industri di luar negeri.

Sementara itu, Deputi Direktur Bank Indonesia Perwakilan Sumsel, Hari Widodo, mengatakan sebetulnya ekspor komoditas andalan Sumsel sudah mengarah kepada produk turunan.

“Kita bisa lihat sudah ada ekspor urea, ampas sisa industri makanan dan tisu di samping memang masih didominasi komoditas klasik, seperti karet dan batubara,” katanya kepada Bisnis.com.

Menurut Hari, Sumsel sangat berpotensi mengembangkan produk ekspor dari industri kerajinan tangan, seperti kain songket dalam jumlah banyak.

Selain itu adapula komoditas kopi yang selama ini lebih banyak diekspor melalui pelabuhan provinsi tetangga.

Dia menerangkan perekonomian Sumsel memang berdasarkan pada komoditas SDA sehingga tidak bisa ditampik komoditas tersebut akan tetap mewarnai ekonomi di daerah itu.

“Hanya tantangannya bagaimana menciptakan nilai tambah dari komoditas itu dan bisa dinikmati sebagai sumber pertumbuhan baru bagi ekonomi Sumsel,” katanya.

Hari mencontohkan industri pengolahan yang berpotensi dikembangkan di Sumsel,salah satunya pabrik ban vulkanisir dan pabrik pengolahan biofuel yang berbahan baku CPO.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel, industri pengolahan

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top