2018: Investasi Minim, Ekonomi Sumbar Tumbuh Melambat

Laju pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat sepanjang tahun lalu hanya berada pada level 5,14% atau terendah sejak 2009, dan cenderung mengalami perlambatan.
Heri Faisal
Heri Faisal - Bisnis.com 12 April 2019  |  01:56 WIB
2018: Investasi Minim, Ekonomi Sumbar Tumbuh Melambat
Jam Gadang, Bukittinggi

Bisnis.com, PADANG—Laju pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat sepanjang tahun lalu hanya berada pada level 5,14% atau terendah sejak 2009, dan cenderung mengalami perlambatan.

Bank Indonesia menyatakan melambatnya pertumbuhan itu disebabkan turunnya pertumbuhan investasi dan anjloknya kinerja ekspor. Penurunan dua komponen itu juga diikuti melemahnya komsumsi rumah tangga.

“Perlu ada upaya ekstra untuk meningkatkan investasi dan memperbaiki kinerja ekspor, sehingga pertumbuhan ekonomi kembali meningkat,” kata Kepala Bank Indonesia Sumbar Wahyu Purnama A, Kamis (11/4/2019).

Dia memaparkan sepanjang tahun lalu, kinerja ekspor tumbuh negatif atau minus 14,05% yang disebabkan anjloknya harga komoditas cruid palm oil/CPO atau sawit di pasar global. Apalagi, hampir 70% ekspor Sumbar didominasi komoditas sawit.

Begitu juga dengan pertumbuhan investasi yang mayoritas hanya berasal dari realisasi anggaran belanja pemerintah. Minimnya investasi swasta tercermin dari penyaluran kredit yang hanya tumbuh 1,5%, bahkan untuk kredit investasi justruj terkontraksi hingga 15,5%.

“Investasi swasta harus ditingkatkan lagi, untuk memaksimalkan potensi pertumbuhan ekonomi. Termasuk juga mengembangkan sektor lainnya, seperti pariwisata,” katanya.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengakui terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di daerah itu. Namun, demikian, dia menilai ekonomi Sumbar masih tumbuh lebih baik dibanding beberapa daerah lainnya di Sumatra.

Bahkan, pertumbuhan ekonomi Sumbar sebesar 5,14% masih lebih tinggi dari rerata pertumbuhan ekonomi Sumatra yang hanya 4,54%.

Irwan mengatakan sektor pariwisata menjadi prioritas pertumbuhan ekonomi Sumbar di masa mendatang, sehingga dia meminta kebijakan pusat dan daerah yang sinkorn untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata.

“Misalnya soal harga tiket pesawat ini, kami sudah minta berkali – kali [harga yang stabil], karena dampaknya sangat terasa bagi sektor pariwisata,” sebutnya.

Menurutnya, tingginya harga tiket pesawat akan memukul industri pariwisata. Terutama daerah yang baru fokus mengembangkan sektor tersebut, seperti Sumatra Barat.

Sementara itu, untuk investasi, pemerintah setempat membuka peluang yang luas bagi perusahaan asing maupun dalam negeri untuk menanamkan modalnya. Prioritas investasi diberikan di bidang pariwisata, energi terbarukan, infrastruktur, industri pengolahan, dan sektor pertanian dan perikanan.

“Kami sangat terbuka terhadap investasi, bahkan berbagai insentif dan kemudahan dalam pengurusan izin juga sudah dilakukan,” ujarnya.

Adapun, Pemprov Sumbar tahun ini menargetkan masuknya investasi sebesar Rp4,3 triliun ke daerah itu, meningkat dari target tahun sebelumnya yang hanya Rp4,1 triliun.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumbar

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top